“Keringat di Pinggir Jalan, Keputusan Berani di Balik Meja, Kisah Fredy Jatmiko Mendapat Rumah Subsidi Tanpa Tunggakan.”

TRANSPARANSIINDONESIA.CO.ID, MINAHASA UTARA,- Deru Kendaraan di Ruas Jalan Manado–Bitung tidak pernah benar-benar sunyi. Di antara kebisingan tersebut, terdengar Bunyi khas Kompresor dan Desisan Angin dari Ban Bocor.
Pada Sudut sederhana di Wilayah Kolongan, Kecamatan Kalawat, berdiri sebuah Lapak Kecil yang Jauh dari kesan nyaman. Tempat sederhana tersebut menjadi saksi perjalanan hidup seorang pria Difabel bernama Fredy Jatmiko S.Ag.
Kondisi fisik akibat polio sejak usia dini tidak mematahkan semangat hidup. Pada usia 51 tahun, Fredy memilih jalan hidup mandiri dengan bertumpu pada usaha tambal ban. Setiap hari, sejak pagi hingga larut malam, tangan terampil bekerja tanpa mengenal lelah demi satu tujuan besar menghadirkan tempat tinggal layak bagi keluarga.
Perjalanan hidup Fredy tidak sekadar tentang bertahan, ada tekad besar yang terus menyala di balik keterbatasan. Prinsip hidup sederhana, kerja keras, dan tanggung jawab menjadi fondasi utama dalam menjalani kehidupan.
Saat awak media menyambangi tempat usahanya sekitar Kamis (02/4/26) kemarin Siang, Dirinya menuturkan kisah perjalanan mendapatkan rumah subsidi.
“Prinsip hidup sederhana, tetap berjuang dan tidak bergantung pada siapa pun,” ungkap Fredy dengan suara tenang namun penuh keyakinan.
Lapak tambal ban tersebut berdiri di lokasi strategis. Kendaraan roda dua dan roda empat silih berganti melintas. Namun, kondisi tempat kerja jauh dari kata layak. Terik matahari dan hujan menjadi bagian dari keseharian. Peralatan seadanya tidak menghalangi produktivitas.
Dalam keterbatasan tersebut, lahir disiplin dan ketekunan yang jarang terlihat. Setiap pagi, Fredy sudah bersiap lebih awal. Peralatan diperiksa, kompresor dipastikan berfungsi, dan ruang kerja disiapkan untuk melayani pelanggan.
Sekitar empat tahun lalu, sebuah keputusan besar diambil. Dengan penghasilan tidak menentu, Fredy memberanikan diri mengajukan kredit rumah subsidi. Langkah tersebut penuh risiko. Banyak pihak meragukan kemampuan finansial. Bahkan, pertimbangan perbankan sempat menunjukkan keraguan terhadap kelayakan kredit akibat kondisi fisik yang dimiliki.
Namun, di tengah keraguan tersebut, muncul sosok pengusaha perumahan yang melihat dari sudut pandang berbeda. Sosok tersebut adalah Hj. Soeprapti, S.Sos.
Sebagai pengusaha di bidang perumahan sekaligus Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Sulawesi Utara, Hj. Soeprapti tidak hanya menilai dari angka dan administrasi. Penilaian dilakukan dengan melihat karakter, semangat hidup, serta tanggung jawab calon penerima rumah subsidi.
Dalam pandangannya, Fredy bukan sekadar pemohon kredit. Sosok pekerja keras dengan semangat hidup tinggi menjadi pertimbangan utama.
“Saya melihat langsung bagaimana perjuangan Fredy di lapangan. Setiap hari bekerja tanpa kenal lelah. Tidak ada sikap menyerah dalam menghadapi keterbatasan. Semangat seperti itu jarang ditemukan dan layak mendapatkan dukungan,” ungkap Hj. Soeprapti.
Keputusan untuk membantu meloloskan kredit rumah subsidi bukan tanpa pertimbangan matang. Pihak perbankan sebelumnya menunjukkan keraguan. Faktor risiko menjadi alasan utama. Namun, pendekatan kemanusiaan dan keyakinan terhadap karakter menjadi landasan berbeda dalam mengambil keputusan.
“Seseorang tidak boleh dinilai hanya dari kondisi fisik atau keterbatasan ekonomi. Ada nilai lain yang jauh lebih penting, yaitu tanggung jawab, kejujuran, serta kegigihan dalam bekerja. Fredy menunjukkan seluruh aspek tersebut secara nyata,” tegasnya.
Lebih jauh, Hj. Soeprapti menjelaskan bahwa sektor perumahan tidak hanya berbicara soal bisnis. Ada tanggung jawab sosial yang harus dijalankan, terutama dalam memberikan akses kepada masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk penyandang disabilitas.
“Program rumah subsidi seharusnya menjadi jembatan bagi masyarakat kecil untuk memiliki hunian layak. Ketika ada individu yang benar-benar berjuang dan memiliki komitmen kuat, maka dukungan harus diberikan. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap difabel selama terdapat kemampuan untuk memenuhi kewajiban,” jelasnya panjang lebar.
Keputusan tersebut akhirnya membuka jalan bagi Fredy untuk memiliki rumah. Sejak saat itu, kehidupan berjalan dalam ritme baru. Kerja keras semakin ditingkatkan demi memastikan kewajiban pembayaran terpenuhi.
Selama empat tahun terakhir, komitmen tersebut terbukti nyata. Angsuran sekitar dua juta rupiah per bulan dibayar secara konsisten tanpa tunggakan. Dalam kondisi penghasilan yang bergantung pada jumlah pelanggan harian, capaian tersebut menjadi bukti kedisiplinan luar biasa.
Setiap tetes keringat memiliki arti penting. Tidak ada ruang untuk kelalaian, Setiap hari menjadi perjuangan untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
“Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan bekerja, pasti ada jalan untuk memenuhi kewajiban,” tutur Fredy.
Selain menambal ban, berbagai pekerjaan tambahan dilakukan, Perbaikan ringan kendaraan menjadi sumber penghasilan tambahan. Jam kerja yang panjang menjadi bagian dari konsekuensi.
Meski kelelahan sering menghampiri, tidak pernah terdengar keluhan. Keyakinan spiritual menjadi kekuatan utama Di sela kesibukan, doa selalu menjadi bagian dari rutinitas.
Latar belakang pendidikan sebagai lulusan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) tahun 2003 turut membentuk karakter. Nilai kesabaran dan keikhlasan tertanam kuat dalam setiap langkah kehidupan.
Sebagai kepala keluarga, tanggung jawab tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan sehari-hari, Ada harapan besar untuk memberikan kehidupan lebih baik bagi keluarga.
Perjalanan hidup Fredy juga mencerminkan realitas yang dihadapi banyak penyandang disabilitas di Indonesia. Akses terhadap pekerjaan dan pembiayaan sering kali menjadi hambatan. Namun, kisah tersebut membuktikan bahwa kesempatan yang adil mampu membuka jalan perubahan.
Dalam pandangan Hj. Soeprapti, keberhasilan Fredy bukan sekadar kisah individu, Ada pesan besar yang harus menjadi perhatian berbagai pihak.
“Banyak penyandang disabilitas memiliki potensi besar. Kesempatan harus dibuka seluas mungkin ketika diberikan ruang, mereka mampu menunjukkan tanggung jawab yang tidak kalah dengan masyarakat pada umumnya. Fredy menjadi contoh nyata,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ia menegaskan bahwa kebijakan perumahan harus semakin inklusif. Tidak boleh ada pembatasan hanya karena kondisi fisik.
“Ke depan, sektor perumahan harus lebih peka terhadap kelompok rentan. Pengusaha tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga harus memiliki empati sosial. Keputusan membantu Fredy merupakan bagian dari komitmen tersebut,” tambahnya.
Di sisi lain, Fredy menyampaikan harapan agar akses kredit rumah subsidi dapat lebih terbuka bagi penyandang disabilitas. Banyak individu memiliki kemampuan, namun terbentur pada sistem yang belum sepenuhnya inklusif.
“Kesempatan yang adil sangat dibutuhkan. Jangan melihat keterbatasan sebagai penghalang,” ujarnya.
Lapak tambal ban di pinggir jalan mungkin tampak sederhana namun, dari tempat tersebut lahir cerita besar tentang perjuangan, keberanian, dan harapan.
Setiap ban bocor yang ditambal menjadi simbol perjalanan panjang menuju impian. Rumah yang kini dimiliki bukan sekadar bangunan, melainkan bukti nyata bahwa kerja keras dan kepercayaan mampu mengubah nasib.
Kisah Fredy Jatmiko menghadirkan pelajaran penting keterbatasan bukan akhir dari segalanya. Dengan tekad kuat, disiplin tinggi, serta dukungan dari pihak yang memiliki kepedulian, batas-batas tersebut dapat ditembus.
Di balik keputusan seorang pengusaha yang memilih melihat sisi kemanusiaan, lahir sebuah perubahan nyata. Sebuah rumah berdiri sebagai simbol bahwa keberpihakan dan empati mampu menghadirkan harapan bagi mereka yang berjuang dalam diam.
(kontributor sulut, Wahyudi barik)
