Singkirkan Chevron, Pertamina Kuasai Blok Rokan

by -250 views

Jakartatransparansiindonesia.co.id – Menjadi bersejarah dalam industri perminyakan Tanah Air. Setelah 47 tahun dikelola perusahaan minyak asing, Chevron, akhirnya  Blok Rokan yang terdiri dari ladang minyak Minas dan Duri, jatuh ke tangan BUMN Pertamina.

Pertamina mendapat 100% hak partisipasi Blok Rokan yang akan terminasi 2021.

Dengan keputusan ini maka Pertamina akan menjadi operator di Blok Rokan yang merupakan ladang minyak terbesar di Asia Tenggara, mulai 8 Agustus 2021.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar mengatakan keputusan ini diambil bukan karena faktor politis.

Melainkan dari hasil evaluasi pemerintah dalam beberapa bulan terakhir hingga Selasa (31/7) sore.

“Setelah lihat proposal yang dimasukkan pada hari ini jam 5 sore maka pemerintah lewat Menteri ESDM menetapkan pengelolaan Blok Rokan mulai tahun 2021 selama 20 tahun ke depan akan diberikan kepada Pertamina” ungkap Arcandra dalam konferensi pers yang digelar di Kementerian ESDM pada Selasa (31/7) malam.

Arcandra menyebut ada tiga faktor yang menjadi pertimbangan dalam keputusan terkait Blok Rokan Ketiga faktor tersebut adalah signature bonus, potensi pendapatan negara, dan diskresi Menteri ESDM

Dari faktor diskresi Menteri, Pertamina hanya meminta diskresi 8% kepada pemerintah.

“Karena ini menggunakan Gross Split, Pertamina minta diskresi 8%. Dan pemerintah sepakat dengan usulan Pertamina,” ujar Arcandra

Dari sisi Signature Bonus, Pertamina menawarkan signature bonus sebesar US$ 784 juta ata setara Rp.11,3 Trilliun, ditambah dengan komitmen kerja pasti selama lima tahun sebesar US$ 500 juta atau sebesar Rp.7,2 Triliiun.

Dari sisi pendapatan Pertamina menawarkan potensi pendapatan Negara selama 20 tahun kedepan sebesar US$ 57 Milliar atau sekitar Rp.825 Trilliun. Dengan bagian negara (government take) sebesar 48% selama 20 tahun.

“Insya Allah potensi pendapatan ini, bisa menjadi pendapatan dan kebaikan bagi kita bangsa Indonesia. Sekali lagi selamat, Pertamina yang diberi amanat Pemerintah untuk kelola Blok Rokan dari 2021 sampai 2041,” imbuh Arcandra.

Arcandra juga menyebut, tidak diperpanjangnya kontrak Chevron di Blok Rokan, karena penawaran Chevron lebih kecil dibandingkan Pertamina. “Penawaran Chevron jauh dibawah penawaran yang diajukan Pertamina,” ungkapnya.

Tidak lupa Arcandra juga mengapresiasi Chevron yang saat ini menjadi operator Blok Rokan. Chevron sejauh ini telah mempertahankan produksi Rokan dikisaran angka 200.000 BOPD. “Atas nama pemerintah kami mengucapkan terima kasih kepada Chevron yang sudah mengelola Blok ini. Semoga Chevron tetap mau Investasi di Indonesia, selain Blok Rokan,” ujarnya.

Baca juga:  Penyalaan Seribu Lilin dalam Acara Syukur 45 Tahun KKK Mengabdi

Sementara Amine Sunaryadi Kepala SKK Migas menjelaskan Pemerintah memutuskan setelah PSC dengan Pertamina ditanda-tangani, maka fokus berikutnya Chrvrin dan Pertamina akan melakukan kegiatan transaksi sampai dengan masa kontrak habis, guna menjaga produksi agar tidak turun.

Terdapat dua lapangan minyak raksasa di Blok Rokan, Riau. Kedua lapangan itu adalah Minas dan Duri, lapangan Minas yang telah memproduksi minyak hingga 4,5 Milliar Barel minyak sejak mulai berproduksi pada tahun 1970-an adalah lapangan minyak terbesar di Asia Tenggara.

Blok Rokan yang memiliki luas wilayah 6,264 KM2, pada tahun 2016 lalu masih mampu menghasilkan minyak hingga 256.000 bph (barel per hari), hampir sepertiga dari total produksi minyak nasional saat ini, Chevron sudah memegang kontrak Blok Rokan sejak tahun 1971, atau sekitar 50 tahun lalu.

Entah kebetulan atau tidak, keputusan Pemerintah Jokowi ini menjawab Amien Rais yang dilontarkan sehari sebelumnya. Politikus senior dan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menantang Presiden Joko Widodo dan Menteri ESDM Ignasius Jonan untuk merebut kembali Blok Rokan.

“Kalau betul Blok Rokan bisa kembali ke Ibu Pertiwi, ke Pertamina, ini sebuah terobosan luar biasa, cuma berani nggak Jonan, berani nggak Pak Jokowi,,?? Kalau berani ya.. Luar biasa,” tutur Amien Rais di Gedung Nusantara V MPR, Jakarta.

Amien menyampaikan hal itu dalam seminar nasional yang digelar oleh perkumpulan bernama Gerakan Rakyat untuk Kedaulatan Blok Rokan (GRKBR). Selain membahas tentang seluk-beluk Blok Rokan, acara ini juga diisi dengan penanda-tanganan petisi rakyat untuk Blok Rokan.

“Mudah-mudahan blok-blok lain, termasuk Freeport juga bisa kembali, jadi ini sebuah aksi politik, aksi kebangsaan, aksi patriotik, aksi pembela bangsa dan rakyat,” tambah Amien.

Petisi itu berisi 7 poin yang intinya merebut kembali Blok Rokan daru Chevron, berikut Isinya;

1. Memutuskan bahwa kontrak Blok Rokan yang telah dikelola oleh Chevron selama setengah abad, tidak akan diperpanjang, pasca selesainya kontrak 2021.

2. Mengembalikan Blok Rokan ke pangkuan Ibu Pertiwi dengan menetapkan konsorsium BUMN dan BUMD sebagai pengelola 100% Blok Rokan sejak 2021, sesuai amanat pasal 33 UUD 1945.

Baca juga:  Soegiharto Dukung Presiden Tunjuk Komjen Listyo Calon Tunggal Kapolri

3. Menolak berbagai upaya dan tekanan negara dan perusahaan asing, termasuk tawaran kerja sama ekonomi, banyak finansial dan komitmen investasi eksploitasi Blok Rokan dalam upaya untuk memperoleh perpanjangan kontrak.

4. Menjamin pemilik sesuai ketentuan saham Blok Rokan oleh BUMD (Pemprov Riau dan Kabupaten terkait) yang pelaksanaannya dikoordinasikan dan dijamin oleh pemerintah pusat bersama Pertamina tanpa partisipasu aatau kerja sama dengan pihak swasta.

5. Membebaskan keputusan Blok Rokan dari pemburu rente oleh para oknum penguasa dan pengusaha dilingkar kekuasaan dan upaya untuk memperoleh dukungan politik dan logistik guna memenangkan Pemilu/Pilpres 2019.

6. Mengikis habis pejabat-pejabat pemerintah yang telah menjadi kaki-tangan asing dengan berbagai cara, antara lain, yang dengan sengaja atau tidak sengaja, atau secara langsung maupun tidak langsung, telah memanipulasi informasi, melakukan kebohongan publik, melecehkan kemampuan SDM, manajemen dan kemampuan finansial Pertamina, serta merendahkan martabat bangsa sendiri.

7. Meminta KPK untuk terlibat aktif mengawasi proses penyelesaian status kontrak Blok Rokan secara menyeluruh, termasuk kontrak-kontrak sumber daya alam lainnya.

 

PT Pertamina sangat bahagia mendapatkan Blok Rokan. Setelah resmi mendapatkan Blok Rokan pada 2021 mendatang, pihaknya akan menaikan produksi menjadi 500.000 bph.

Pelaksana tugas (Plt) Dirut Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan pihaknya akan menaikan produksi di Blok Rokan hingga mencapai 500.000 barel per hari, “saya senang Pertamina dapat Blok Rokan, kami sudah bikin proposal yang tidak mungkin ditolak pemerintah,” ungkap Nicke.

Dia menjelaskan pihaknya dalam mengelola Blok Rokan akan mencari mitra tetapi memang, pengelolaan masih lama. “Tentu kita akan mencari mitra untuk share down, termasuk Blok Rokan, tapi Rokan itu masih jauh (2021) yang 8 Blok terminasi tahun ini dulu akan kita cari mitra, tapi berapa persen yang kami share down, belum kami tentukan,” tambah Nicke.

Nicke mengatakan dalam menentukan mitra, tentu sebagai BUMN, pihaknya akan mengedepankan Good Corporate Governance(GCG),

“Untuk itu sebelum share down, kami konsultasikan dengan berbagai pihak, seperti Jamdatun dsb,supaya terjaga GCG-nya,” ungkap Nicke.

(red)*