Sri Mulyani Sampaikan Pidato dalam giat 5th Counter Terorism Finnancing Summit, di Manila

Nasional545 Views

Jakarta, transparansiindonesia.co.id – – Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Pada 13 November 2019, memberikan pidato kunci dalam 5th Counter Terrorism Financing Summit di Manila, Filipina. Pertemuan ini diinisiasi oleh 3 lembaga intelijen finansial (FIU) di kawasan Asia Pasifik yakni PPATK-Indonesia, AMLC-Filipina, dan AUSTRACT-Australia.

Tema yang menjadi sumber diskusi tidak hanya sebatas masalah terorisme dan bagaimana cara menanggulangi pendanaan terorisme, tapi juga mulai mendiskusikan mengenai kejahatan ekonomi lintas negara yang dianggap memiliki daya rusak dan dampak negatif yang hampir sama dengan aksi terorisme.

Pada acara tersebut Sri Mulyani menyampaikan bahwa fenomena globalisasi dan integrasi perekonomian dunia telah membuat dunia kita menjadi semakin tanpa batas (borderless).

Dengan dibantu oleh perkembangan dan kemajuan teknologi informasi, saat ini banyak negara dan individu menjadi semakin terhubung antara satu dengan lain secara global. Arus barang, orang, jasa, dan uang menjadi semakin mudah untuk berpindah melewati batas-batas negara dengan waktu yang semakin cepat.

“Dunia tanpa batas ini menguntungkan karena perdagangan antarnegara menjadi lebih intensif sehingga menjadikan banyak negara lebih makmur. Informasi, gagasan, dan pengetahuan yang bermanfaat dapat menyebar lebih cepat ke seluruh penjuru dunia. Individu dapat berpindah lebih mudah untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik,” ujar Sri Mulyani.

Baca juga:  Rangkaian HUT Ke-61 Partai Golkar Gelar 'Short Movie Competition', CEP; Ayoo Ikuti Dan Tunjukkan Kreativitasmu Dibidang Seni

Di sisi lain, globalisasi dan interkoneksi membuat kejahatan ekonomi lintas negara menjadi semakin canggih dan terorganisir. Selain itu aliran dana illegal lintas negara (Illicit Financial Flows atau IFF) yang berasal dari aktivitas kejahatan ekonomi antarnegara juga meningkat. Apalagi dengan hadirnya virtual asset seperti crypto currency yang sulit dilacak. Diperkirakan saat ini nilai dari IFF berkisar sekitar 2%-5% GDP Global.

Untuk mencegah meluasnya kejahatan ekonomi lintas negara, selain menyarankan pentingnya semua negara untuk saling meningkatkan kolaborasi, koordinasi, kerjasama, dan transparansi dalam mengidentifikasi, melacak, dan mencegah kejahatan ekonomi lintas negara dan IFF, saya juga menyarankan perlunya perbaikan secara berkelanjutan terhadap regulasi nasional di tiap negara dalam mencegah dua hal tersebut dan penguatan kapasitas lembaga intelijen finansial di tiap negara.

Baca juga:  LSM-AMTI; Petani Nilam Diabaikan, Gubernur YSK Tak Pro Petani

“Selain itu, saya juga menyarankan perlunya kita mulai memahami virtual asset secara komprehensif sehingga kita bisa mengidentifikasi potensi ancaman yang terkandung di dalamnya serta memanfaatkan teknologi untuk seperti big data dan artificial intelligence untuk memerangi kejahatan ekonomi lintas negara dan IFF,” tambah Sri Mulyani.

Dalam pertemuan tersebut Sri Mulyani juga menyampaikan komitmen kuat Indonesia untuk bergabung dengan FATF sebagai bagian dari kontribusi Indonesia untuk ikut memerangi kejahatan ekonomi lintas negara dan Illicit Financial Flows serta menciptakan sistem finansial global yang lebih aman. Transparan, dan akuntbel.

“Saya meyakini, bahwa dengan bergabungnya Indonesia, maka usaha global mencegah kejahatan ekonomi lintas negara, pendanaan terorisme, dan Illicit Financial Flows akan menjadi lebih efektif di masa mendatang,” kata Wanita cerdas tersebut.

Setelah menghadiri acara Summit, Sri Mulyani melakukan pertemuan dengan Carlos García Domínguez III, Secretary of Finance, Republic of The Philippines untuk berdiskusi mengenai kondisi ekonomi di masing-masing negara.

 

(red/T2)*