RIAU, TI – Rumah Sakit Husada Bunda kini menuai sorotan publik dan menjadi polemik yang seakan terus berlanjut.
Setelah sebelumnya disorot oleh karena pelayanannya ke masyarakat, kini sorotan terhadap rumah sakit tersebut tertuju pada oknum direktur rumah sakit Husada Bunda.
Oknum direktur rumah sakit Husada Bunda diduga melakukan tekanan dan pemaksaan terhadap keluarga pasien.
Diketahui sebelumnya, keluarga pasien menyampaikan keluhan atas pelayanan rumah sakit Husada Bunda yang kurang optimal, yang disampaikan melalui media sosial.
Adalah inisial AF, yang merupakan suami dari pasien yang diketahui dipaksa dan ditekan untuk melakukan permintaan maaf dan klarifikasi atas keluhannya di media sosial.
Diduga direktur rumah sakit Husada Bunda menekan dan memaksa AF untuk membuat klarifikasi dengan cara dipaksa dan ditekan dan selanjutnya disampaikan ke media.
Hal tersebut langsung mendapat respon dari lembaga swadaya masyarakat aliansi masyarakat transparansi indonesia (LSM-AMTI).
LSM-AMTI menilai bahwa tindakan dari direktur rumah sakit tersebut menggambarkan sosok yang anti kritik, padahal apa yang dikeluhkan oleh pasien maupun keluarga pasien adalah wajar, guna evaluasi pelayanan fasilitas kesehatan.
Maka dari itu ia mendesak agar kementerian kesehatan RI dan instansi terkait lainnya dapat melihat apa yang terjadi di rumah sakit Husada Bunda dan dilakukan evaluasi secara menyeluruh.
“Mendesak agar kementerian kesehatan dan instansi terkait untuk dapat memberhentikan oknum direktur rumah sakit Husada Bunda, yang telah mencoreng citra rumah sakit dengan melakukan penekanan dan pemaksaan terhadap keluarga pasien bahkan terdapat unsur-unsur pengancaman ke keluarga pasien untuk melakukan permintaan maaf di media sosial,” tegas Ketua Umum DPP LSM-AMTI, Tommy Turangan SH.
Diberitakan sebelumnya, polemik di rumah sakit Husada Bunda diawali dengan salah satu keluarga pasien yakni AF menyampaikan kekecewaannya atas pelayanan yang diterima istrinya saat hendak melahirkan di RS Husada Bunda.
Ia menilai pelayanan tenaga medis saat itu tidak maksimal dan terkesan tidak transparan dalam melayani pasien.
Selanjutnya AF menceritakan situasi mencekam saat istrinya dalam kondisi akan melahirkan.
Ia sempat menanyakan keberadaan dokter yang menangani istri kepada perawat, namun mendapat jawaban bahwa dokter tidak masuk, namun tak lama kemudian, dokter yang dimaksud justru tiba di lokasi.
“Kami sangat cemas waktu itu. Saya tanya dokter, katanya tidak masuk. Tapi tiba-tiba dokter datang. Ini membuat kami bingung dan kecewa,” ungkapnya.
AF juga menyoroti penggunaan BPJS Kesehatan kelas 1 yang selama ini rutin dibayarnya, namun menurutnya tidak sebanding dengan pelayanan yang diterima.
“Kami bayar iuran tiap bulan, tapi pelayanan yang kami dapat tidak maksimal. Bahkan saat proses persalinan, terjadi hal yang tidak kami harapkan,” tambahnya.
Keluhan tersebut kemudian disampaikan kepada media dan viral di berbagai platform, termasuk media sosial TikTok. Namun, pasca viralnya pemberitaan, AF mengaku didatangi langsung oleh Direktur RS Husada Bunda ke rumah mertuanya di wilayah Kuok, Kabupaten Kampar.
Datang nya direktur RS Husada bunda itu kerumah ingin bertemu langsung dengan saya namun saya tidak ada di rumah, selanjutnya direktur rumah sakit Husada bunda itu menghubungi saya melalui telepon WhatsApp.
Dalam pembicaraan tersebut, menurut AF bahwa direktur rumah sakit mempertanyakan alasan dirinya menyampaikan keluhan ke media.
AF pun menjelaskan bahwa apa yang disampaikan merupakan kondisi nyata yang dialami keluarganya.
AF juga menyebut diduga bahwa Direktur rumah sakit sempat mengeluarkan pernyataan bernada ancaman terkait pelaporan hukum jika dirinya tidak mengikuti permintaan klarifikasi tersebut. (T2)*
