“Ahmad Rajafi: Ziarah Muassis NU jadi pengingat arah khidmat PCNU Manado”.

TRANSPARANSI INDONESIA.CO.ID, JOMBANG–BANGKALAN, JAWA TIMUR,- Rangkaian perjalanan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Manado setelah mengikuti Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, dilanjutkan dengan ziarah ke makam sejumlah ulama besar yang memiliki peran penting dalam sejarah lahir serta berkembangnya Nahdlatul Ulama.
Bagi jajaran PCNU Manado, perjalanan tersebut tidak sekadar menjadi agenda tambahan setelah mengikuti forum permusyawaratan tertinggi organisasi.
Ziarah menjadi momentum spiritual sekaligus refleksi untuk melihat kembali akar perjuangan Nahdlatul Ulama, mengingat jasa para ulama pendahulu, serta mengambil keteladanan untuk diterapkan dalam perjalanan organisasi di daerah.
Rombongan PCNU Manado berziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri atau Mbah Bisri, hingga Mbah Kholil Bangkalan.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam rangkaian tersebut, yakni Prof. Dr. KH. Ahmad Rajafi, KH. Rikson Hasanati, S.Ag., M.Pd.I., Efendi Gani, S.H.I., M.H., Sigit Waskito, H. Ahmad Nuri, Dr. Arhanudin Salim, H. Rusdi Musanip, serta Yuldi Yasin.
Ahmad Rajafi: Muktamar Bukan Sekadar Forum Organisasi
Prof. Dr. KH. Ahmad Rajafi memandang Muktamar NU ke-35 memiliki makna penting bagi perjalanan Nahdlatul Ulama, termasuk bagi PCNU Manado. Muktamar bukan sekadar forum untuk membahas persoalan internal organisasi, tetapi menjadi ruang konsolidasi, evaluasi, sekaligus peneguhan kembali arah perjuangan NU menghadapi tantangan zaman.
Menurut Ahmad Rajafi, kehadiran PCNU Manado dalam Muktamar harus dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi untuk menyerap gagasan, perkembangan pemikiran, serta berbagai keputusan strategis yang lahir dari forum besar Nahdlatul Ulama.
Muktamar, dalam pandangan tersebut, menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana organisasi mampu memberikan jawaban terhadap kebutuhan masyarakat. NU tidak boleh berhenti pada aktivitas struktural, tetapi harus hadir melalui kerja nyata di tengah umat.
Ia menekankan bahwa kepengurusan NU pada semua tingkatan mempunyai tanggung jawab untuk menerjemahkan semangat Muktamar menjadi program yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Bagi PCNU Manado, hasil Muktamar diharapkan tidak hanya berhenti sebagai dokumen organisasi, tetapi dapat menjadi pijakan dalam memperkuat pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, serta pelayanan keumatan.
Ziarah Muassis Menjadi Refleksi Perjalanan NU
Selepas mengikuti rangkaian Muktamar, perjalanan menuju makam para muassis NU memberikan suasana berbeda. Forum organisasi yang penuh dinamika dilanjutkan dengan perjalanan spiritual untuk mengenang para ulama yang telah meletakkan fondasi Nahdlatul Ulama.
Ahmad Rajafi memandang ziarah kepada para muassis memiliki makna mendalam. Menurutnya, generasi Nahdliyin tidak boleh kehilangan hubungan dengan sejarah perjuangan ulama terdahulu.
“Ziarah bukan sekadar mendatangi makam, membaca doa, kemudian meninggalkan tempat tersebut. Lebih dari itu, ziarah menjadi sarana mengingat kembali nilai perjuangan, ketulusan, keilmuan, kesabaran, ketawadukan, serta pengabdian para ulama,” katanya.
Para muassis NU telah memberikan contoh bahwa membangun umat membutuhkan ketekunan panjang. Organisasi tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan keilmuan, pesantren, dakwah, perjuangan sosial, serta perhatian terhadap kehidupan bangsa.
Karena itu, menurut Ahmad Rajafi, generasi penerus NU mempunyai kewajiban moral untuk menjaga warisan tersebut dengan cara menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Mbah Hasyim Asy’ari dan Mata Rantai Keilmuan NU
Ziarah ke makam Mbah Hasyim Asy’ari di Jombang menjadi salah satu bagian utama perjalanan PCNU Manado. Sosok KH. Hasyim Asy’ari memiliki posisi penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama sekaligus perjalanan pendidikan Islam di Indonesia.
Dari lingkungan pesantren, lahir tradisi keilmuan yang kemudian berkembang menjadi kekuatan sosial keagamaan besar. Keteladanan Mbah Hasyim memperlihatkan bagaimana ilmu agama dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.
Bagi rombongan PCNU Manado, mengenang Mbah Hasyim berarti mengenang akar perjuangan NU.
Nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika NU menghadapi perubahan sosial yang begitu cepat. Perkembangan teknologi, perubahan pola komunikasi masyarakat, persoalan pendidikan, ekonomi, generasi muda, hingga tantangan kehidupan beragama membutuhkan respons organisasi yang matang.
Dalam konteks tersebut, warisan para muassis tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata.
Mbah Wahab, Mbah Bisri hingga Mbah Kholil
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam Mbah Wahab Hasbullah serta Mbah Bisri. Kedua ulama tersebut menjadi bagian penting dari sejarah panjang Nahdlatul Ulama.
Mbah Wahab dikenal sebagai ulama sekaligus penggerak yang mempunyai kemampuan membaca perubahan zaman. Sementara Mbah Bisri dikenal sebagai ulama dengan tradisi keilmuan serta keteguhan dalam menjaga ajaran Islam melalui jalur pesantren.
Dari Jombang, perjalanan spiritual rombongan PCNU Manado berlanjut ke Bangkalan untuk berziarah ke makam Mbah Kholil.
Nama Mbah Kholil mempunyai tempat khusus dalam mata rantai keilmuan ulama Nusantara. Sosoknya dikenal luas sebagai ulama besar yang melahirkan banyak murid serta memberikan pengaruh terhadap perkembangan tradisi keilmuan Islam di Indonesia.
Bagi warga Nahdliyin, perjalanan menuju makam Mbah Kholil bukan hanya perjalanan geografis dari satu daerah menuju daerah lain. Perjalanan tersebut menjadi upaya mendekatkan generasi sekarang dengan sejarah panjang pendidikan serta dakwah para ulama.
Arah Perjuangan PCNU Manado ke Depan
Ahmad Rajafi juga menegaskan pentingnya PCNU Manado menjadikan momentum Muktamar serta ziarah sebagai energi baru untuk menjalankan amanah organisasi.
Menurutnya, tantangan NU di daerah semakin kompleks. Karena itu, organisasi membutuhkan kepengurusan yang mampu bekerja secara kolektif, terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki pijakan kuat pada tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah.
“PCNU Manado ke depan diharapkan semakin memperkuat konsolidasi internal, meningkatkan kualitas kader, memperluas dakwah, memperhatikan sektor pendidikan, serta membangun program pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.
Lanjutnya, Perhatian terhadap generasi muda juga menjadi bagian penting. Anak-anak muda Nahdliyin perlu diberikan ruang untuk berkembang, berkreasi, sekaligus memahami tradisi keislaman serta nilai kebangsaan.
NU, menurut Ahmad Rajafi, harus mampu hadir dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat. Masjid, pesantren, lembaga pendidikan, lingkungan sosial, dunia digital, hingga ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan bagian dari medan khidmat yang perlu diperhatikan.
Orientasi tersebut mengandung pesan bahwa PCNU Manado tidak boleh hanya kuat secara struktur, tetapi juga harus terasa manfaatnya oleh masyarakat.
Kekuatan organisasi tidak semata-mata diukur dari jumlah kepengurusan, melainkan dari seberapa jauh keberadaannya mampu memberikan solusi terhadap persoalan umat.
Menjaga Tradisi, Menjawab Tantangan Zaman
Rangkaian ziarah tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa modernisasi organisasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi keilmuan para ulama dapat menjadi fondasi untuk menghadapi perubahan zaman.
PCNU Manado memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Utara. Karakter masyarakat yang plural membutuhkan pendekatan dakwah yang sejuk, dialogis, moderat, serta mengedepankan persaudaraan.
Semangat menjaga persatuan juga menjadi bagian dari warisan para ulama NU. Karena itu, perjuangan organisasi di masa mendatang tidak hanya diarahkan untuk memperkuat internal Nahdliyin, tetapi juga membangun kontribusi lebih luas bagi kehidupan masyarakat.
Ahmad Rajafi menempatkan perjalanan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat kembali kesadaran bahwa NU memiliki sejarah panjang serta tanggung jawab besar.
Muktamar memberikan arah organisasi, sedangkan ziarah memberikan ruang untuk melakukan refleksi spiritual. Kedua momentum tersebut kemudian dipertemukan dalam satu tujuan, yakni bagaimana amanah organisasi dapat dijalankan secara lebih baik.
Dari Makam Muassis Menuju Khidmat Nyata
Perjalanan PCNU Manado dari Tambakberas menuju makam para muassis NU akhirnya membawa pesan yang lebih luas. Setelah mengikuti forum besar organisasi, jajaran PCNU Manado kembali diingatkan bahwa perjuangan NU dibangun melalui ketulusan serta pengabdian.
Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri, serta Mbah Kholil Bangkalan bukan sekadar nama dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Mereka merupakan simbol mata rantai keilmuan, perjuangan, dakwah, serta pengabdian yang harus terus diwariskan.
Karena itu, ziarah tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai yang diperoleh dari perjalanan tersebut harus diterjemahkan menjadi semangat kerja bagi kepengurusan PCNU Manado.
Dengan membawa semangat Muktamar serta keteladanan para muassis, PCNU Manado diharapkan mampu memasuki fase perjuangan berikutnya dengan konsolidasi lebih kuat, kaderisasi lebih terarah, pelayanan keumatan lebih luas, serta kontribusi sosial yang semakin nyata.
Bagi Ahmad Rajafi bersama jajaran PCNU Manado, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa semakin besar organisasi, semakin besar pula tanggung jawab untuk memberikan manfaat.
Dari Tambakberas, semangat Muktamar dibawa pulang. Dari makam para muassis, keteladanan kembali direnungkan. Selanjutnya, seluruh nilai tersebut diharapkan bermuara pada satu agenda utama: memperkuat khidmat NU untuk umat, masyarakat, bangsa, serta kemanusiaan.
Dengan demikian, perjalanan PCNU Manado di Jawa Timur bukan sekadar rangkaian kegiatan organisasi, melainkan sebuah perjalanan yang mempertemukan musyawarah, sejarah, tradisi keilmuan, spiritualitas, serta tekad untuk melanjutkan perjuangan para ulama dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini.
(kontributor sulut, Wahyudi barik)
