Terkait Ucapan Amien Rais, KPK Semakin Gencar Lakukan Pemberantasan Korupsi

by -503 views

Jakarta, transparansiindonesia.co.id – Masih ingatkah kita pada ucapan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional sekaligus Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni 212, Amien Rais, tentang partai setan dan partai Allah. Amien menyebut PAN, PKS dan Gerindra sebagai kelompok yang membela agama Allah.

“Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan,” kata Amien Rais saat memberi tausiyah usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat, 13 April 2018.

Mentereng banget ya ngakunya. Partai Allah booo…… Sayangnya kelakuan “Partai Allah” ini tak seindah namanya.

Hari ini, Selasa, 30 0ktober 2018, KPK menetapkan elite PAN sekaligus Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan, yang merupakan wakil rakyat dari Dapil Jawa Tengah VII meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen, sebagai tersangka kasus suap berkenaan dengan pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen dalam APBN tahun anggaran 2016, senilai Rp 100 miliar. Taufik diduga membantu Bupati nonaktif Kebumen Yahya Fuad dalam pengurusan DAK Kabupaten Kebumen dengan imbalan uang sekitar Rp3,65 miliar.

Terkait kasus ini, Yahya menceritakan sudah bertemu dua kali dengan Taufik di Semarang dan Jakarta. Dalam pertemuan itu, dibahas tentang kewajiban sebesar 5 persen yang harus diberikan jika DAK sebesar Rp 100 miliar tadi cair. Uang fee itu diberikan dua kali melalui orang suruhan Taufik.

Sebelumnya, Yahya didakwa telah menerima suap sekitar Rp 12 miliar terkait sejumlah proyek di Kabupaten Kebumen sepanjang tahun 2016. Uang suap itu berasal dari para kontraktor yang akan mengerjakan berbagai proyek dana APBD 2016. Atas dasar pengembangan kasus inilah KPK menetapkan Taufik sebagai tersangka.

“KPK tetapkan TK, TK ini Wakil Ketua DPR, sebagai tersangka. TK yang merupakan Wakil Ketua DPR diduga menerima hadiah atau janji. Diduga TK menerima sekurang-kurangnya sebesar Rp 3,65 miliar,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta.

Baca juga:  Suasana Penggeledahan KPK di DPR-Ruang Wakil Ketua Azis Syamsuddin

Atas semua perbuatannya, Taufik disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Nama Taufik juga sempat muncul dalam persidangan kasus dugaan korupsi lain dengan terdakwa pengusaha asal Kebumen, Khayub Muhammad Lutfi, di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu 4 Juli 2018.

Banyak banget ya kasusnya Taufik. Salut dan apresiasi setinggi-tingginya buat tindakan tegas dari KPK yang “tega” menyeret kader “Partai Allah” seperti ini. Great job KPK. Pertahankan dan lanjutkan!!!

Kebusukan “Partai Allah” ternyata tak cuma ini. Sehari sebelumnya, tepatnya kemarin, Senin, 29 Oktober 2018, Gubernur nonaktif Jambi Zumi Zola dalam keterangannya sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, sudah mengakui bahwa pengurus PAN meminta proyek infrastruktur senilai Rp 100 miliar di Jambi. Namun, permintaan itu belum sempat direalisasikan oleh Zumi Zola.

Zumi Zola bercerita bahwa permintaan itu disampaikan kepadanya oleh Asrul Pandapotan Sihotang selaku orang kepercayaan Zumi Zola. Sebelumnya, Asrul lebih dulu diberi tahu oleh Ketua Fraksi PAN di DPRD Jambi, Supriyono.

“Yang sampaikan ke saya Asrul, tapi tidak terealisasi. Proyek senilai Rp 100 miliar yang mana juga saya tidak tahu. Sebenarnya Supriono bisa bilang langsung ke saya, kalau ada acara partai. Padahal jumlahnya besar yang bukan dianggap ringan, tapi dia tidak pernah bilang langsung,” kata Zumi.

Mantap sekali khan kelakuan “Partai Allah” yang satu ini. Doyan suap dan minta-minta proyek yang identik dengan KKN dan suap itu sendiri rupanya ya. Selain itu, mereka juga doyan menghina, menghujat dan menebarkan berita hoax sarat provokasi kebencian pada Jokowi dan pemerintahannya. Padahal selama ini ucapannya selalu sok suci merasa paling benar sendiri. Jokowi dan jajarannya salah terus di mata mereka. Ternyata eh ternyata, doyan duit haram juga mereka.

Akhirnya terjawab juga kenapa kemarin, Senin, 29 Oktober 2018, Amien Rais yang didampingi beberapa temannya mendatangi KPK ingin bertemu dengan Ketua KPK Agus Rahardjo.

“Mau ketemu Agus Rahardjo. Minggir, minggir,” ucap Amien sembil berjalan memasuki lobi KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan sekitar pukul 13:55 WIB dengan mengenakan baju koko putih serta peci hitam. Di sana, Amien rais bertemu dengan pegawai pengaduan masyarakat.

Baca juga:  Soal Tudingan Menurunnya Daya Beli Masyarakat, Jokowi Sebut Itu Sengaja Dihembuskan Lawan Politik

Sayangnya, Amien Rais tak bisa bertemu Agus Rahardjo maupun pimpinan KPK lainnya dikarenakan mereka sedang menghadiri sebuah kegiatan di tempat lain.

Sebelumnya, Amien Rais sempat menuduh Agus Rahardjo telah menjungkirbalikkan keadilan saat mencekal Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan bepergian ke luar negeri.

“Saya mengingatkan langsung Saudara Agus Rahardjo, tolong nanti sampaikan, Anda telah melakukan sebuah penjungkirbalikan yang luar biasa dalam hal menerapkan keadilan,” kata Amien dalam diskusi di DPR. Amien Rais juga mengungkit sejumlah kasus yang telah ditangani KPK. Amien Rais meminta KPK tak tebang pilih dalam mengungkap kasus korupsi.

Jika saya analogikan secara sederhana, jalan cerita yang seperti ini sama saja dengan Amien Rais sedang melempar rumah orang lain dengan batu, akhirnya batu itu malah berbalik memecahkan kaca rumah Amien Rais sendiri.

KPK yang sejak awal sudah mengingatkan kepada Amien Rais bahwa KPK adalah institusi independen yang tidak bisa diintervensi siapapun juga, akhirnya benar-benar menjalankan permintaan Amien Rais agar tidak tebang pilih dalam mengungkap kasus korupsi dengan menjadikan kader “Partai Allah” bernama Taufik Kurniawan sebagai terdakwa kasus korupsi. Good job KPK!!!

Dan ngomong-ngomong soal “mengingatkan” seperti yang sudah dilakukan Amien Rais pada KPK, sayapun jadi ingin mengingatkan kembali pada sesepuh “Partai Allah” yang terhormat dan yang mulia Bapak Amien Rais tentang sebuah janji, “Pak Amien, daripada dirimu bersusah payah mengingatkan KPK, lebih baik dirimu mengingatkan kembali dirimu sendiri pada nazarmu berjalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta jika Jokowi terpilih menjadi Presiden RI di Pilpres 2014 lalu. Sudah 4 tahun janji itu belum kau tepati sampai sekarang. Mungkin dirimu benar-benar lupa atau pura-pura lupa. Makanya saya ingatkan kembali Bapak.”

Akhirnya terbukti dengan sendirinya siapa yang suka menjungkirbalikkan keadilan. Ujung-ujungnya jungkir balik sendiri dia menghadapi keadilan Tuhan. Gusti ora sare.

 

(red)*