” Sekum FOSDA, Ustad Taufik Adam katakan: Dorong Regenerasi Da’i Berakhlak dan Cerdas”.

TRANSPARANSI INDONESIA.CO.ID, RELIGIUS, MANADO,- Kota Manado kembali menunjukkan geliat penguatan Dakwah Islam Moderat, melalui berbagai program pembinaan keumatan yang digagas oleh Forum Silaturahmi Da’i Manado atau (FOSDA).
Organisasi dakwah yang selama beberapa tahun terakhir aktif membangun komunikasi antar pendakwah, serta memperkuat pembinaan umat tersebut kini menegaskan komitmennya melalui sejumlah agenda strategis, mulai dari pelaksanaan Safari Magrib dari masjid ke masjid, penyusunan jadwal khatib Jumat, pelaksanaan khutbah Idul Fitri dan Idul Adha 1447 Hijriah, hingga program unggulan berupa Pelatihan Da’i FOSDA yang direncanakan berlangsung pada bulan Juni mendatang.
Sekretaris Umum FOSDA, Ustad Taufik Adam, menyampaikan bahwa seluruh program dakwah yang sedang dijalankan bukan sekadar agenda seremonial keagamaan, melainkan bagian dari upaya besar membangun generasi pendakwah yang mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan santun, moderat, cerdas, serta tetap berpijak pada nilai-nilai akhlakul karimah.
Menurutnya, dakwah pada era modern tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan berbicara di atas mimbar, melainkan juga membutuhkan kapasitas intelektual, kedewasaan emosional, kemampuan memahami persoalan sosial masyarakat, serta keteladanan moral dalam kehidupan sehari-hari. Karena alasan tersebut, FOSDA berupaya membangun sistem pembinaan yang terarah agar lahir kader-kader da’i muda yang tidak hanya memiliki kemampuan retorika, tetapi juga mampu menjadi perekat persatuan umat.
Dalam keterangannya, Ustad Taufik Adam menegaskan bahwa FOSDA selama ini terus menjalankan sejumlah program rutin keagamaan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat Muslim di Kota Manado.
Selain menyusun jadwal khutbah Jumat dan khutbah hari raya, organisasi tersebut juga aktif melaksanakan Safari Magrib setiap hari Ahad atau Minggu dengan pola kunjungan dari satu masjid ke masjid lainnya.
Program Safari Magrib dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah antarjamaah serta mempererat hubungan antara para da’i dengan masyarakat di berbagai wilayah.
Melalui kegiatan tersebut, para pendakwah tidak hanya menyampaikan ceramah agama, melainkan juga berdialog langsung dengan jamaah terkait berbagai persoalan sosial, pendidikan, moral generasi muda, hingga tantangan kehidupan umat di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi.
“FOSDA tidak hanya fokus pada kegiatan khutbah semata. Kami memiliki tanggung jawab moral untuk membangun pembinaan umat secara menyeluruh. Karena itu Safari Magrib terus kami jalankan secara rutin sebagai wadah silaturahmi sekaligus sarana dakwah yang menyentuh langsung masyarakat,” ujar Ustad Taufik Adam, kepada awak media, Senin (18/5/26) Siang tadi.
Ia menjelaskan, pendekatan dakwah dari masjid ke masjid memiliki makna strategis karena masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual, melainkan pusat pembinaan umat, pusat pendidikan akhlak, pusat persatuan masyarakat, sekaligus ruang penguatan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial.
Menurutnya, kondisi sosial masyarakat modern saat ini menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi dunia dakwah. Perkembangan media sosial, derasnya arus informasi, munculnya berbagai bentuk provokasi digital, hingga penyebaran paham ekstrem maupun intoleran menjadi tantangan serius yang harus dihadapi dengan pendekatan dakwah yang sejuk dan berorientasi pada persatuan.
Karena alasan tersebut, FOSDA merasa perlu memperkuat proses kaderisasi pendakwah muda melalui Program Pelatihan Da’i FOSDA yang direncanakan berlangsung pada bulan Juni mendatang. Program tersebut disebut sebagai salah satu agenda unggulan organisasi dalam mencetak generasi da’i masa depan yang mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.
Taufik Adam menyampaikan bahwa program pelatihan tersebut akan merekrut anak-anak muda dari 11 kecamatan yang ada di Kota Manado. Peserta yang akan dilibatkan berasal dari berbagai unsur pembinaan umat, mulai dari remaja masjid, pegawai syara’, hingga pengurus Badan Takmir Masjid atau BTM.
Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk keseriusan FOSDA dalam membangun regenerasi dakwah yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Organisasi tersebut ingin memastikan bahwa estafet dakwah Islam di Kota Manado terus berjalan melalui lahirnya kader-kader muda yang memiliki pemahaman agama kuat, wawasan kebangsaan baik, serta kemampuan berkomunikasi secara santun dan bijaksana.
“Pelatihan Da’i FOSDA bukan hanya pelatihan ceramah. Kami ingin membentuk karakter pendakwah yang moderat, cerdas, santun, serta memiliki akhlak mulia dalam berdakwah. Dakwah harus menghadirkan kesejukan, bukan perpecahan,” tegas Taufik Adam.
Dirinya juga menekankan bahwa seorang da’i pada masa kini harus mampu memahami kondisi sosial masyarakat secara menyeluruh. Pendakwah, menurutnya, tidak boleh terjebak dalam pola komunikasi keras yang berpotensi menimbulkan konflik di tengah kehidupan umat yang majemuk.
Kota Manado sebagai wilayah dengan tingkat keberagaman tinggi membutuhkan pendekatan dakwah yang penuh hikmah, menghargai perbedaan, serta mengedepankan nilai persaudaraan antarumat beragama. Karena itu, FOSDA memandang pembentukan karakter da’i moderat sebagai kebutuhan mendesak dalam menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan masyarakat.
Selain fokus pada pembinaan generasi muda, FOSDA juga berupaya memperkuat kualitas dakwah melalui peningkatan kapasitas para pengurus masjid dan pegawai syara’.
Menurut Ustad Taufik Adam, masjid memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan moral masyarakat, terutama di tengah meningkatnya tantangan sosial seperti penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, pergaulan bebas, serta krisis moral generasi muda.
Melalui berbagai program pembinaan tersebut, FOSDA berharap masjid dapat kembali menjadi pusat pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai spiritual masyarakat Muslim. Organisasi tersebut juga berupaya menjadikan masjid sebagai ruang dialog sosial yang terbuka, ramah, dan mampu menjawab kebutuhan umat secara konkret.
Dalam pelaksanaan Safari Magrib, para da’i FOSDA tidak hanya memberikan tausiyah keagamaan, tetapi juga melakukan pendekatan dialogis dengan jamaah. Berbagai aspirasi masyarakat terkait persoalan keluarga, pendidikan anak, pembinaan remaja, hingga kondisi sosial lingkungan turut menjadi perhatian dalam setiap kegiatan dakwah yang dilaksanakan.
Taufik Adam juga menjelaskan secara panjang lebar bahwa, pendekatan dialogis sangat penting agar dakwah tidak terkesan berjarak dengan realitas kehidupan masyarakat. Pendakwah harus hadir sebagai sahabat umat, pendengar persoalan masyarakat, sekaligus pemberi solusi berdasarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
Pihaknya menilai, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya ceramah yang disampaikan, tetapi juga sejauh mana dakwah mampu menghadirkan perubahan moral, memperkuat persatuan, serta menciptakan ketenangan sosial di tengah masyarakat.
“Da’i harus menjadi teladan dalam tutur kata, sikap, serta perilaku sosial. Dakwah bukan hanya berbicara di mimbar, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Program Pelatihan Da’i FOSDA nantinya direncanakan akan memuat berbagai materi pembinaan, mulai dari ilmu dakwah, teknik komunikasi publik, penguatan akidah, wawasan kebangsaan, manajemen organisasi masjid, hingga pemanfaatan media digital dalam penyebaran dakwah positif.
Langkah tersebut dilakukan karena FOSDA menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara drastis. Media sosial kini menjadi salah satu ruang utama penyebaran informasi keagamaan, sehingga para da’i muda perlu dibekali kemampuan literasi digital agar mampu menyampaikan pesan dakwah secara bijak dan bertanggung jawab.
Adam menilai bahwa tantangan terbesar dunia dakwah modern bukan hanya soal minimnya kader pendakwah, melainkan juga munculnya penyebaran informasi agama yang tidak terverifikasi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Karena alasan tersebut, FOSDA ingin memastikan bahwa generasi da’i muda memiliki kemampuan menyampaikan ajaran Islam secara benar, damai, serta mengedepankan semangat persatuan bangsa.
Dirinya berharap program pelatihan tersebut mampu melahirkan generasi pendakwah yang dekat dengan masyarakat, memahami persoalan umat secara nyata, serta mampu menjadi agen perubahan sosial yang positif.
Menurutnya, dakwah Islam harus hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan kehidupan masyarakat modern. Pendakwah tidak boleh hanya fokus pada aspek ritual semata, tetapi juga harus peduli terhadap persoalan pendidikan, ekonomi umat, moral generasi muda, hingga penguatan solidaritas sosial.
FOSDA optimistis bahwa melalui pembinaan yang berkelanjutan, Kota Manado akan memiliki semakin banyak generasi da’i muda yang mampu menjadi pelopor kedamaian, penguat ukhuwah Islamiyah, serta penjaga nilai-nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam pandangan FOSDA, dakwah yang efektif merupakan dakwah yang mampu menyentuh hati masyarakat melalui keteladanan, kelembutan, serta kemampuan membangun komunikasi yang menenangkan. Pendekatan keras dan provokatif dinilai tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat modern yang membutuhkan kesejukan spiritual serta ketenangan sosial.
Karena itu, organisasi tersebut terus mendorong lahirnya model dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman namun tetap kokoh dalam prinsip-prinsip ajaran Islam.
“Harapan kami, generasi muda Muslim di Kota Manado mampu tampil menjadi pendakwah yang cerdas, santun, berwawasan luas, dan mampu menjaga persatuan umat serta bangsa. Dakwah harus menjadi jalan menghadirkan kedamaian,” tutup Ustad Taufik Adam.
(kontributor sulut, Wahyudi barik)
