SULUT, TI – Seleksi masuk fakultas kedokteran Universitas Negeri Manado (Unima) melalui jalur beasiswa kerjasama Unima dengan Pemprov Sulut dan Kabupaten/Kota menuai sorotan publik.
Pasalnya, seleksi yang dilakukan di Tondano tersebut dinilai tidak transparan dan terkesan ada yang disembunyikan.
Tidak transparannya pelaksanaan seleksi bagi para calon mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Negeri Manado, dirasakan oleh beberapa calon mahasiswa dari Kabupaten Minsel yang mengikuti seleksi.
Dimana, permasalahan pada pelaksanaan seleksi masuk fakultas kedokteran Unima jalur beasiswa tersebut, terlihat minimnya transparansi, persoalan selama seleksi yang mengalami gangguan jaringan, serta kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pihak penyelenggara yang menutup peluang bagi peserta yang gagal ditahap awal untuk maju ke tahap selanjutnya.
Seleksi yang berbasis Computer Based Test (CBT) tersebut hasilnya ternyata telah diumumkan pada 2 Juni 2026.
Namun anehnya, dalam pengumuman tersebut hanya menyatakan calon mahasiswa baru Faked Unima dengan status Lulus atau Tidak Lulus, tanpa adanya hasil nilai yang disertakan.
Para peserta dan orang tua calon mahasiswa pun sangat keberatan dengan proses seleksi yang dilaksanakan dan tidak transparan.
Karena selain tidak menyertakan hasil nilai seleksi, ternyata juga pengumuman tidak menyertakan batas passing grade peserta, dan peringkat dari para peserta seleksi.
Hingga hasil test diumumkan, para peserta tidak mengetahui standar penilaian.
“Pelaksanaan tes terkesan tidak transparan, beberapa peserta mengalami kendala selama pelaksanaan tes dimana jaringan sering mengalami gangguan, sehingga menyulitkan para peserta seleksi, dan setelah pengumuman kami pun tidak diberitahu hasil nilai yang didapat, perangkingan tidak ada, batas passing grade tidak diberitahu, dan ini yang menjadi pertanyaan kami ke pihak penyelenggara,” ujar beberapa peserta didampingi para orang tua.
Bahkan juga, kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Unima melalui panitia seleksi terkesan merugikan para peserta yang berasal dari Minahasa Selatan.
Dimana kebijakan tersebut terkait tidak memberikan kesempatan kedua bagi peserta yang belum mencapai passing grade di gelombang pertama, dan itu menjadi kekecewaan bagi peserta dan peserta seleksi.
Dengan kendala yang dialami oleh peserta seleksi di tahap seleksi pertama berupa ujian pilihan ganda dan tahap wawancara seharusnya ada pengulangan kembali bagi peserta karena jalannya seleksi tak optimal oleh beberapa kendala dan itu menjadi tanggung jawab panitia dan Unima.
Para orang tua pun mengungkapkan kekecewaannya bahwa kebijakan yang diambil dengan tidak diberikan kesempatan bagi peserta yang gagal digelombang pertama oleh karena gangguan jaringan, menurut mereka aturan tersebut menjadi seakan menutup ruang bagi anak-anak terutama dari Minahasa Selatan yang ingin kembali bersaing secara adil.
Selanjutnya, merasa dikecewakan dengan pelaksanaan seleksi yang dinilai tidak transparan, para peserta seleksi Camaba Faked Unima selanjutnya menemui Bupati dan jajarannya di Kantor Bupati.
Pada kesempatan tersebut, para peserta menyampaikan bagaimana kronologi yang mereka hadapi tatkala menjalani ujian seleksi dan kesemuanya tersebut mereka tuangkan dalam surat pernyataan yang dibuat oleh masing-masing peserta.
Para peserta seleksi pun menuntut keadilan dan transparansi pelaksanaan seleksi Beasiswa Fakultas Kedokteran Unima.
Ada tiga poin tuntutan dari para peserta yakni;
1. Mempublikasikan secara terbuka daftar nilai lengkap dan rangking seluruh peserta seleksi beasiswa kedokteran se-Sulawesi Utara.
2. Menyediakan kesempatan kedua bagi peserta yang belum lulus pada gelombang pertama untuk mengikuti seleksi ulang dengan mekanisme yang transparan.
3. Menetapkan standar passing grade dan sistem pemeringkatan yang dapat diakses publik.
Permasalahan tersebut, selanjutnya mendapatkan perhatian dan sorotan tajam dari publik dan LSM.
Adalah lembaga swadaya masyarakat aliansi masyarakat transparansi indonesia (LSM-AMTI) yang salah satunya menyoroti proses penerimaan mahasiswa baru Faked Unima melalui jalur beasiswa kerjasama Pemprov dan Unima.
Ketua umum DPP LSM-AMTI, Tommy Turangan SH mengatakan bahwa tidak transparannya proses seleksi penerimaan mahasiswa baru Unima jalur beasiswa tersebut, menggambarkan kebobrokan sistem pendidikan di Unima.
Hal tersebut menurut Turangan, apabila sesuatu tidak dilakukan secara transparan dan akuntabel, maka ada apa-apanya dalam proses tersebut seperti ada orang-orang tertentu yang diduga telah dipersiapkan untuk mengisi atau diloloskan masuk.
Maka dari itu, ia meminta agar proses seleksi dapat dilakukan ulang, karena dalam prosesnya tahapan seleksi ternyata mengalami berbagai kendala dan itu dirasakan oleh para peserta yang membuat mereka merasa sangat dirugikan.
Ia pun meminta agar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), untuk menelusuri proses seleksi penerimaan Camaba Faked Unima melalui jalur beasiswa tersebut.
“Pihak-pihak dan instansi terkait untuk kiranya dapat memperhatikan dan menelusuri proses seleksi tersebut, tidak transparan dan akuntabel pelaksanaan seleksi, jangan-jangan sudah ada jatah-jatahan sehingga mengorbankan para peserta lainnya, dengan cara-cara yang tidak adil dan tidak sportif, dan ini menimbulkan dampak bagi kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan menurun, apalagi ini tentang program beasiswa yang menggunakan anggaran negara,” tegas Tommy Turangan SH.
Dan berikut salah satu surat keterangan/pertanyaan dari salah satu peserta seleksi Camaba Faked Unima melalui jalur beasiswa:
SURAT KETERANGAN KRONOLOGIS KEJADIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: Miracle Savior Arie Kumaat
Tempat/Tanggal Lahir : Kawangkoan, 18 September 2008
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Alamat: Desa Lansot Kecamatan Tareran
Dengan ini menerangkan kronologis kejadian yang saya alami terkait pelaksanaan Tes Seleksi Kedokteran Universitas Negeri Manado (UNIMA).
Pada tanggal 25 Mei 2026, saya bersama peserta lainnya dari Kabupaten minahasa selatan mengikuti tahap pertama Tes Seleksi Kedokteran Universitas Negeri Manado (UNIMA).
Selama pelaksanaan tes, kami mengikuti seluruh arahan dan petunjuk yang diberikan oleh pengawas ruangan.
Setiap langkah dalam pengerjaan tes berbasis komputer, termasuk saat
mengoperasikan sistem dan mengisi jawaban, dilakukan sesuai petunjuk yang diberikan oleh pengawas yang bertugas.
Setelah seluruh rangkaian tes selesai dilaksanakan, kami mengikuti tahapan seleksi berikutnya sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Namun, pada saat pengumuman hasil seleksi diumumkan, tidak terdapat satu pun nama peserta dari Kabupaten minahasa selatan yang dinyatakan lulus, padahal jumlah peserta dari kabupaten kami sebanyak 10 orang.
Setelah dilakukan penelusuran dan komunikasi dengan pihak penyelenggara, kami memperoleh informasi dari tim Universitas Negeri Manado bahwa pada tahap tes berbasis komputer yang dilaksanakan pada hari pertama, jawaban peserta dalam satu ruangan tempat kami mengikuti tes tidak berhasil tersubmit atau tidak terkirim ke sistem.
Informasi tersebut menimbulkan kebingungan dan keberatan dari kami karena selama pelaksanaan tes terdapat pengawas yang mendampingi dan memberikan arahan kepada peserta.
Kami juga telah mengikuti seluruh
petunjuk yang diberikan tanpa melakukan tindakan di luar arahan pengawas.
Berdasarkan hal tersebut, kami berpendapat bahwa permasalahan tidak terkirimnya jawaban peserta bukan terjadi karena kelalaian peserta, melainkan diduga akibat kendala teknis sistem atau proses pengawasan selama pelaksanaan tes.
Oleh karena itu, kami merasa dirugikan
karena hasil tes yang diumumkan tidak mencerminkan kemampuan dan usaha yang telah kami lakukan selama mengikuti seluruh tahapan seleksi.
Sehubungan dengan kejadian tersebut, kami memohon kepada pihak Universitas Negeri Manado untuk memberikan perhatian, pertimbangan, serta kebijakan yang adil terhadap peserta yang terdampak.
Kami berharap adanya kesempatan, dispensasi, evaluasi ulang, atau
bentuk pertimbangan lain yang dapat diberikan kepada peserta dari Kabupaten minahasa
selatan yang mengalami permasalahan tersebut.
Demikian surat keterangan kronologis kejadian ini saya buat dengan sebenar-benarnya untuk
dipergunakan sebagaimana mestinya.
Diketahui dari 10 Camaba Faked Unima melalui jalur beasiswa, kesemuanya membuat surat keterangan atau pernyataan yang selanjutnya ditunjukkan kepada Bupati Minahasa Selatan pada pertemuan beberapa hari lalu.
(Hen)*
