Boyok, Anak Ini Rela Berhenti Sekolah Demi Menjadi Tulang Punggung Keluarga

by -544 views

Purwakarta, transparansiindonesia.co.id – Boyok, begitu orang sekitar memanggilnya. Anak ketiga dengan nama asli Haris kelahiran tahun 2006 ini hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 3 sekolah dasar (SD), karena merasa kalau dirinya harus berhenti sekolah sebab keluarganya memerlukan uluran tangannya mencari nafkah untuk membiayai sang Ibu, serta kedua adiknya.

Tinggal dirumah kontrakan dengan ukuran 3,5 x 6 meter di Karang layung
Rt 019. Rw 03. Nagritengah kecamatan Purwakarta bersama 6 anggota keluarganya, yakni sang ibu Popon (39), Kakak pertama, Anggih (18), kakak kedua Feri (14), adik, Haris atau Boyok (13), Indri (12) dan Muhammad Ali Imam masih (3) tahun dari buah pernikahan kedua bu Popon.

Setahun setelah ayahnya meninggal dunia, Boyok sejak empat tahun yang lalu putus sekolah berprofesi sebagai pemulung bersama kedua kakaknya. Dalam menjalankan pofesinya, mereka lebih sering menjalani aktivitasnya dimalam hari bahkan sampai menjelang pagi, dengan menyusuri sepanjang jalan Ipik Gandamanah dan sekitarnya.

Ditanya apakah tidak ingin sekolah, Boyok mengaku masih ingin, meskipun Boyok Sudah berhenti sekolah 4 tahun yang lalu.

Baca juga:  Bantu Pemerintah Pusat Putuskan Tali Rantai COVID-19, Bersama Pemdes Lowian Satu Maesaan Bentuk Pos Jaga Di Titik Masuk Dan Keluar Desa

“Pengen sekolah, biar bisa seperti anak-anak lainnya, Tapi mamah, kedua adik saya kan perlu biaya buat makan sehari-hari dan buat bayar kontrakan, karena bapak kan sudah meninggal”, terang Boyok saat keliling memulung barang bekas disepanjang jalan Ipik Gandamanah, selasa (12/3/2019), malam.

Meski demikian, Boyok tidak ingin adik-adiknya nantinya bernasib sepertinya dan kedua kakaknya. Boyok ingin adik-adiknya khususnya yang masih kecil-kecil bisa sekolah dengan baik.

“Saya ingin adik-adik nantinya bisa sekolah dengan baik, tidak seperti saya yang hanya sampai kelas 3 SD, kak Anggih hanya sampai kelas 4 SD, kak Feri hanya sampai kelas 4 SD, adik saya Indri juga berhenti hanya sampai kelas 3 SD. Semoga keluarga saya segera diberi kemampuan ekonomi agar saya bisa sekolah kembali”, harapnya.

Ditemui dirumah kontrakannya keesokan harinya (hari ini), Rabu (13/3/2019), tampak Boyok bersama kakaknya sedang membereskan hasil memulungnya, sedangkan sang ibu sibuk merawat anak bungsunya, Muhammad Ali Imam  yang sedang sakit.

“Kasian sebenarnya anak-anak tidak sekolah, tetapi apa boleh buat, misal saya melarang tetapi butuh, tidak dilarang tetapi jujur bathin ini menangis”, ungkap Bu Popon sambil mengusap air matanya.

Baca juga:  DANRAMIL 02/CURUG DAN PEWARNA BANTEN MEMBAGIKAN SEMBAKO KEPADA WARGA TERDAMPAK PANDEMI

Ditanya apakah tidak memaksa anaknya untuk sekolah dan boleh memulung setelah pulang sekolah.

“Saya tau sekolah gratis, bahkan Boyok juga memperoleh KIP, tetapi Boyok tetap kekeh ingin berhenti, mungkin  karena tidak tega melihat ibunya yang sudah ditinggal bapaknya meninggal kalau harus bekerja mencari nafkah”, jelasnya.

Dalam kesehariannya mencari barang bekas seperti gelas air mineral, kardus serta lainnya, Boyok mengaku penghasilan dari usahanya bertiga  maksimal Rp.50.000 rupiah.

“Paling gede lima puluh ribu, sering juga hanya dua puluh ribu, itu hasil kami bertiga”, papar Boyok.

Dengan keadaan ekonomi keluarga yang demikian, ditanya apakah masuk sebagai keluarga penerima PKH, dan menerima bagian dari beras perelek, Ibu Popon mengaku, tidak.

“Tidak pernah, dari dulu juga tidak pernah, baik uang atau beras, gak tahu kenapa kok saya tidak pernah dapat, ini saja kontrakan sampai belum kebayar, anak juga lagi sakit, ini saya mau ke puskesmas untuk berobat anak”, paparnya. (MDI)