JAKARTA, TI – Gereja, dalam pemahaman rohani adalah tubuh Kristus, tempat dimana umat bersatu dalam kasih dan pelayanan. Gereja bukan hanya sebuah bangunan fisik tetapi juga komunitas yang hidup dan bernafas dalam kasih Tuhan.
Didalam gereja, umat diharapkan dapat menemukan kekuatan spiritual dukungan komunitas, dan bimbingan Menuju kehidupan yang lebih baik sesuai ajaran Kristus.
Namun realitas gereja seringkali berbeda, dibalik dinding-dinding yang dicat dengan warna-warni indah dan dibawah naungan salib yang suci, tersembunyi permainan politik dan kepentingan pribadi yang menggerogoti gereja sebagai institusi yang memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat seringkali menjadi ajang perebutan kekuasaan dan pengaruh.
Hal ini dapat dilihat dari bebagai aspek, seperti perebutan posisi kepemimpinan, kontrol atas sumber daya, dan pengaruh dalam pengambil keputusan.
Kecenderungan ini dapat menyebabkan gereja dapat kehilangan fokus pada misi dan pelayanan yang sebenarnya, serta merusak citra gereja dimata masyarakat.
Contoh konkret dari kecenderungan ini dapat dilihat dari kasus-kasus dimana gereja lebih fokus membangun bangunan megah dan mewah daripada membantu masyarakat sekitar. Contoh lainnya seperti perebutan jabatan kepemimpinan , dimana individu atau kelompok tertentu berusaha untuk mendominasi proses pemilihan kepemimpinan gereja, kontrol atas sumber daya gereja, serta penggunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi untuk memperoleh keuntungan pribadi menggunakan kekuasaan, hal ini dapat menyebabkan gereja kehilangan fokus pada misi dan pelayanan yang sebenarnya dan merusak citra gereja dimata publik.
Pertarungan kekuasaan dalam gereja dapat menyebabkan berbagai dampak negatif seperti:
– gereja dapat kehilangan fokus pada misi dan pelayanan yang sebenarnya serta merusak citra gereja dimata masyarakat.
– perpecahan dalam komunitas gereja, kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan komunitas dan penggunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
– Umat kehilangan kepercayaan terhadap gereja dan merasa bahwa gereja tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk mencari Tuhan dan melayani sesama.
Menjadi sangat penting instrospeksi diri dan bertobat dari segala ambisi dan kekuasaan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai gereja. Sebagai umat yang setia sangat penting merefleksikan peran warga gereja dalam gereja , apakah benar-benar fokus pada kepentingan pribadi atau benar-benar melayani Tuhan dan sesama.
Haruskah terus dibiarkan ambisi dan kekuasaan menguasai hati warga jemaat,, ataukah kita memilih hidup dalam kasih dan kerendahan hati.
Untuk mengatasi masalah perebutan kekuasaan dan pengaruh dalam gereja, kita perlu memastikan bahwa struktur dan proses gereja mendukung misi dan pelayanan yang mulia. (red/T2)*





