Kejaksaan RI Luncurkan Situs ‘Jaga Negeri’, Begini Manfaatnya

by -193 views

Jakarta, transparansiindonesia.com – Kejaksaan RI meluncurkan situs Jaksa Garda Negeri (Jaga Negeri) sebagai sistem informasi dan deteksi dini dalam rangka menjalankan fungsi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan Dalam Masyarakat (Pakem) di Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se- Indonesia di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Melalui situs tersebut masyarakat dapat melaporkan keberadaan agama dan kepercayaan yang menyimpang serta menimbulkan gejolak sosial. “Kejaksaan berkontribusi dalam menjaga stabilitas nasional dengan menjalankan tugas pengawasan dan menjaga ketertiban umum,” kata Jaksa Agung Muda Intelijen (JAM Intel) Jan S. Maringka.

Maringka mengatakan, kata pengawasan tidak bisa diartikan sebagai bentuk represi negara terhadap keyakinan warganya. Ia menjelaskan bahwa pidana merupakan langkah terakhir atau ultimum remidium yang dilakukan setelah pembinaan dan pengawasan administrasi tidak diindahkan.

Untuk mengantisipasi provokasi yang memanfaatkan isu agama menjelang Pilkada, Pileg dan Pilpres, Korps Adhyaksa meningkatkan intensitas koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Tak ketinggalan, kata Maringka, Kejaksaan juga merangkul majelis dan organisasi keagamaan sebagai bentuk pencegahan dini.

Baca juga:  Peletakan Batu Pertama GKI Yasmin Bogor Merupakan Wujud Kemenangan Toleransi
Didukung Mendagri
  Kejaksaan Agung RI luncurkan situs Jaga Negeri pada Rabu (18/4/2018) di Jakarta.

 

Keberadaan situs Jaga Negeri didukung oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Tjahjo memerintahkan jajarannya untuk berkoordinasi secara intensif dengan Asisten Intelijen di Kejaksaan Tinggi dan Kepala Seksi Intelijen di Kejaksaan Negeri bila menemukan indikasi agama maupun aliran kepercayaan yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Kita harus bekerja sama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Tjahjo.

Waspadai Provokasi Atas Nama Agama

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengatakan, di mata dunia Indonesia merupakan contoh negara yang sukses membina kerukunan antar umat beragama. Ia memberi contoh suku Badui dan umat Hindu di Bromo yang hidup berdampingan dengan damai di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam.

Baca juga:  Moment HUT 45 Tahun KKK Mengabdi, Ajang Promosi Pariwisata dan Budaya Sulawesi Utara

“Jangan sampai kita dijadikan contoh oleh negara lain, tetapi di dalam negeri sendiri kita ribut,” kata Ma’aruf.

Ma’ruf juga mengajak masyarakat Indonesia mewaspadai provokasi yang mengatasnamakan agama. Menurut Ma’ruf, konflik agama seringkali berakar pada masalah politik dan kesenjangan ekonomi yang ditarik menjadi masalah agama.   (red/TI)*