SULUT, TI – Kamis, 19 Maret 2026 merupakan hari raya Nyepi yang dirayakan oleh umat Hindu, dengan mengangkat tema ‘Manawasewa, Madhawasewa’ yang artinya Melayani Sesama adalah Melayani Tuhan.
Perayaan hari raya Nyepi, juga mendapat perhatian dari sosok Legislator Senayan asal Sulawesi Utara, DR (HC). Christiany Eugenia Paruntu SE., S.Th., MA.
Di perayaan Nyepi tahun 2026, sesuai dengan tema yang diangkat, Christiany Eugenia Paruntu mengajak para umat Hindu di Indonesia terlebih di Sulawesi Utara untuk memaknai keheningan dalam perayaan Nyepi agar lebih memperkuat kepedulian dan kasih, serta pengabdian kepada sesama.
“Nyepi tahun 2026, adalah momentum terbaik memaknai keheningan untuk lebih memperkuat kepedulian dan kasih serta pengabdian kepada sesama,” ujar Tetty Paruntu, anggota DPR-RI dari fraksi Golkar.
Selanjutnya, Christiany Eugenia Paruntu yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Utara tersebut mengajak agar dalam kesunyian di hari raya Nyepi, kita dapat belajar mendengar suara hati, menata diri dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjalani kehidupan yang lebih harmonis.
Momentum Nyepi tahun 2026 jatuh di bulan Ramadhan yang oleh umat muslim sedang dan sementara menjalankan ibadah puasa dan sesuai perkiraan jatuh pada dua hari sebelum hari raya idul fitri.
Selain itu juga, perayaan Nyepi tahun 2026 jatuh ditengah-tengah umat Kristiani sementara menghayati minggu-minggu sengsara, sebelum peristiwa kematian Yesus di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga, yang disebut Paskah.
Maka dari itu, Christiany Eugenia Paruntu yang merupakan Srikandi dengan segudang prestasi tersebut mengatakan bahwa pentingnya toleransi di Sulawesi Utara oleh karena bulan ini merupakan bulan yang sangat spesial dimana ada beberapa perayaan keagamaan.
Perayaan hari raya Nyepi biasanya ditandai dengan kegiatan upacara Melasti, pawai ogoh-ogoh, dan penyepian.
Untuk diketahui, bandara internasional I Gusti Ngurah Rai Bali ditutup dan penyeberangan Ketapang – Gilimanuk dihentikan sementara.
“Nyepi merupakan momen suci untuk refleksi diri, penyucian diri, dan alam semesta, serta menjaga kedamaian. Selamat merayakan Hari Raya Nyepi bagi yang merayakan, Rahajeng Rahina Nyepi Warsa Saka 1948” tutup mantan Bupati Minsel dua periode tersebut. (Hen)*
