Pala Banjer Lingkungan 2 Disorot Kinerjanya, Warga Lorkub Desak Walikota Evaluasi Serta Copot RS Alias Cobe

“Warga lorkub kecewa kinerja kepala lingkungan 2 kelurahan Banjer, perlu ketegasan walikota manado”. 

Foto karikatur
Foto karikatur

TRANSPARANSI INDONESIA.CO.ID, SOROTAN, MANADO,- Sorotan terhadap kinerja Ketua Lingkungan atau Pala kembali mencuat di Kelurahan Banjer, Kecamatan Tikala, Kota Manado.

Kali ini, sejumlah warga Lorong Kubur (Lorkub), Lingkungan 2, secara terbuka menyatakan kekecewaan terhadap RS alias Cobe, selaku Ketua Lingkungan setempat, lantaran dinilai tidak menunjukkan peran aktif dalam berbagai kegiatan positif masyarakat.

Kekecewaan warga bahkan berkembang menjadi tuntutan agar Pemerintah Kota Manado tidak sekadar menerima laporan administratif dari tingkat lingkungan, melainkan turun langsung melakukan evaluasi terhadap kinerja aparat kewilayahan yang bersentuhan paling dekat dengan masyarakat.

Salah satu warga, Samsuri Masloman, kepada Redaksi, Jumat (28/08/2026), mengatakan warga Lorkub merasa tidak mendapatkan figur pemimpin lingkungan yang mampu hadir ketika masyarakat membutuhkan dukungan, terutama dalam kegiatan sosial, gotong royong, serta aktivitas kemasyarakatan.

Menurut Samsuri, jabatan Ketua Lingkungan bukan sekadar posisi administratif yang berhenti pada urusan pendataan atau penyampaian informasi pemerintahan. Pala seharusnya menjadi penggerak masyarakat, fasilitator, koordinator sekaligus teladan yang hadir ketika warga menjalankan kegiatan demi kepentingan bersama.

“Sebagai warga, saya mewakili para tetua serta masyarakat Lorkub merasa sangat kecewa dengan kinerja Ketua Lingkungan Banjer Lingkungan 2. Kami menilai beliau terlalu pasif serta terkesan acuh terhadap kegiatan positif warga,” ujar Samsuri.

Kritik warga semakin tajam ketika membandingkan peran ideal seorang Ketua Lingkungan dengan kondisi yang mereka rasakan selama berbagai kegiatan masyarakat berlangsung.

Dalam kehidupan bermasyarakat, seorang Pala semestinya mampu menghidupkan semangat gotong royong, mengajak warga terlibat, menjembatani kepentingan masyarakat dengan pemerintah kelurahan, membantu mengkoordinasikan kegiatan serta memberikan penghargaan moral terhadap inisiatif warga.

Namun, menurut warga Lorkub, gambaran tersebut justru tidak mereka rasakan dari kepemimpinan RS alias Cobe.

 

JEMBATAN DIBANGUN SWADAYA, PALA DIPERTANYAKAN

 

Salah satu persoalan yang menjadi sorotan warga adalah kegiatan perbaikan jembatan yang berada di depan Gapura Lorkub.

Warga menyebut pekerjaan tersebut dilakukan secara swadaya selama kurang lebih tiga minggu. Dengan keterbatasan kemampuan serta sumber daya, masyarakat bergotong royong memperbaiki fasilitas yang digunakan untuk kepentingan publik.

Bagi warga, persoalannya bukan semata-mata apakah seorang Pala harus ikut mengangkat material atau bekerja secara fisik di lapangan. Kritik utama mereka berkaitan dengan kepedulian, komunikasi serta kehadiran seorang pemimpin wilayah ketika masyarakatnya melakukan kegiatan yang memiliki manfaat langsung bagi lingkungan.

Baca juga:  Kasi Pendis Kemenag Manado Menutup Serangkaian Kegiatan Workshop Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Manado 

“Warga bekerja memperbaiki jembatan selama kurang lebih tiga minggu menggunakan swadaya seadanya. Kegiatan tersebut juga beberapa kali dipublikasikan melalui media sosial. Karena itu, kami mempertanyakan bagaimana mungkin kegiatan sebesar tersebut tidak diketahui oleh Ketua Lingkungan,” ungkap salah seorang warga Lorkub.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu alasan warga meminta Pemerintah Kota Manado melakukan evaluasi secara objektif.

Warga menilai, apabila seorang Pala bahkan tidak terlihat dalam kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat di wilayah tugasnya, publik patut mempertanyakan sejauh mana fungsi pembinaan kemasyarakatan benar-benar dijalankan.

 

MOMEN HUT KEMERDEKAAN JUGA TAK LUPUT DARI SOROTAN

 

Kritik warga tidak berhenti pada persoalan jembatan.

Pada rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Lorkub menggelar berbagai perlombaan mulai 14 hingga 17 Agustus 2026 dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Kegiatan tersebut, menurut warga, merupakan momentum penting untuk memperkuat kebersamaan, persaudaraan serta semangat nasionalisme di tengah masyarakat.

Namun, warga kembali mempertanyakan ketidakhadiran RS alias Cobe dalam kegiatan tersebut.

Samsuri menyebut keberadaan seorang Ketua Lingkungan seharusnya tidak hanya terlihat ketika terdapat urusan administrasi pemerintahan, tetapi juga ketika masyarakat sedang membangun kebersamaan melalui kegiatan sosial.

“Pada saat warga Lorkub melakukan berbagai kegiatan dalam rangka HUT Kemerdekaan, kami tidak melihat kehadiran Ketua Lingkungan 2. Padahal kegiatan tersebut berada di wilayahnya sendiri dan melibatkan masyarakat,” kata Samsuri.

Bagi warga, kehadiran seorang Pala tidak harus selalu dalam bentuk kontribusi materi. Sapaan, dukungan, koordinasi, maupun sekadar hadir di tengah masyarakat dinilai sudah menjadi bentuk kepedulian seorang pemimpin lingkungan.

Karena itu, ketidakhadiran yang berulang kali disebut warga tersebut dianggap sebagai persoalan kepemimpinan, bukan sekadar persoalan hadir atau tidak hadir dalam sebuah kegiatan.

 

JANGAN HANYA JADI PALA DI ATAS KERTAS

 

Kritik warga Lorkub terhadap RS alias Cobe pada akhirnya menyentuh pertanyaan lebih mendasar: untuk siapa jabatan Ketua Lingkungan dijalankan?

Pala merupakan unsur pemerintahan paling dekat dengan masyarakat. Posisi tersebut semestinya menjadi mata, telinga serta penghubung antara warga dengan pemerintah kelurahan maupun pemerintah kota.

Baca juga:  Viral! Anggaran Proyek Revitilasasi SDN 037 Karya Indah Diduga Menguap Ratusan Juta Rupiah ke Kantong Kepsek, Publik Desak Kejari Kampar Tangkap Amin Toha

Ketika masyarakat melakukan kerja bakti, memperbaiki fasilitas umum menggunakan dana serta tenaga sendiri, kemudian menggelar kegiatan sosial dan perayaan kemerdekaan, kehadiran Pala semestinya menjadi bagian dari penguatan semangat warga.

Warga Lorkub menilai, seorang pemimpin lingkungan tidak sepatutnya hanya dikenal melalui jabatan, tetapi harus terlihat melalui kerja, komunikasi serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

“Jangan hanya menjadi Ketua Lingkungan di atas kertas. Kami membutuhkan Pala yang hadir, peduli serta mampu memberikan dukungan terhadap kegiatan positif masyarakat,” tegas Samsuri.

Meski demikian, berbagai kritik tersebut merupakan penilaian serta keterangan dari warga yang disampaikan kepada Redaksi. Sampai berita tersebut disusun, RS alias Cobe belum memberikan tanggapan atau klarifikasi mengenai tudingan warga terkait minimnya keterlibatan dalam kegiatan masyarakat Lorkub.

 

DESAK WALI KOTA TURUN TANGAN

 

Akumulasi kekecewaan tersebut membuat warga meminta Wali Kota Manado melakukan evaluasi terhadap kinerja Ketua Lingkungan 2 Kelurahan Banjer.

Warga berharap evaluasi tidak dilakukan sekadar berdasarkan laporan administratif, tetapi dengan mendengar langsung aspirasi masyarakat serta melihat kondisi sosial kemasyarakatan di wilayah tersebut.

Samsuri bersama sejumlah warga Lorkub menegaskan tuntutan agar Pemerintah Kota Manado mengevaluasi keberadaan RS alias Cobe sebagai Pala Lingkungan 2. Bahkan, warga meminta agar jabatan tersebut dicopot apabila hasil evaluasi pemerintah membuktikan adanya ketidakmampuan menjalankan fungsi pelayanan serta pembinaan masyarakat.

“Kami meminta Wali Kota Manado turun tangan, meninjau serta mengevaluasi kembali kinerja Ketua Lingkungan 2. Jika memang tidak mampu menjalankan tugas sebagaimana mestinya, kami berharap pemerintah mengambil langkah tegas,” pungkas Samsuri.

Sorotan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa jabatan Ketua Lingkungan bukanlah sekadar kedudukan struktural. Di balik jabatan tersebut terdapat tanggung jawab sosial untuk hadir, mendengar, menggerakkan serta melayani masyarakat.

Kini, bola berada di tangan Pemerintah Kota Manado. Apakah keluhan warga Lorkub akan berhenti sebagai kritik di tingkat lingkungan, atau justru menjadi dasar evaluasi serius terhadap kinerja aparat kewilayahan, sepenuhnya bergantung pada respons pemerintah.

 

(kontributor sulut, Wahyudi barik)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *