Pewarna : Era New Normal Pasca Covid-19 Memberi Pelajaran Komunikasi Publik Hadapi Krisis

Pewarna : Era New Normal Pasca Covid-19 Memberi Pelajaran Komunikasi Publik Hadapi Krisis

Jakarta Transparansi Indonesia.co.id-‘Outbreak’ Pandemi Covid-19 merupakan peristiwa langka, bisa dibilang sebagai wabah seratus tahun sekali sebagaimana Kolera, Campak, dan Flu Spanyol berjangkit pada 1720, 1820, dan 1920.

Ketidaksiapan menghadapi serangan Corona memberikan banyak pelajaran berarti, tak terkecuali pada krisis komunikasi. Kehumasan pemerintah harus jungkir balik mengorkestrasi narasi. Misalnya, saling ralat antar pejabat, maupun kebijakan dari menteri yang kerap tak sinkron dengan keputusan sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan Ketua II Pewarna, Agustinus Raharjo saat menjadi penanggap dalam Webinar yang digelar DPP Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) pada Rabu petang, 20 Mei 2020. Diskusi online ini mengambil tema ‘Hidup New Normal Menghadapi Covid-19’.

“Pandemi ini membuat banyak sektor belajar banyak. Tak terkecuali pada sektor ‘Government Public Relations’ atau kehumasan pemerintah. Semoga pada era ‘New Normal’ nanti penangannya lebih baik lagi,” katanya.

Saat membuka diskusi, Ketua Umum DPP PIKI Baktinendra Prawiro mengungkapkan, keadaan seperti yang kita alami saat ini menurut para ahli masih akan berlangsung lama beberapa saat ke depan dalam waktu cukup lama.

“Setidaknya, krisis Covid-19 menguji kita pada tiga hal utama, yakni sistem kesehatan, kepemimpinan negara serta modal sosial,” jelasnya mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan,

Pada era ‘New Normal’ nanti, sisi kesehatan dan ekonomi akan berjalan seiring bak dua keping mata uang logam. Situasi yang tidak normal sekarang bisa jadi ‘Normal Baru’ lebih panjang lagi.

“Virus Corona akan tetap eksis, tapi tidak berarti dunia akan kiamat,” tegasnya memberikan optimisme.
Karena itulah, tambah Baktinendra, ‘New Normal’ menuntut pola hidup sehat, membutuhkan kepemimpinan tegas, serta menekankan pentingnya adaptasi menghadapi perubahan dalam relasi sosial yang kini lebih ‘heavy’ pada penguasaan dunia digital.

Pembicara pertama yang hadir pada diskusi ini yakni praktisi kesehatan masyarakat, Dr. Evi Douren. “Yang kita sebut ‘New Normal’ itu sesungguhnya bukan hal baru, hanya saja kali ini kadar sosial dan politiknya berbeda. Terutama karena pada wabah sebelumnya, pengaruh media sosial belum ada seperti kita alami sekarang,” tukasnya.

Sementara itu, sosiolog Dr Edy Siswoyo menekankan takjubnya pada kondisi ‘Beyond The New Normal’ saat ini. Bagaimana semua hal bisa berlangsung serba virtual. Rapat-rapat berlangsung dalam zoom meeting, kantor dan konser pun digelar virtual.

“Apakah ini efektif? Tergantung apakah sistemnya benar-benar berjalan normal,” ungkapnya.

Satu pembicara lain dalam diskusi ini yakni Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Theo Litaay. Dosen UKSW Salatiga ini mengakui, mengedukasi masyarakat di masa Pandemi Covid-19 merupakan sebuah tantangan besar.

“Di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar ini ternyata membuat orang tetap tinggal di rumah bukan suatu hal yang mudah,” keluhnya.
HM/red

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.