Menengok Tradisi Ma’nene Di Toraja

by -299 views

Jakarta, TransparansiIndonesia.com – Masyarakat di kedua kabupaten di Toraja (Tana Toraja dan Toraja Utara) hingga kini masih memelihara tradisi turun-temurun mereka. Salah satunya yakni acara Ma’nene. Ma’nene sendiri adalah sebuah momen ketika keluarga datang mengunjungi makam kerabat mereka yang telah meninggal dunia.

Dalam tradisi Ma’nene, pihak keluarga akan datang ke makam kerabat mereka untuk membersihkan jenazah mereka dan mengisi peti mati dengan barang-barang pribadi orang yang telah meninggal.

Disisi lain, walaupun mayoritas masyarakat Toraja telah menganut agama Kristen, namun hingga kini mereka masih melakukan tradisi leluhur yang berkaitan dengan animisme tersebut.

Bagi masyarakat Toraja sendiri, kematian memang tak pernah berpisah dari kehidupan mereka.

Baca juga:  Acara 'HUT 45 Tahun KKK Mengabdi' Berikan Kesan Yang Indah Bagi Para Dubes Yang Hadir

Kerabat mereka yang dimakamkan ditempatkan dalam peti berwarna-warni dan disemayamkan di rumah mereka selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke pemakaman yang didahului dengan tradisi Rambu Solo’ (acara kematian).

Anggota keluarga bahkan masih berbicara kepada jenazah kerabat mereka, menawari mereka makanan dan minuman serta melibatkan mereka dalam pertemuan keluarga layaknya mereka masih hidup.

Begitu anggota keluarga dianggap siap atau cukup untuk hadir dan memiliki kemampuan finansial, maka sebuah upacara pemakaman Rambu Solo’ dapat dilakukan.

Rambu Solo’ sendiri merupakan perayaan pemakaman yang ditandai dengan persembahan kurban berupa kerbau dan babi serta mengundang seluruh warga desa setempat, antar desa, antar kecamatan bahkan antar kabupaten.

Baca juga:  Angelica Tengker Lakukan Kunjungan Kerja ke Provinsi Riau

Lazimnya, anggota keluarga yang berduka meneteskan air mata ketika peti jenazah kerabat mereka akan dibawa ke lokasi pemakaman yang diiringi oleh tarian Ma’badong (tarian kedukaan).

Peti mati dilukis dengan warna cerah dan diisi dengan pakaian serta barang pribadi jenazah. Peti ditempatkan di makam sempit berupa goa yang diukir di dinding bebatuan.

Tempat pembuatan persemayaman jenazah dipahat berbentuk goa pada tebing-tebing batu. Pembuatan makam untuk jenazah dapat memakan waktu selama tiga hingga enam bulan. (*)

Written by: Alexius Bannetondok