Seleksi Mahasiswa Kedokteran Unima Dipersoalkan, Peserta Minta Audit Menyeluruh

“LSM AMTI Pusat desak evaluasi total penerimaan mahasiswa baru di kampus unima”.

foto ketua LSM AMTI Pusat, Tommy Turangan.
foto ketua LSM AMTI Pusat, Tommy Turangan.

TRANSPARANSI INDONESIA.CO.ID, PENDIDIKAN, MANADO,- Pelaksanaan seleksi penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri Manado (UNIMA) Tahun Akademik 2026–2027 tengah menjadi perhatian publik.

Betapa tidak sejumlah peserta asal Kabupaten Minahasa Selatan menyampaikan keberatan resmi terhadap hasil seleksi.

Keberatan tersebut muncul setelah seluruh peserta asal Minahasa Selatan yang mengikuti jalur seleksi Fakultas Kedokteran dinyatakan tidak lolos. Kondisi tersebut kemudian memunculkan berbagai pertanyaan terkait mekanisme penilaian, pelaksanaan ujian berbasis komputer, hingga keterbukaan hasil seleksi.

Para peserta menilai terdapat sejumlah persoalan selama pelaksanaan ujian. Keluhan mencakup keterbatasan waktu pengerjaan, dugaan kendala jaringan, lambatnya perpindahan halaman soal, serta kesulitan memperoleh informasi hasil nilai setelah pengumuman kelulusan.

Kondisi tersebut kemudian mendorong peserta menyampaikan surat keberatan dan meminta adanya evaluasi terhadap proses seleksi.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, peserta yang menyatakan keberatan terhadap hasil seleksi Fakultas Kedokteran Unima antara lain:

Lionel Teguh Benedicto Tewal

Esther Zephaniah Rumagit

Given Elhope Suoth

Marcinli Jessy Mentu

Natalie Michelle Elizabeth Rawis

Claudia Sumangkut

Rivinia Jenniver Matulesi

Dion Repi

Majesty Evangelica Tombokan

Mereka meminta adanya penjelasan resmi mengenai proses seleksi, mekanisme penilaian, serta akses terhadap hasil ujian masing-masing peserta.

Dalam dunia pendidikan tinggi, transparansi bukan sekadar tuntutan administratif. Transparansi merupakan fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap institusi akademik.

Baca juga:  Mawale Wakili Kecamatan Motoling Dalam Lomba Desa, Sendow; Torang Siap Ke Tingkat Provinsi

Ketika peserta tidak memperoleh penjelasan memadai mengenai hasil seleksi, ruang pertanyaan publik akan semakin terbuka.

Masyarakat kemudian mulai mempertanyakan berbagai aspek penting, mulai dari standar kelulusan, sistem pemeringkatan peserta, bobot penilaian, hingga prosedur penanganan kendala teknis selama ujian berlangsung.

Perdebatan tersebut semakin menguat lantaran Fakultas Kedokteran merupakan program studi bergengsi dengan tingkat persaingan sangat tinggi. Setiap keputusan kelulusan memiliki dampak besar terhadap masa depan peserta.

Karena alasan tersebut, berbagai pihak menilai keterbukaan informasi menjadi langkah penting untuk menjaga integritas proses seleksi.

Sejumlah peserta mengaku menghadapi kendala teknis selama ujian berlangsung. Menurut pengakuan mereka, sistem komputer dan jaringan dinilai tidak berjalan optimal sehingga memengaruhi efektivitas waktu pengerjaan soal.

Apabila keluhan tersebut benar terjadi, maka evaluasi teknis menjadi penting guna memastikan seluruh peserta memperoleh kesempatan yang setara dalam mengikuti ujian.

Sementara itu,Ketua LSM Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia (AMTI) Pusat, Tommy Turangan, menilai polemik tersebut perlu mendapat perhatian serius.

Menurut Turangan, institusi pendidikan tinggi negeri memiliki tanggung jawab besar menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat.

Turangan juga menegaskan bahwa setiap proses seleksi mahasiswa baru harus berlangsung objektif, transparan, profesional, serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun administratif.

Baca juga:  Komitmen Dalam Pengabdian, NVM Jawab Kebutuhan Warga Melalui Pelayanan Ambulance Gratis

Ia menilai munculnya keberatan dari sejumlah peserta tidak boleh dipandang sebagai gangguan terhadap institusi, melainkan sebagai masukan yang perlu dijawab melalui data dan fakta.

“Kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi dibangun melalui keterbukaan. Apabila muncul pertanyaan dari peserta, jawaban terbaik bukan berupa spekulasi, melainkan penjelasan resmi berbasis dokumen dan data yang dapat diuji,” ujar Tommy, kepada awak media, Selasa (9/6/26) Siang tadi.

Menurut Turangan, kampus memiliki kesempatan membuktikan kualitas tata kelola akademik melalui keterbukaan informasi.

Dirinya juga mendorong adanya evaluasi internal terhadap seluruh tahapan seleksi guna memastikan tidak terdapat persoalan prosedural maupun teknis.

“Audit bukan bentuk tuduhan. Audit merupakan instrumen untuk memastikan seluruh mekanisme berjalan sesuai standar. Semakin transparan sebuah institusi, semakin kuat pula kepercayaan publik terhadap institusi tersebut,” tegasnya.

Polemik seleksi Fakultas Kedokteran Unima kini berkembang menjadi perhatian masyarakat luas. Berbagai kalangan menunggu penjelasan resmi mengenai: Mekanisme seleksi dan pemeringkatan, Standar kelulusan peserta,Sistem penilaian ujian, Penanganan gangguan teknis selama tes, Hak peserta untuk memperoleh informasi nilai, serta Prosedur pengajuan keberatan dan sanggahan.

 

(Redaksi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *