Luhut Panjaitan; “Semua pihak Harus Terlibat Dalam Penanganan Citarum, Siapa yang Menghalangi harus di ‘Sikat’.”

by -206 views

  Jakarta/transparansiindonesia.com – Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan meminta semua pihak terlibat dalam penanganan sungai Citarum. Semua yang menghalangi dan melanggar akan ‘disikat habis’.

   Demikian diungkapkan Luhut saat Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Penataan Sungai Citarum di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (16/1).

Dalam kegiatan itu hadir Menko Polhukam Wiranto, Wagub Jabar Deddy Mizwar, Kasdam III/Siliwangi Brigjen Yosua Sembiring, dan sejumlah kepala daerah di Jabar.

“Masalah Citarum adalah masalah kita semua. Semua harus kompak tidak ada lagi yang disebut orang-orang kuat dan perusahaan bandel,” katanya.

“Kita sikat habis itu semua. Ada saya, ada Pak Wiranto. Jenderal kalau dikumpulin bintangnya banyak. Enggak ada orang-orang kuat,” lanjutnya.

Baca juga:  AMTI Ajak Masyarakat Kawal Penggunaan APBN dan APBD untuk Covid-19

Keberadaan sungai Citarum sangat penting karena menyuplai 80 persen air untuk Jabar dan DKI Jakarta, baik untuk konsumsi maupun pertanian. Namun, saat ini, status Sungai Citarum masih mengkhawatirkan dan masuk dalam kategori terkotor di dunia.

Pencemaran yang terjadi saat ini bisa mengancam kelangsungan hidup generasi muda. Jika tercemar, maka akan berpengaruh pada kualitas sayur, ternak dan ikan karena terkontaminasi limbah.

Itu pula yang membuat Presiden Jokowi menaruh perhatian lebih terhadap sungai Citaru. Bahkan, Jokowi meminta pertengahan Januari sudah dimulai proses revitalisasi dari hulu.

Baca juga:  Polres Metro Jakarta Pusat Tangkap Produsen Tembakau Gorila Cair

“Hasil penelitian ibu-ibu sedang hamil makan (ikan – sayur) yang menggunakan air Citarum itu hampir pasti anaknya kena masalah,” terangnya.

“Ini program bukan untuk kita yang masuk generasi check out, ini penting untuk generasi masa depan,” ucapnya.

Namun, ia menegaskan semua itu tidak akan terwujud jika sistemnya tidak benar. Penanganan yang paling baik adalah semua pihak bersinergi. Dengan begitu, selain membuat upaya makin maksimal, cost yang dikeluarkan pun bisa ditekan.

“Selama ini, upaya penanganan berjalan sendiri-sendiri. Makanya dari sekarang kita harus bekerjasama,” tandasnya.  (red/TI)*