Tak Mengenal Lelah di Garis Kemanusiaan, Tagana Manado di Bawah Komando Samsuri Masloman Perkuat Pengabdian di MBW

“Bukan Sekadar Berjaga, Relawan Tagana Manado Buktikan Arti Pengabdian dan Kepedulian di Malalayang Beach Walk”.

Foto
Foto

TRANSPARANSIINDONESIA.CO.ID, PEMERINTAHAN, MANADO,- Pengabdian sejati tidak selalu hadir melalui panggung kehormatan, sorotan kamera, ataupun tepuk tangan masyarakat.

Terkadang, pengabdian justru tumbuh dalam kesunyian posko, melalui kesediaan meluangkan waktu, menjaga kesiapsiagaan, memperkuat persaudaraan, serta menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas kepentingan pribadi.

Semangat pengabdian tersebut terus ditunjukkan para relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Manado melalui pelaksanaan piket posko di kawasan Malalayang Beach Walk (MBW), Manado.

Di bawah kepemimpinan Ketua Forum Tagana Manado, Samsuri Masloman, para relawan terus menjaga kekompakan, kedisiplinan, serta semangat kebersamaan dalam menjalankan tanggung jawab kemanusiaan. Kehadiran para relawan di kawasan MBW bukan sekadar menjalankan jadwal piket, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap keselamatan masyarakat.

Bagi seorang relawan, tugas kemanusiaan tidak semata-mata diukur melalui banyaknya kegiatan ataupun panjangnya waktu bertugas. Nilai pengabdian juga tercermin melalui ketulusan menjalankan tanggung jawab, kesediaan memberikan perhatian kepada sesama, serta kesiapan menghadapi situasi darurat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Posko menjadi salah satu ruang penting bagi relawan untuk memelihara koordinasi dan kesiapsiagaan. Di balik aktivitas piket, terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap gerakan kerelawanan. Setiap anggota dituntut memahami peran, menghargai sesama petugas, menjaga komunikasi, serta mengutamakan keselamatan dalam setiap pelaksanaan tugas.

Kepemimpinan dalam organisasi kerelawanan bukan hanya tentang memberikan arahan. Lebih daripada itu, seorang pemimpin dituntut mampu menjaga semangat anggota, membangun rasa persaudaraan, menyelesaikan persoalan melalui komunikasi, serta memastikan setiap relawan memahami arti tanggung jawab kemanusiaan.

Samsuri Masloman sebagai Ketua Forum Tagana Manado memegang peran penting dalam memelihara kebersamaan para relawan selama pelaksanaan piket posko MBW.

Baca juga:  Angkasa Pura Pastikan Layanan Optimal bagi Kepulangan Jamaah Haji Sulawesi Utara

Kekompakan menjadi modal utama bagi organisasi kemanusiaan. Tanpa solidaritas, koordinasi akan mudah terganggu. Tanpa kedisiplinan, kesiapsiagaan sulit dipertahankan. Tanpa rasa tanggung jawab, pengabdian berisiko berhenti sebatas seragam dan simbol organisasi.

Karena alasan tersebut, semangat kebersamaan perlu terus dipelihara melalui pembagian tugas secara teratur, komunikasi yang terbuka, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, serta sikap saling menghormati di antara sesama relawan.

Bagi Tagana, kebersamaan bukan sekadar slogan organisasi. Kebersamaan merupakan kekuatan untuk menghadapi tantangan, menjaga kesinambungan pelayanan, dan memastikan tugas kemanusiaan dijalankan secara terarah.

Konsistensi menjalankan piket juga menjadi gambaran kesungguhan para relawan dalam mempertahankan kesiapsiagaan. Mereka perlu menjaga kondisi fisik, memperhatikan lingkungan sekitar, melakukan koordinasi apabila ditemukan potensi bahaya, serta mengetahui langkah tepat ketika terjadi keadaan darurat.

Ketua Forum Tagana Manado, Samsuri Masloman, dalam pernyataannya menegaskan pentingnya menjaga komitmen, solidaritas, serta ketulusan dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

“Bagi saya, menjadi relawan Tagana bukan sekadar mengenakan seragam atau hadir di posko untuk memenuhi jadwal piket. Ada tanggung jawab moral besar di balik tugas tersebut. Kita membawa semangat kemanusiaan, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk terus belajar dan mempersiapkan diri agar mampu memberikan pelayanan secara tepat ketika masyarakat membutuhkan bantuan”, jelasnya kepada awak media belum lama ini.

 

Dirinya juga mengatakan, keberadaan relawan di Malalayang Beach Walk harus dimaknai sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi.

Kita ingin setiap anggota memahami tugas masing-masing, menjaga kedisiplinan, serta mampu bekerja bersama dalam suasana penuh persaudaraan.

Kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada jumlah anggota, tetapi juga pada kualitas kebersamaan, integritas, dan kesungguhan setiap relawan dalam menjalankan tanggung jawabnya.

 

“Pada prinsipnya selalu menekankan pentingnya menjaga kekompakan. Jangan sampai perbedaan pendapat melemahkan semangat pengabdian. Setiap persoalan sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi yang baik, sikap saling menghargai, dan kesediaan mendahulukan kepentingan organisasi serta masyarakat. Kita berada dalam satu wadah dengan tujuan kemanusiaan, sehingga semangat persaudaraan harus menjadi dasar dalam setiap pelaksanaan tugas,” tuturnya.

Baca juga:  Rahman Salehe: Menapaki Jalan Pengabdian, Mengubah Kesuksesan Menjadi Manfaat bagi Sesama

Baginya kata Masloman,piket posko membutuhkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. Setiap relawan perlu memahami jadwal, menjaga kesiapan diri, mematuhi prosedur keselamatan, serta membangun koordinasi bersama pihak terkait.

Kita tidak boleh memandang tugas piket sebagai kegiatan rutin tanpa makna. Kesiapsiagaan justru harus dibangun sebelum keadaan darurat terjadi, bukan setelah masyarakat menghadapi kesulitan.

“ Harapan terbesar bagi seluruh anggota terus meningkatkan kemampuan, memperluas pengetahuan, dan menjaga sikap profesional. Niat baik harus berjalan bersama keterampilan, pemahaman prosedur, serta kemampuan bekerja dalam tim. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, relawan harus mampu bertindak sesuai kapasitas, berkoordinasi dengan petugas berwenang, dan tidak mengambil langkah berisiko di luar kompetensi,” ungkap Masloman.

Lebih jauh lagi kata Masloman, Seraya berterimakasih kepada seluruh anggota Tagana Manado atas komitmen dan kesediaan meluangkan waktu untuk menjalankan tugas.

“Saya mengajak seluruh relawan agar tetap menjaga semangat, memperkuat solidaritas, serta merawat kepercayaan masyarakat melalui perilaku disiplin dan pelayanan tulus. Jangan pernah mengukur pengabdian hanya melalui pujian. Ukurlah melalui kesungguhan menjalankan amanah dan manfaat nyata bagi sesama,” ungkapnya.

Di penghujung wawancara, Dirinya berharap agar tagana manado terus berkembang sebagai organisasi kerelawanan sosial yang solid, tanggap, dan bertanggung jawab.

“Semoga keberadaan kita mampu memperkuat budaya kesiapsiagaan, menumbuhkan kepedulian, serta menghadirkan semangat kemanusiaan dalam kehidupan masyarakat Kota Manado.”tutupnya.

 

(kontributor sulut, Wahyudi barik)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *