Bahas 4 Poin dengan PM Vietnam, Jokowi Singgung Hambatan Dagang

by -28 views

Jakarta Transparansi Indonesia.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini kedatangan tamu penting Perdana Menteri Vietnam yang baru Phạm Minh Chính. Kedatangannya dalam rangka menghadiri ASEAN Leaders Meeting yang digerlar besok.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, Jokowi dan PM Vietnam itu sudah melakukan pertemuan. Ada beberapa hal yang dibahas.

“Presiden menegaskan Indonesia memiliki komitmen untuk trus menjalin hubungan bilateral yg saling menguntungkan bagi kedua rakyat. Bapak Presiden menyampaikan Vietnam adalah sahabat Indonesia dan mitra startegis RI di Asia Tenggara,” tuturnya dilansir dari akun Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (23/4/2021).

Retno menjelaskan, bagi Indonesia, Vietnam adalah mitra dagang keempat terbesar di ASEAN. Nilai perdagangan kedua negara naik hampir dua kali lipat dalam 5 tahun terakhir.

Baca juga:  Bamsoet; "Kalau JK Kena Aturan, Cawapres Ideal Dampingi Jokowi Adalah Prabowo, Supaya Tidak ada Lagi Pertarungan Tajam"

“Indonesia berada dalam urutan 28 FDI Vietnam, dan urutan kelima di antara FDI ASEAN. Investasi indonesia di vietnam antara lain berupa bidang pertambangan, pacakaging batu bara, semen, properti, perternakan, otomotif dan lain sebagainya,” tambahnya.

Ada 4 isu yang dibahas dalam pertemuan bilateral tersebut. Pertama, pentingnya penguatan kerja sama kesehatan di tengah pandemi. Salah satunya dengan kesetaraan akses vaksin.

“Presiden mendorong kedua negara untuk menyerukan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara, dan untuk jangka panjang menciptakan ketahanan kesehatan di Asia Tenggara,” tuturnya.

Baca juga:  Panglima TNI Lakukan Mutasi Jabatan, Inilah Ke 35 Pati tersebut

Kedua, lanjut Retno, Jokowi menekankan pentingnya peningkatan kerja sama ekonomi. Jokowi mengajak Vietnam untuk menurunkan hambatan baik di bidang dagang maupun investasi.

“Yang ketiga, Presiden tekankan pentingnya percepatan perundingan perbatasan zona ekonomi eksklusif. Perundingan tersebut telah berlangsung 11 tahun dan presiden menekankan pentingnya untuk mempercepat penyelesaian perundingan. Pesiden menyarankan agar tim teknis kedua negara dapat segera berunding kembali dan menyelesaikan negosiasi,” tambahnya.

Keempat, perkembangan situasi di Myanmar. Kedua pemimpin melakukan tukar pandangan situasi terakhir di Myanmar dan menyampaikan keprihatinan atas berlangsungnya kekerasan dan jatuhnya kroban jiwa.

HM