Dua Siswa SMP Tewas Karena Panik Lihat Rombongan Bersenjata Hingga Motor Menghantam Trotoar

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

Tangerang TransparansiIndonesia.co.id – Dua pelajar tewas tergeletak bersimbah darah di wilayah Jalur Sutera Utama, Alam Sutera, Serpong Utara, Tangerang Selatan, tepatnya di depan Sekolah Santa Laurensia. Video yang memperlihatkan jasad kedua korban tergeletak beredar di media sosial, salah satunya akun Instagram @lensabanten_official.

Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan narasi bahwa dua pelajar SMP tergeletak setelah dikejar oleh kelompok pelajar dari sekolah lain hingga terjatuh dan menabrak trotoar.

Menanggapi unggahan tersebut yang memicu berbagai spekulasi di masyarakat, Kepolisian Sektor (Polsek) Serpong menegaskan bahwa kedua korban meninggal dunia usai mengalami kecelakaan tunggal, bukan karena sabetan senjata tajam maupun aksi tawuran.

Kapolsek Serpong Kompol Suhardono mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan visum dari RSUD Kabupaten Tangerang, kedua korban berinisial A (14) dan W (15) meninggal dunia akibat benturan keras setelah sepeda motor yang mereka tumpangi menghantam trotoar. “Kami pastikan dari pemeriksaan visum dokter RSUD di Tangerang, untuk korban tidak ada luka bacok ataupun luka tusukan. Jadi murni untuk korban ini meninggal dunia karena menabrak trotoar,” tegas Suhardono saat ditemui di Pospol Alam Sutera, Jumat (9/10/2026).

Baca juga:  Pimdeprov Sulut Sambangi BAM DPR-RI, CEP Siap Kawal Aspirasi Buruh Sulawesi Utara

Suhardono menjelaskan, dugaan adanya tawuran muncul karena sebelum kecelakaan terjadi, kedua korban beserta teman-temannya sempat berpapasan dengan kelompok pelajar lain. Mulanya, sekitar pukul 15.00 WIB, sekelompok siswa dari salah satu SMP negeri di wilayah Pinang, Tangeran, Banten, yang di dalamnya terdapat kedua korban, hendak menuju wilayah Alam Sutera untuk bermain dan menonton pertandingan futsal.

Namun, ketika tiba di sekitar Bundaran Alam Sutera, mereka berpapasan dengan rombongan pelajar lain yang membawa senjata tajam dan stik golf.

Melihat rombongan bersenjata tersebut, para pelajar asal Pinang itu panik dan berupaya melarikan diri untuk menyelamatkan diri.

“Anak-anak Pinang ini karena tujuannya mau bermain futsal, mereka lari. Karena takut melihat rombongan yang membawa senjata tajam itu, mereka memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi,” jelas Suhardono. Dalam kondisi panik, satu unit sepeda motor yang ditumpangi oleh tiga orang pelajar melaju kencang hingga akhirnya hilang kendali lalu menghantam trotoar jalan dengan keras.

Baca juga:  PT. MSM Melalui CV. Culture Mandiri Gelar Sosialisasi Rehabilitasi DAS, Upaya Jaga Ekosistem Lingkungan

Suhardono menegaskan, tidak terjadi bentrokan fisik antara kedua kelompok pelajar tersebut di lokasi kejadian. “Jadi kami tekankan, belum ada yang namanya tawuran,” kata dia. Akibat insiden kecelakaan tunggal tersebut, A dan W meninggal dunia.

Suhardono membantah narasi yang menyebutkan korban mengalami kekerasan fisik berupa luka sabetan senjata tajam.

Berdasarkan hasil visum medis, luka yang terlihat dalam video berasal dari benturan keras pada bagian kepala saat korban terjatuh dan menghantam trotoar.

“Kesimpulannya, pada kedua korban tidak ditemukan luka sabetan tajam atau luka tusuk. Ditemukan luka memar di wajah, khususnya di dahi pada kedua korban, diduga akibat benturan,” ungkap Suhardono. Setelah itu, kedua jenazah korban dibawa dan ditangani di RSUD Kabupaten Tangerang.

Sementara itu, jajaran Polsek Serpong masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi serta menindak kelompok pelajar yang diduga membawa senjata tajam dan memicu kepanikan dalam peristiwa tersebut. Polisi juga mengimbau orangtua dan pihak sekolah untuk terus mengawasi serta memantau aktivitas para siswa agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

HP&TIM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *