Dampak Covid-19 Bagi Petani Modoinding

by -911 views

Minsel, transparansiindonesia.co.id — Wabah Covid-19 yang menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, dan bahkan dunia pada umumnya, tentunya sangat berpengaruh disemua sektor kehidupan manusia, tak terkecuali disektor perekonomian.

Kabupaten Minahasa Selatan Walaupun belum ada warga yang terkonfirmasi positif Covid-19, namun upaya pencegahan terus dilakukan agar wabah Covid-19 tak sampai ke wilayah Minsel sehingga tak ada masyarakat Minsel yang terpapar Covid-19.

Wilayah Kecamatan Modoinding yang merupakan wilayah paling selatan di Kabupaten Minahasa Selatan, terkenal dengan produk Holtikultura, sehingga Modoinding dijuluki sebagai dapurnya Indonesia Timur, namun sejak Wabah Covid-19 masuk ke Provinsi Sulawesi Utara pada awal Maret lalu, sektor perekonomian di wilayah Modoinding mengalami penurunan.

Para petani Modoinding, sangat marasakan dampak dari Covid-19 ini, dimana produk andalan Modoinding seperti sayur, kini banyak yang tak lagi bisa dipasarkan.

Kenapa,?? Karena sebelum wabah Covid-19 melanda Indonesia dan Sulawesi Utara pada khususnya, Bahan-bahan dari Modoinding banyak yang dipasarkan ke berbagai wilayah di Sulawesi Utara dan Indonesia Timur, namun sejak wabah Covid-19 melanda sampai saat ini, para pedagang sayur, tak lagi membeli sayuran.
Kendaraan yang mengangkut bahan-bahan sayur dari Modoinding pun saat ini mengalami penurunan, karena dampak Covid-19 saat ini.

Baca juga:  Gelar Pemeriksaan Mata Gratis, PPI Kabupaten Minsel Tuai Apresiasi

Salah satu petani Modoinding mengatakan bahwa saat ini, banyak sayur yang sebenarnya sudah harus dipanen, namun tidak jadi dipanen karena tidak ada yang membeli, (memborong), sehingga bahan atau produk sayur-sayur tersebut dibiarkan di kebun.

Untuk melakukan penanaman kembali, tentunya para petani juga harus memerlukan modal untuk biaya tanam sampai panen.

“Dampak Covid-19 juga sangat berpengaruh bagi kami petani di Modoinding, karena banyak hasil yang seharusnya sudah bisa dipanen, namun belum bisa dipanen karena belum ada pembelinya (pemborong), untuk memanen hasil tersebut tentunya kami pula memerlukan dana untuk biaya sewa para pekerja, jadi kami juga sangat merasakan dampak dari Covid-19 ini,” ujar salah satu petani.

Baca juga:  Diawali Ibadah Peletakan Batu Pertama, Dandes 2020 Kinamang Satu Laksanakan Pembangunan Talud

Sementara itu salah satu warga yang biasanya memborong hasil petani lalu dipasarkan di Manado dan sekitarnya juga mengatakan bahwa, mereka juga sangat merasakan dampak dari Covid-19 tersebut, dimana biasanya ada sekitar 10 kendaraan yang mengangkut bahan ke tempat tujuan (Pasar-pasar di Manado) kini sejak pandemi Covid-19 kendaraan yang mengangkut mengalami penurunan yang diakibatkan karena permintaan yang juga menurun.

“Memang sangat dirasakan oleh kami warga Modoinding baik petani maupun pemborong sayuran, karena permintaan akan sayuran menurun sehingga banyak sayuran yang seharusnya sudah bisa dipanen, akhirnya tak jadi dipanen karena tak tahu akan dipasarkan ke mana,” ujar warga Modoinding yang berprofesi sebagai pemborong sayur.

Tentunya ini juga sangat berdampak bagi tingkat perekonomian Modoinding, daya beli masyarakat menurun karena pendapatan atau penghasilan warga Modoinding khususnya petani mengalami penurunan.

(Hengly)*