JAKARTA, TI – Ketegangan di timur tengah, dengan pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran memicu terjadinya penutupan selat Hormuz oleh Iran.
Jalur perdagangan laut yang merupakan sentra bagi negara-negara lainnya untuk memasok berbagai bahan dan barang ke negara-negara masing-masing, termasuk negara Indonesia.
Bahkan, akibat konflik di Timur Tengah tersebut, sempat memunculkan kekhawatiran akan ketersediaan BBM di Indonesia.
Dimana, beberapa waktu lalu oleh karena ketegangan di Timur Tengah dan penutupan selat Hormuz oleh Iran sempat memunculkan kenaikan atau lonjakan harga BBM di Indonesia.
Namun, memasuki masa pemerintahan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, dampak guncangan harga minyak dunia relatif lebih terkendali.
Hal tersebut, dikarenakan fondasi kebijakan energi yang dibangun diera Presiden Joko Widodo.
Salah satu kebijakan dan menjadi warisan paling krusial dari Joko Widodo adalah mandatori pencampuran minyak sawit kedalam solar.
Diketahui hingga saat ini mandatori pencampuran minyak sawit kedalam solar tersebut kini sudah mencapai tingkat B35.
Sehingga berdampak pada jika pasokan minyak mentah dunia terhambat oleh karena penutupan selat Hormuz, Indonesia tak perlu terlalu panik.
Dengan warisan kebijakan energi tersebut ketergantungan terhadap impor solar kini menurun drastis, karena Indonesia menggunakan minyak sawit yang merupakan produksi dalam negeri.
Dengan adanya kebijakan energi tersebut, stok solar dalam negeri tetap aman walaupun jalur perdagangan luar negeri terhambat maupun terganggu oleh adanya konflik yang berdampak pada jalur perhubungan laut. (T2)*
