Warga Masyarakat Apresiasi Tindakan TNI/Polri Atasi Para Pendemo dalam Aksi 22 Mei

by -209 views

Jakarta, transparansiindonesia.co.id — Aksi22 Mei yang berujung rusuh di sejumlah wilayah Ibu Kota, disesalkan seluruh pihak.

Sebab, kerusuhan mengakibatkan delapan orang tewas dan ratusan warga terluka, lantaran aparat keamanan dinilai terlalu baik menangani keadaan.

Penilaian tersebut disampaikan oleh Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo, merujuk upaya aparat TNI dan Polri dalam memitigasi kerusuhan yang terjadi di DKI Jakarta pada 21-22 Mei 2019 lalu.

Menurutnya, upaya pengamanan yang dilakukan di pusat unjuk rasa, yakni Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat, telah maksimal.

Namun, aparat dinilai terlalu baik dalam menghadapi massa yang bertindak anarkis.

“Saya dan para akademisi menganalisis aparat kita terlalu baik. Aparat kita cenderung takut kena HAM,” ungkapnya dalam siaran tertulis, Sabtu (25/5/2019).

Menurut pria yang akrab disapa Kikiek itu, ketegasan aparat dibutuhkan dalam menegakkan keamanan negara.

Massa yang menggelar aksi unjuk rasa jauh melewati batas waktu yang ditentukan, seharusnya dibubarkan paksa.

“Mereka jelas melanggar hukum. Ini pola kerusuhan seperti yang terjadi pada Mei 1998, tapi kemampuan aparat intelijen sudah lebih canggih, jauh lebih canggih dari saat 98,” ulasnya.

Sebab, ungkapnya, para pendemo tidak dapat berorasi lebih dari 12 jam, yakni mulai dari siang hingga malam, dan memicu kerusuhan pada dini hari.

Apalagi, kerusuhan diketahui terjadi bukan di pusat unjuk rasa, tetapi terjadi di sejumlah sudut Ibu Kota.

“Artinya didatangkan orang lain. Dari pengumuman polisi orang yang ditangkap dari daerah, Jogja, Jatim, Jateng, Jabar, Banten, Medan, dan NTB,” ungkap Kikiek.

Penilaiannya bukan tanpa dasar. Sebab, berkaca kepada krisis politik, mulai dari tahun 1974 yang dikenal dengan peristiwa Malari, Tragedi 98, hingga kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019, polanya hampir sama.

Kerusuhan dipicu salah satu pihak kalah secara politik dan ingin bertahan menggunakan cara jalanan.

“Cara jalanan ini dibuat supaya ada trigger (pemicu), untuk punya dampak politis lebih besar,” cetusnya.

“Pada kasus yang sekarang ini yang terjadi adalah pengkondisian lingkungan politis dari awal, pemilu curang, ini itulah, segala macam, terutama dengan hoaks,” paparnya.

Sehingga, menurutnya, pengumuman hasil rekapitulasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, khususnya Pemilihan Presiden (Pilpres) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menetapkan Jokowi-Maruf Amin pemenang lebih awal, yakni pada Selasa (21/5/2019), sangat menguntungkan dari situasi keamanan.

“Kalau sesuai setting pertama tanggal 22 Mei pasti meledak, lebih besar, akan lebih besar kerusuhannya,” ucap Kikiek.

Tunggu Hasil Investigasi

Sementara, Mabes Polri masih menunggu hasil investigasi dari tim bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, terkait penyebab kematian para korban kerusuhan aksi 22Mei.

“Tunggu hasil investigasi tim yang sudah dibentuk, nanti akan diupdate secara lengkap,” ujar Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (24/5/2019).

Ia menjelaskan, tim bentukan Kapolri itu akan dipimpin secara langsung oleh Irwasum.

Nantinya, kata dia, Irwasum akan bekerja sama dengan lembaga imparsial dalam melakukan investigasi tersebut.

Mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu menyebut, lembaga imparsial yang terlibat dalam investigasi ini antara lain Komnas HAM dan SETARA Institute.

Baca juga:  Kuasa Hukum Minta Nasabah Kresna Life Ajukan Perjanjian Damai Yang Lebih Baik

Lebih lanjut, jenderal bintang satu itu mengaku belum mengetahui kapan hasil investigasi akan keluar.

Pihaknya baru akan melakukan rapat guna menyampaikan tindak lanjut ke depannya.

“Prosesnya harus sangat detail dan mengumpulkan dulu berbagai macam alat bukti di lapangan, melakukan pemeriksaan menyangkut peristiwa,” jelasnya.

Tangkap 441 Perusuh

Mabes Polri mengonfirmasi per tanggal 24 Mei 2019, telah mengamankan 441 perusuh dari sejumlah lokasi kerusuhan di Jakarta.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, kini pihaknya tengah mendalami dan memeriksa para perusuh yang berjumlah ratusan tersebut.

“Saat ini sudah 441 terduga pelaku perusuh yang sudah diamankan oleh kepolisian, dan saat ini masih dalam proses pemeriksaan,” ujar Dedi Prasetyo.

Nantinya, kata dia, penyidik Polda Metro Jaya akan melihat dan mendalami peran masing-masing perusuh tersebut.

Sehingga, diharapkan dapat mengungkap siapa aktor intelektual di balik kerusuhan yang menelan korban jiwa tersebut.

“Diklasifikasi dan dipilah-pilah siapa yang sebagai pelaku lapangan, siapa sebagai operator atau koordinator lapangan, dan sampai dengan aktor intelektual di balik kerusuhan tersebut,” papar mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu.

Sebelumnya diberitakan Wartakotalive.com, sebanyak empat dari 257 tersangka kasus kerusuhan aksi 22 Mei, positif menggunakan narkoba.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, keempat tersangka diketahui memakai narkoba, setelah pihak kepolisian memeriksa urine mereka.

“Setelah kita periksa semua, tes urine, ada empat orang dinyatakan positif narkotika,” ujar Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Kamis (23/5/2019).

Keempat tersangka tersebut berinisial RIL, RI, YO, dan NH. Tersangka RIL positif mengonsumsi amphetamine dan methampetamine. Sedangkan tersangka RI positif methampetamine.

“Kemudian, tersangka YO positif methampetamine, kemudian tersangka NH dia positif benzo,” jelas Argo Yuwono.

Keempat tersangka tersebut merupakan pelaku kerusuhan di depan Gedung Bawaslu, Rabu (22/5/2019) dini hari. Saat ini, polisi masih mendalami peran para tersangka.

“Kita sedang menyelidiki peran-perannya apa,” ucap Argo Yuwono.

Dua Tersangka Terafiliasi ISIS

Sementara, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Muhammad Iqbal mengatakan, diduga kerusuhan aksi 22 Mei sudah direncanakan alias by desain

‎”257 orang ini diduga dimobilisasi, disetting by desain dan terus didalami. Kami Polri profesional ungkap siapa yang menggerakkan,” ungkap Iqbal di Kantor Kemenko Polhukam, Kamis (23/5/2019).

Jenderal bintang dua ini melanjutkan, dari hasil pengembangan, diketahui dua tersangka ada yang terafiliasi dengan Kelompok Gerakan Reformis Islam (Garis), di mana Ketua Dewan Syuro-nya adalah terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir.

“Dari keterangan dua tersangka itu, mereka mengakui memang berniat untuk berjihad di aksi 21 dan 22 Mei. Kami punya bukti kuat, ‎seperti kita ketahui, kelompok Garis ini pernah menyatakan sebagai pendukung ISIS Indonesia,” papar Iqbal.

‎Bahkan, lanjut Iqbal, kelompok Garis sudah pernah mengirimkan kader mereka ke Suriah. Kini kedua tersangka dari kelompok Garis itu telah ditahan di Polda Metro Jaya.

“Hal ini penting saya sampaikan ke publik bahwa memang fix ada kelompok penunggang di aksi 21 dan 22 Mei. Ada berbagai kelompok, termasuk kelompok yang diduga terafiliasi pada ISIS,” bebernya.

Iqbal menyampaikan, kedua tersangka itu bahkan menyebut nama beberapa tokoh yang kini tengah dicari oleh kepolisian.

Baca juga:  ASN Tak Boleh Rangkap Jabatan Jadi Kepala Desa

Lebih lanjut jenderal bintang dua itu menungkapkan, ada kelompok selain GARIS yang juga menyusup dalam aksi 22 Mei.

Kelompok ini disebutnya membawa dua senjata api, berusaha memancing kerusuhan serta menciptakan martir. Tujuannya, agar publik marah dan berpaling dari aparat keamanan.

“Kelompok yang membawa senjata (adalah) kelompok lain lagi, kelompok yang ingin memancing kerusuhan,” terangnya.

“Mereka ingin menciptakan martir apabila ada korban, sehingga terjadi kemarahan publik kepada aparat keamanan. Ini kami terus dalami, kami terus mengejar sesuai strategi penyelidikan,” paparnya.

Tangkap 185 Orang Lagi

Setelah menetapkan 257 tersangka kerusuhan aksi 22 Mei, Polda Metro Jaya kembali mengamankan 185 orang lainnya.

Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan, 185 orang ini diamankan pada Rabu (22/5/2019) malam.

“Kami menangkap 185 orang tadi malam,” cetus Iqbal.

Ia mengatakan, penangkapan ratusan perusuh itu dilakukan di sejumlah titik kerusuhan.

Di wilayah Jakarta Pusat mereka diamankan di sekitar kawasan Bawaslu, Patung Kuda, Sarinah, Menteng, dan Gambir.

Sedangkan di wilayah Jakarta Barat, kepolisian mengamankan perusuh dari kawasan Slipi dan Petamburan.

“Bervariasi, tempat kejadian perkara, di depan Bawaslu, sekitar Bawaslu, Patung Kuda, Sarinah, Menteng, Gambir, sekitar Slipi, dan Petamburan,” jelas mantan Wakapolda Jawa Timur itu.

Para perusuh itu membawa sejumlah benda ketika diamankan aparat. Salah satunya, tombak yang diduga telah disiapkan untuk aksi kerusuhan.

Untuk saat ini, jenderal bintang dua itu menyebut 185 orang yang diamankan masih diperiksa oleh jajarannya.

“Benda-benda berbahaya lainnya juga dilempar, ada berupa tombak dan sebagainya,” terangnya.

“Menurut petugas, kemarin dari beberapa massa yang kita amankan tadi malam bahwa alat-alat tersebut sudah dipersiapkan,” imbuhnya.

Preman Tanah Abang Terlibat

Sebelumnya, Mabes Polri mengungkap keterlibatan preman-preman Tanah Abang dalam aksi 22 Mei yang berakhir ricuh di sejumlah wilayah Ibu Kota.

Mereka turut andil dalam kerusuhan, selain dari para pelaku yang berasal dari luar daerah seperti dari Jawa Barat hingga Banten.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, para preman dibayar sebesar Rp 300 ribu per hari untuk membuat kerusuhan.

“Sisanya (selain dari luar daerah) itu betul preman Tanah Abang. Preman Tanah Abang ya, dibayar. Rp 300 ribu per hari, sekali datang, dikasih duit,” ujar Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/5/2019).

Para perusuh bayaran itu mengaku menerima uang sebagai imbalan atas perbuatannya. Hal ini disebut Dedi Prasetyo tertuang dalam berita acara pemeriksaan (BAP) para pelaku.

Mereka juga mengaku menyusup atau mendompleng ke dalam kelompok-kelompok atau massa pendemo.

Tak hanya itu, mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu mengatakan para perusuh bayaran tersebut berusaha memprovokasi dan mempengaruhi psikologi massa.

“Dari hasil pemeriksaannya juga, para tersangka tersebut mengakui bahwa uang yang diterimanya tersebut sebagai imbalan untuk melakukan aksi yang rusuh,” jelasnya.

“Karena mereka masuk menyusup dan melakukan provokasi berupa pelemparan, penyerangan, perusakan, pembakaran secara masif oleh kelompok tersebut,” papar Dedi Prasetyo.

“Akhirnya massa sesuai dengan psikologi massa terpengaruh. Crowd itu terpengaruh oleh provokasi-provokasi para pelaku tersebut,” jelasnya.

(red)*