Bapak Presiden, Anak Walikota Solo, Menantu Walikota Medan

by -18 views

Jakarta, transparansiindonesia.co.idsejarah di Indonesia, belum ada Presiden yang menjabat pemerintahan lalu anaknya menjadi Kepala Daerah. Di era Presiden Ir. H. Joko Widodo (Jokowi), suasana itu berbeda. Tatanan politik seperti mengukuhkan dan melegalkan politik dinasti  Terbukti Jokowi berhasil meloloskan anak dan menantunya menjadi Wali Kota.

Gibran Rakabuming Raka, lahir di Solo, 1 Oktober 1987 merupakan anak sulung dari Presiden Jokowi. Cukup fantastik, di usia 33 tahun, Gibran telah menjadi Wali Kota. Bukan soal pengalaman yang membuat publik penasaran. Bagi saya, bukan juga tentang pengakuan terhadap kemampuannya menjadi pemimpin kaum muda yang teruji.

Melainkan kekuatan di belakangnya. Siapa yang mengendalikan Gibran?. Kemenangan Gibran di Pilwako Solo, tidak bisa dilepas dari peran Bapaknya sebagai Presiden. Begitu juga Bobby Nasution, Wali Kota Medan yang dilantik, Jumat 26 Februari 2021 hari ini. Pria yang lahir di Medan, 5 Juli 1991 itu merupakan suami dari Kahyang Ayu yang adalah kedua dari Jokowi.

Menantu Jokowi mencatat sejarah sebagai Wali Kota termuda di Indonesia. Usia 21 tahun, posisi Bobby sama dengan Wali Kota termuda di Thiruvananthapuram Negara India yang bernama Arya Rajendra, lahir 12 Januari 1990, kemudian dilantik menjadi Wali Kota, Senin (28/12/2020). Konstruksi sejarah telah sukses dirangkai Jokowi. Dalam berdemokrasi, Jokowi mampu menaruh harga dirinya secara politik.

Meletakkan kelasnya sebagai ayah yang perkasa. Tidak main-main. Meski di musim darurat kesehatan Covid-19 hanya karena anak-anaknya maju di Pilkada, hajatan demokrasi  harus dilaksanakan. Rakyat yang rasional tentu mengerti ini. Mengkategorikan momentum pandemi sebagai ‘situasi bahaya demokrasi’. Karena birahi politik, krisis kesehatan dianggap biasa. Bahkan, kepentingan politik yang diutamakan.

Publik menilainya seperti apapun itu, Jokowi tak peduli. Tetaplah Jokowi berhasil sebagai ayah. Dia tidak rela meninggalkan anak-anaknya yang bertarung di Pilkada Serentak 9 Desember 2020. Jika saja saat anak-anaknya bertarung, posisi Jokowi hanyalah Lurah, tentu mereka berpotensi besar kalah. Ya, karena Jokowi Presiden makanya kemenangan anak-anaknya tertunaikan. Anak-anaknya kasih ingusan, sebabnya Jokowi harus memandu mereka.

Baca juga:  Didampingi Erick Thohir, Menkeu Sri Mulyani Gelar Konferensi Pers Terkait dugaan Penyelundupan Harley

Sebelum bertanding di Pilwako, mereka (Gibran dan Bobby) sudah diprediksi menang. Apa dasarnya publik berkesimpulan begitu?, tentu bukan karena keunggulan maupun modal sosial anak-anak Jokowi. Melainkan karena posisi ayah mereka. Senjata politik dinasti yang diandalkan. Begitulah, Gibran-Bobby mencipta sejarah tersendiri. Patahan sejarah demokrasi.

Kita menunggu lagi kejutan Presiden Indonesia selepas Jokowi. Apakah lebih parah dalam membangun dinasti politik ataukah tidak?. Semoga demokrasi tidak berlanjut dilucuti. Jabatan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan keluarga lagi. Sedih rasanya, puji pemimpin di Negara ini berfikirnya mengutamakan gen politiknya.

Peranan Jokowi sebagai Presiden dikapitalisasi betul untuk kepentingan keluarganya. Jejak digital memang tidak dapat dibohongi. Semua yang dilakukan Jokowi akan tercatat, terekam dan dikenang. Sekelas Presiden Soeharto yang memimpin Indonesia begitu lama, tidak melakukan hal seperti yang dilakukan Jokowi. Kalau Soeharto mau, niscaya anak keturunannya dijadikan Kepala Daerah di masanya memimpin. Suami Iriana Joko Widodo ini membuat ‘sejarah suram’. Musibah bagi proses demokrasi yang murni tanpa intervensi keluarga dan intervensi kekuasaan.

Tetap Presiden Jokowi yang memiliki peran tunggal dalam kemenangan anak-anaknya. Pendapat itu sukar dibantah. Tidak perlu si Jokowi turun langsung dalam gelanggang politik. Cukup memberi isyarat, mengedipkan mata, spontan relawan Jokowi akan gotong royong membantu. Mereka akan ramai-ramai memenangkan anak-anak Jokowi. Begitulah enaknya menjadi Presiden. Tidak serumit mereka yang tidak punya jabatan apa-apa.

Gibran juga Bobby akan menghadapi realitas baru. Dimana mereka adalah sebagai pejabat publik, siap-siaplah dikritik. Jangan manja karena mentang-mentang anak Presiden. Bekerjalah untuk rakyat yang kalian pimpin. Sekarang kalian berdua jangan dulu menepuk dada berbangga. Karena kemenangan kalian merupakan buah dari jabatan ayah. Ketika bukan Jokowi Presiden, Gibran, Bobby pasti tidak diperhitungkan dalam Pilkada.

Bagi saya, demokrasi kita tengah melewati ujian luar biasa. Rasionalitas publik dikikis. Diredupkan dengan ego super powernya kekuasaan. Siapa politisi yang berani tantang Jokowi terang-terangan saat ini?, tidak ada. Pasti tidak ada yang berani. Memuji atau mendukung Jokowi banyak dilakukan politisi kita. Sudah pasti mereka tak mau kehilangan kekuasaan atau bernasib buruk. Demokrasi yang lembut, dibayang-bayangi terror ketakutan.

Baca juga:  22-31 Juli 2018, Batas Waktu Parpol Perbaiki Berkas-Berkas Bacaleg

Dalam situasi ‘sunyi’ dari politisi bermental petarung, publik seperti hilang arah. Ramai-ramai menjadi takut, Din Syamsudin, Rocky Gerung, Fahri Hamzah, Prof. Salim Said, Muhammad Saididu, dan sederet tokoh nasional pemberani lainlah yang menjadi harapan kita. Mereka yang bermental baja, berpikiran radikal yang kita berharap turun melawan praktek pengrusakan sendi-sendi demokrasi.

Lawan politik dinasti. Lawan kapitalisasi demokrasi, tumbuhkan kesadaran demokrasi. Kembalikan kebebasan bicara kepada rakyat tanpa dihantui ketakutan. Terlalu rendah kita menghormati pemimpin yang melanggengkan kekuasaan untuk keluarga-keluarganya. Kedepan Presiden Indonesia jangan sampai membuat aib sejarahnya seperti ini. Demokrasi kita harus berperikemanusiaan dan egaliter.

Saya pesimis Gibran dan Bobby menjadi role model kepemimpinan muda di Indonesia. Selain masih terlalu hijau mereka mekar dalam ‘iklim sejuk’. Sejuknya karena ayah mereka menjadi Presiden. Belum pernah kita mendengar gagasan-gagasan besarnya. Begitu pula kiprah di organisasi kepemudaan atau di dunia kemahasiswaan. Tidak pernah ada mereka. Pemimpin instan, biasanya miskin ide pembaharuan. Ketika dangkal proyeksinya, maka Gibran Bobby bisa menemui badai politik.

Secara politik, bila Jokowi tak lagi menjadi Presiden. Mereka hilang arah, patron politiknya tak ada lagi. Nasib kedua anak muda ini bergantung pada Jokowi. Sedikit saja Jokowi lengah mengatur langkah, maka jatuhnya Jokowi juga diikuti dengan jatuh karir politik anak-anaknya tersebut. Membangun politik family memang perlu kelihaian dan skill tersendiri untuk merawatnya.

Jokowi prestisius sebagai ayah. Betapapun yang lain menilai pemimpin Indonesia yang satu ini begitu nepotisme. Dalam konteks keteladanan sebagai ayah, tentu Jokowi berhasil menempatkan dirinya. Semua ayah atau orangtua tentu menghendaki anak-anaknya berhasil. Kerinduan itu telah dibuktikan Jokowi dengan menjadikan anak-anaknya Wali Kota.

(red)*