Pergunu Sulut Siapkan Try Out TKA 2026, Pemetaan Kompetensi Murid Jadi Strategi Penguatan Mutu Pendidikan

“Hi.Ahmad Sholeh: Try Out TKA Harus Jadi Dasar Perbaikan Mutu Pendidikan”.

Foto istimewa
Foto istimewa

TRANSPARANSI INDONESIA.CO.ID, PENDIDIKAN, SULUT,- Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PW Pergunu) Sulawesi Utara, mengambil langkah strategis memperkuat kualitas pendidikan madrasah serta sekolah melalui penyelenggaraan Try Out,Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun Pelajaran 2026/2027.

Tentunya bagi peserta didik jenjang SD/MI, SMP/MTs, serta SMA/MA se-Sulawesi Utara.

Program tersebut tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan simulasi menjelang pelaksanaan TKA. Pergunu Sulut merancang Try Out sebagai instrumen pemetaan kompetensi akademik sekaligus sarana evaluasi pembelajaran agar satuan pendidikan memperoleh gambaran lebih terukur mengenai kemampuan peserta didik.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat peningkatan mutu pendidikan tidak cukup dilakukan melalui proses pembelajaran rutin di ruang kelas. Satuan pendidikan membutuhkan data objektif mengenai capaian peserta didik sehingga guru dapat mengetahui aspek pembelajaran sudah dikuasai maupun kompetensi masih membutuhkan penguatan.

Ketua PW Pergunu Sulut, Hi. Ahmad Sholeh, M.Pd, menegaskan pendidikan merupakan fondasi utama pembentukan sumber daya manusia unggul, berkarakter, memiliki kemampuan akademik, serta mampu menghadapi tuntutan perkembangan zaman.

Menurut Ahmad Sholeh, peningkatan kualitas pendidikan harus dibangun melalui perencanaan matang, evaluasi terukur, pembinaan berkelanjutan, serta kolaborasi berbagai pihak. Evaluasi tidak boleh berhenti pada pencatatan nilai, melainkan harus menghasilkan langkah konkret bagi perbaikan pembelajaran.

“Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun sumber daya manusia unggul, berkarakter, serta berdaya saing. Karena itu, peningkatan mutu pendidikan membutuhkan proses terencana, sistematis, terukur, serta berkelanjutan. Try Out TKA kami dorong bukan sekadar latihan menghadapi ujian, tetapi menjadi sarana pemetaan kemampuan peserta didik,” ujar Ahmad Sholeh, kepada awak media, Rabu (19/8/26) tadi Pagi.

Ia menjelaskan, hasil asesmen memiliki fungsi penting bagi guru, kepala sekolah, pengawas, pengelola madrasah, maupun pemangku kepentingan pendidikan. Data hasil Try Out dapat digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan akademik peserta didik sekaligus menemukan materi atau kompetensi masih membutuhkan pendampingan.

Baca juga:  Parkir Manado Masuk Era Digital, Dishub Genjot QRIS untuk Perkuat Transparansi Pendapatan

Menurutnya, pendekatan berbasis data akan membuat program pembinaan lebih tepat sasaran. Guru tidak lagi hanya mengandalkan perkiraan terhadap kemampuan peserta didik, tetapi dapat menyusun strategi pembelajaran berdasarkan hasil pengukuran.

“Nilai harus dibaca sebagai informasi akademik. Ketika terdapat kompetensi belum dikuasai secara optimal, sekolah harus mampu merespons melalui pembinaan, remedial, pengayaan, pendampingan, serta penguatan metode pembelajaran. Dari sana, hasil asesmen benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan,” jelasnya.

Program Try Out TKA Pergunu Sulut juga berkaitan dengan kebutuhan peserta didik menghadapi sistem evaluasi akademik secara lebih siap. Peserta tidak hanya dituntut memahami materi pelajaran, tetapi juga membutuhkan kemampuan membaca soal, mengolah informasi, menggunakan logika, melakukan penalaran, serta menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Kesiapan tersebut menjadi semakin penting ketika peserta didik berada pada jenjang akhir pendidikan. Siswa kelas VI SD/MI, kelas IX SMP/MTs, serta kelas XII SMA/MA berada pada fase pendidikan membutuhkan pengukuran kemampuan secara lebih komprehensif sebagai bahan evaluasi capaian pembelajaran.

Karena alasan tersebut, sasaran Try Out ditetapkan pada peserta didik jenjang akhir dari satuan pendidikan negeri maupun swasta di bawah pembinaan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Sulawesi Utara.

Kegiatan memperoleh rekomendasi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara melalui Surat Nomor B-855/Kw.23.2.5/PP.00/07/2026 tertanggal 23 Juli 2026. Ketua panitia pelaksana dipercayakan kepada Syukry Sahid, S.Ag.

Pergunu Sulut menyiapkan kegiatan melalui tahapan terstruktur mulai registrasi, bimbingan teknis, pengiriman data peserta, distribusi akun, pelaksanaan ujian, pengolahan hasil, penyampaian laporan, hingga penguatan materi melalui webinar.

Registrasi peserta dijadwalkan berlangsung pada 3–14 Agustus 2026. Pada tahap tersebut, madrasah maupun sekolah melakukan pendaftaran peserta sesuai mekanisme telah ditetapkan panitia.

Tahap berikutnya berupa bimbingan teknis pada 27 Agustus 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring pukul 09.00–10.00 WITA dengan peserta Wakil Kepala Madrasah atau sekolah bidang kurikulum serta proktor.

Baca juga:  LSM-AMTI Desak PPK Proyek Preservasi Jalan Worotican-Poigar, Worotican-Poopo-Sinisir Dicopot

Pengiriman data peserta dijadwalkan pada 28 Agustus hingga 4 September 2026. Selanjutnya distribusi akun madrasah, sekolah, serta peserta berlangsung pada 7–11 September 2026.

Pelaksanaan Try Out utama berlangsung 14–25 September 2026. Panitia memberikan fleksibilitas kepada madrasah maupun sekolah dalam menentukan hari serta jam pelaksanaan sesuai kondisi dan kesiapan masing-masing satuan pendidikan.

Dari sisi teknologi, Pergunu Sulut menggandeng PT TDW Kinarya Indonesia berkedudukan di Yogyakarta sebagai mitra pelaksana. Perusahaan tersebut dilibatkan dalam penyediaan sistem Computer Based Test (CBT), pengembangan instrumen asesmen, pengolahan hasil ujian, analisis kompetensi, serta penyajian laporan.

Pemanfaatan sistem CBT menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Try Out. Sistem digital memungkinkan proses pengerjaan, penilaian, serta pengolahan hasil dilakukan secara lebih terstruktur.

Ahmad Sholeh menilai hasil evaluasi harus segera diterjemahkan menjadi program pembinaan.

“Ketika hasil ujian sudah tersedia, pekerjaan belum selesai. Justru dari sana proses penting dimulai. Guru harus membaca hasilnya, kepala sekolah atau madrasah harus melihat peta kompetensi peserta didik, kemudian menyusun langkah pembinaan berdasarkan kebutuhan masing-masing,” kata Ahmad Sholeh.

Ia menambahkan, perbedaan kemampuan peserta didik merupakan kenyataan dalam proses pendidikan. Karena itu, pendekatan pembelajaran tidak seharusnya disamaratakan tanpa mempertimbangkan hasil evaluasi.

Melalui simulasi, peserta didik memperoleh pengalaman menghadapi mekanisme ujian sebelum memasuki pelaksanaan TKA sesungguhnya.

“Anak-anak perlu diberi pengalaman. Mereka harus memahami cara mengikuti ujian, mengatur waktu, membaca soal secara cermat, serta menjaga konsentrasi. Dengan simulasi, rasa percaya diri dapat dibangun lebih awal,” ujar Ahmad Sholeh.

Ahmad Sholeh menegaskan kembali, pentingnya perubahan cara pandang terhadap evaluasi.

“Evaluasi harus menghasilkan tindakan. Jangan sampai setelah ujian selesai, hasil hanya tersimpan dalam dokumen. Data harus dibaca, dibahas, lalu diterjemahkan menjadi program. Di situlah nilai strategis sebuah asesmen,” tegasnya.

 

(kontributor sulut, Wahyudi barik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *