Simpatisan 212, yang Juga Suami Anggota Bawaslu ini Panik Ketakutan

by -897 views

Jakarta, transparansiindonesia.co.id – Setelah dibongkar oleh salah seorang penulis Seword, Nafys, ahli forensic cyber yang termasyhur di Indonesia, Sofyan Farid Lembah terkena serangan panik. Kepanikan yang dipertontonkan itu sudah jelas-jelas begitu terlihat.

Ribuan share dan ratusan ribu mata sudah memandang kepada sosok pendukung 212, Sofyan Farid, yang merupakan suami dari anggota Bawaslu, Ratna Dewi Pettalolo ini. Viralnya pembongkaran dan penelanjangan profil media social yang mengindikasikan dengan jelas dukungan sang suami kepada Sofyan Farid, membuat akun Sofyan Farid di Facebook lenyap. Hilang ditelan bumi. Kalau netral, kenapa harus panik? #JokowiLagi

Kalau panik, artinya ada yang salah. Kalau bersih, kenapa harus delete Facebook? Apa yang terjadi dengan Facebook Sofyan Farid yang dibuang? Kalau hilang, artinya ada yang salah. Orang ini perlu diusut. Semakin bergerak, orang ini semakin terlihat panik. Kepanikan yang dipertontonkan, merupakan kepanikan yang lumrah, terjadi pada orang-orang yang terbongkar ada main belakang.

Sofyan Farid itu mendukung Prabowo dan Sandiaga. Suami anggota Bawaslu, mendukung Prabowo Sandiaga. Jadi jangan heran jika sang istri, pun mengatakan bahwa tidak ada pelanggaran kampanye di aksi 212. Lihatnya melalui TV sih, bukan terjun langsung. Coba kalau terjun langsung. Pasti ada pelanggaran banyak.

Berikut fakta-faktanya:

Ada nyanyian ganti Presiden di dalam acara 212. Nyanyian ini pernah dinyanyikan oleh Fadli Zon, Zeng Wei Jian, Sang Alang, Neno Warisman, Mardani Ali Sera dan lain-lain. Kalau itu bukan dari kubu oposisi keblinger, siapa lagi? Masih mau ngeles? Masih mau mengatakan bahwa tidak ada pelanggaran?

Baca juga:  Terkait Hak Interpelasi, Baco; PSI Jangan Cari Sensasi

Ada spanduk Prabowo presiden dalam acara 212. Ini adalah sebuah bentuk yang benar-benar jelas, merupakan pelanggaran kampanye. Siapa yang berani bilang demi Allah, itu bukan kampanye?

Yusuf Martak. Tapi kenyataannya? Ada spanduk itu terbentang besar-besar. Jadi bela agama atau bela Prabowo? Atau malah jangan-jangan kalian sedang merayakan kemenangan Ahok yang sebentar lagi bebas, disubstitusi oleh Ahmad Dhani?

Pengurus dan panitia semua pendukung Prabowo. Ini sudah sangat jelas. Kita melihat bahwa penggagas aksi 212 awal-awal, Ma’ruf Amin pun sudah menolak. Ini bukan urusan bela agama lagi. Ma’ruf Amin sudah selesai dengan aksi 212. Menurutnya aksi 212 ini sudah tidak relevan lagi.

Semua proses hukum sudah berjalan. Jokowi pun tidak diundang. Jokowi pun tidak hadir dalam acara itu. Kalau tidak diundang, justru sudah sangat terkesan berpihak. Tidak ada seikitpun celah bagi kubu musuh Jokowi, untuk mengatakan bahwa ini bukanlah kampanye. Kan semprul.

Rizieq berceramah mengenai presiden, dan sebut gerakan ganti presiden. Ceramah singkat dari manusia yang kabur dari Indonesia ke Arab, dan sepertinya diduga dibela oleh dubes Arab Saudi ini, sangat politis. Bayangkan saja, bahkan ada pendukung si Prabowo manusia yang salah menyebut nama Allah dan Rasul-Nya, bisa dibela oleh Rizieq? Ini mah sudah gak jelas dan sangat politis.

Baca juga:  Pengacara Kondang O.C Kaligis, Sang Pelindung Ratusan Koran, Media Online dan Televisi Ingin Novel dan Indrayana Ditangkap dan Diadili

Jokowi tidak diundang, pun sudah merupakan fakta yang jelas-jelas ada. Fakta ini membuka sebuah pandangan mengenai keberpihakan Bawaslu kenapa mereka tidak bisa melihat ada pelanggaran kampanye secara jelas-jelas.

Tangan-tangan yang teracung mengarah kepada satu paslon tertentu, siapa lagi kalau bukan Prabowo dan Sandiaga? Gaya salam jempol dan telunjuk dilakukan.

Jadi sebenarnya, dari semua fakta singkat di atas, sudah dipastikan bahwa ada yang menyusup di Bawaslu. Kenapa dari fakta-fakta mutlak di atas, Bawaslu mengatakan bahwa mereka tidak melihat ada pelanggaran kampanye? Apakah ada pelanggaran pancaindera di sana?

Jelas sekali bahwa aksi 212 sarat muatan politik. Politik praktis, membawa nama Tuhan sembarangan dan menyebut nama Tuhan dan Rasul-Nya secara salah, pun didiamkan. Tapi sekali Jokowi sebut logat Jawa mengenai Alfatihah, dikomentari oleh orang tak beradab alias biadab.

Terima kasih Bung Nafys dalam membongkar semua ini. Semoga saja tulisan-tulisan penulis ini bisa membantu membukakan pandangan pembaca mengenai siapa sebenarnya Bawaslu.

Bawaslu sudah begitu berpihak. Sampai delete Facebook. Artinya, apa yang dituduhkan Seword kepada Bawaslu dan suami anggotanya, benar adanya. Kalau benar, kenapa tidak dibantah? Kalau tidak bantah, artinya jelas.

 

(red)*