“Saat api merenggut tempat tinggal, kepedulian Hijabers Kawanua Sulut menjadi penguat hati para Korban kebakaran”.


TRANSPARANSIINFORMASI.CO.ID, SERBA- SERBI, MANADO,- Duka masih menyelimuti warga Kelurahan Sindulang Satu, Lingkungan I, Kota Manado, setelah musibah kebakaran menghanguskan 27 rumah serta berdampak terhadap 32 kepala keluarga atau sekitar 134 jiwa.
Di tengah kehilangan tempat tinggal, harta benda, serta kenangan berharga, kepedulian sesama menjadi kekuatan bagi warga untuk kembali menata kehidupan. Kehangatan tersebut hadir melalui kunjungan Yayasan Hijabers Kawanua Sulawesi Utara pada Sabtu (17/10/2026) sore.
Ketua Yayasan Hijabers Kawanua Sulawesi Utara, Bunda Fauziah Stella Pakadja, SE, bersama jajaran pengurus mendatangi warga terdampak. Kehadiran mereka bukan sekadar membawa bantuan kebutuhan sehari-hari, melainkan juga memberikan perhatian serta penguatan moral bagi keluarga korban.
Bagi warga terdampak, kehilangan rumah bukan perkara ringan. Tempat berlindung bagi keluarga, ruang tumbuh bagi anak-anak, serta berbagai kenangan yang tersimpan di dalam rumah seketika berubah menjadi bagian dari musibah.
Di tengah keadaan sulit, uluran tangan sesama menjadi pengingat bahwa para korban tidak harus menghadapi masa pemulihan seorang diri.
Dalam kunjungan tersebut, Hijabers Kawanua Sulut menyalurkan sejumlah bantuan bagi keluarga terdampak kebakaran. Bantuan mencakup 32 unit kasur, pakaian yang disusun dalam keranjang, beras, serta air mineral.
Perhatian turut diberikan kepada anak-anak melalui pembagian kue dan donat. Kehadiran bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan dasar keluarga, sekaligus menghadirkan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak di tengah suasana duka.
Sebanyak 32 kasur menjadi bagian penting dari bantuan tersebut. Bagi keluarga kehilangan tempat tinggal, perlengkapan sederhana untuk beristirahat memiliki arti besar dalam menjalani hari-hari penuh ketidakpastian.
Bantuan pakaian, beras, serta air mineral juga diharapkan meringankan beban warga dalam memenuhi kebutuhan harian selama masa pemulihan.
Kepedulian semacam tersebut menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan tidak selalu hadir melalui bantuan besar. Perhatian tulus, kehadiran langsung, serta kesediaan berbagi dapat menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Bunda Fauziah Stella Pakadja bersama para pengurus turut memberikan dukungan moril kepada warga. Para korban diajak untuk tetap tabah menghadapi musibah, sembari memandang cobaan sebagai ujian dari Sang Maha Kuasa.
Penguatan semangat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Sebab, setelah kobaran api padam, perjuangan warga belum berakhir. Mereka masih harus menghadapi kenyataan kehilangan tempat tinggal serta berupaya membangun kembali kehidupan keluarga.
Kehadiran para relawan dan komunitas sosial di tengah warga diharapkan dapat menumbuhkan keyakinan bahwa harapan tetap terbuka. Kesedihan mungkin belum segera hilang, tetapi kepedulian dapat membantu menguatkan langkah untuk bangkit.
Bagi anak-anak, perhatian berupa makanan ringan maupun pakaian dapat menghadirkan senyum kecil di tengah pengalaman pahit. Bagi orang tua, bantuan kebutuhan pokok dapat mengurangi sebagian beban pikiran saat berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
Di balik setiap bantuan, tersimpan pesan sederhana: penderitaan sesama bukan untuk dibiarkan, melainkan menjadi panggilan untuk saling menolong.
Kegiatan kunjungan tersebut turut dihadiri Pembina Hijabers Kawanua Sulut, Muhammad Sopyan, yang juga menjabat Kepala Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Manado.
Hadir pula Lurah Sindulang Satu, perwakilan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Manado, serta unsur Kepolisian Sektor Tuminting.
Kehadiran unsur pemerintah, lembaga sosial, serta kepolisian memperlihatkan pentingnya perhatian bersama terhadap warga yang tertimpa musibah. Koordinasi serta dukungan berbagai pihak diperlukan agar kebutuhan korban dapat teridentifikasi dan proses pemulihan berjalan lebih baik.
Bencana kebakaran bukan hanya menyisakan kerusakan bangunan. Musibah juga dapat mengganggu kehidupan sosial, aktivitas ekonomi keluarga, serta rasa aman warga. Karena itu, perhatian terhadap kebutuhan mendesak perlu berjalan beriringan dengan upaya pemulihan dalam jangka panjang.
Musibah kebakaran di Sindulang Satu menjadi pengingat bahwa kehilangan dapat terjadi tanpa diduga. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul keluarga kini meninggalkan duka mendalam bagi warga terdampak.
Namun, di tengah puing-puing bangunan, kepedulian masih tumbuh. Kunjungan Hijabers Kawanua Sulut membawa pesan bahwa nilai persaudaraan tetap hidup ketika masyarakat bersedia hadir bagi sesama.
Bantuan yang disalurkan mungkin belum mampu menggantikan seluruh harta benda yang hilang. Meski demikian, perhatian tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membantu warga memenuhi kebutuhan dasar serta menguatkan hati menghadapi hari-hari mendatang.
Bagi 32 kepala keluarga terdampak, perjalanan untuk bangkit tentu membutuhkan waktu, dukungan, serta semangat yang tidak putus. Solidaritas masyarakat diharapkan terus berlanjut agar anak-anak tetap memiliki harapan, orang tua kembali memperoleh ketenangan, serta setiap keluarga dapat menata kehidupan secara bertahap.
Pada akhirnya, makna kepedulian bukan semata-mata terletak pada jumlah bantuan yang diberikan. Makna terbesarnya hadir ketika seseorang bersedia datang, melihat penderitaan sesama, mengulurkan tangan, serta menyampaikan pesan bahwa tidak ada keluarga yang pantas merasa sendirian saat menghadapi musibah.
Dari Sindulang Satu, pesan kemanusiaan tersebut kembali menemukan maknanya: ketika api merenggut tempat tinggal, kasih sayang serta kepedulian dapat membantu menyalakan kembali harapan.
(kontributor sulut, Wahyudi barik)
