ACC Tanam 5.000 Mangrove di Kubu Raya, Perkuat Komitmen Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat

“ACC Wujudkan Program Keberlanjutan Melalui Penanaman Mangrove dan Penguatan Ekonomi Lokal”.

Foto
Foto

TRANSPARANSI INDONESIA.CO.ID, EKONOMI,- Komitmen terhadap Pelestarian Lingkungan Hidup dan Penguatan Ekonomi Masyarakat kembali ditegaskan oleh Astra Credit Companies, melalui Pelaksanaan Program Corporate Social Responsibility (CSR) berupa penanaman ribuan bibit mangrove di kawasan pesisir Kalimantan Barat.

Kegiatan yang berlangsung di Kawasan Pelangi Kapuas Park, Mangrove Desa Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya, pada 11 Mei 2026 tersebut menjadi simbol kuat keterlibatan dunia usaha dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan sekaligus memperkuat kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir dari ancaman kerusakan lingkungan dan dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, ACC melakukan penanaman sebanyak 5.000 bibit mangrove bakau sebagai bagian dari langkah rehabilitasi kawasan pesisir yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan serius akibat abrasi, perubahan iklim, hingga aktivitas manusia yang berdampak terhadap keseimbangan ekosistem. Program tersebut bukan sekadar seremoni penanaman pohon, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan yang diarahkan untuk memberikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat pesisir.

Kegiatan penanaman mangrove tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan ACC, di antaranya Chief Operating Officer ACC Devy Santoso Jayadi, Chief Human Capital Officer Fredericus Radix Wikanto, EVP Corporate Communication & ESR Riadi Prasodjo, Area Manager ACC Kalimantan Willy Winardi, Area Manager Sulawesi Kalimantan Lince Tandililing, serta Branch Manager ACC Pontianak Benny Luck. Kehadiran para pimpinan perusahaan menunjukkan bahwa program keberlanjutan tidak ditempatkan sebagai kegiatan pelengkap semata, melainkan menjadi bagian integral dari arah kebijakan perusahaan dalam membangun hubungan harmonis antara dunia usaha, masyarakat, dan lingkungan hidup.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah melalui keterlibatan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Barat Setiyo Haryani serta Kepala Desa Sungai Kupah Ismail. Kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat lokal dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan program rehabilitasi lingkungan dapat berjalan efektif, terukur, dan memberikan manfaat nyata dalam jangka panjang.

Chief Operating Officer ACC Devy Santoso Jayadi menegaskan bahwa pelaksanaan program penanaman mangrove tersebut merupakan bentuk konkret komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan yang terus dikembangkan dalam berbagai sektor kegiatan perusahaan. Menurutnya, perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam menciptakan pertumbuhan bisnis, tetapi juga berkewajiban menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi program CSR ACC pada pilar lingkungan yang fokus pada upaya pelestarian ekosistem pesisir sekaligus penguatan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan. Melalui kegiatan penanaman mangrove ini, ACC berharap dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujar Devy Santoso Jayadi dalam keterangannya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa paradigma tanggung jawab sosial perusahaan kini telah bergerak lebih jauh dari sekadar bantuan sosial konvensional menuju pendekatan pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial masyarakat.

Keberadaan hutan mangrove sendiri memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan gelombang pasang, mangrove juga menjadi habitat berbagai jenis biota laut yang memiliki nilai ekonomi penting bagi masyarakat pesisir. Dalam konteks perubahan iklim global, mangrove dikenal sebagai salah satu ekosistem yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon sehingga keberadaannya sangat penting dalam mendukung upaya mitigasi emisi gas rumah kaca.

Baca juga:  AMTI Bongkar Dugaan “Setting Tender” Proyek Puluhan Miliar di BWS Sulut I, Nama Pejabat Ikut Disorot

Para pemerhati lingkungan menilai rehabilitasi mangrove menjadi salah satu solusi efektif dalam menghadapi ancaman kerusakan pesisir yang kini terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Kerusakan kawasan pesisir tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan dan sumber daya laut.

Desa Sungai Kupah sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi ekowisata mangrove di Kalimantan Barat. Kawasan Pelangi Kapuas Park menjadi destinasi yang mulai berkembang dan mendapat perhatian masyarakat karena menyajikan keindahan hutan mangrove yang berpadu dengan ekosistem pesisir alami. Kehadiran program penanaman mangrove dari ACC diharapkan semakin memperkuat upaya konservasi kawasan sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan dan wisata berkelanjutan.

Kepala Desa Sungai Kupah Ismail menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan ACC dalam mendukung rehabilitasi lingkungan di wilayahnya. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat besar tidak hanya bagi kelestarian alam, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kawasan pesisir dari ancaman kerusakan lingkungan.

Ia menilai keterlibatan perusahaan dalam kegiatan konservasi lingkungan menjadi bentuk sinergi yang sangat dibutuhkan di tengah meningkatnya tantangan ekologis akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tidak terkendali. Dengan adanya dukungan berbagai pihak, masyarakat desa diharapkan semakin aktif menjaga kawasan mangrove sebagai aset lingkungan sekaligus sumber penghidupan jangka panjang.

Selain fokus pada aspek lingkungan, ACC juga menjalankan program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Pontianak sebagai bagian dari pendekatan CSR berbasis pembangunan ekonomi masyarakat. Program tersebut dilaksanakan guna mendukung potensi produk lokal berbasis sumber daya alam agar mampu berkembang lebih optimal, memiliki daya saing, dan mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompetitif.

Dalam pelaksanaan program tersebut, ACC memberikan dukungan sarana usaha guna menunjang proses produksi UMKM serta bantuan modal usaha sebagai stimulus pengembangan bisnis masyarakat. Dukungan tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pemasaran, dan memperkuat keberlangsungan usaha secara jangka panjang.

Program pemberdayaan UMKM tersebut menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi inklusif yang saat ini semakin didorong oleh berbagai pihak. UMKM dinilai memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi penopang utama perekonomian masyarakat di berbagai daerah.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, integrasi antara pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi masyarakat menjadi pendekatan yang semakin relevan. Program penanaman mangrove yang dibarengi dengan dukungan terhadap UMKM memperlihatkan upaya ACC dalam membangun model CSR yang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi memiliki dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan.

Pengamat lingkungan dan pembangunan sosial menilai bahwa pola CSR seperti ini memiliki dampak yang lebih kuat karena mampu menciptakan hubungan saling mendukung antara konservasi alam dan kesejahteraan masyarakat. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari lingkungan yang terjaga, maka kesadaran untuk menjaga ekosistem secara berkelanjutan akan tumbuh dengan sendirinya.

Baca juga:  Ramai Isu Penyesuaian Iuran JKN, BPJS Kesehatan Beri Klarifikasi Resmi

Kegiatan tersebut juga menjadi gambaran meningkatnya peran dunia usaha dalam mendukung agenda pembangunan hijau di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, isu Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin menjadi perhatian berbagai perusahaan sebagai bagian dari tanggung jawab bisnis modern yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.

ACC sebagai bagian dari grup perusahaan pembiayaan nasional menunjukkan upaya adaptasi terhadap perkembangan tersebut melalui pelaksanaan berbagai program keberlanjutan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan lingkungan. Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat kontribusi sektor swasta dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan nasional.

Pemerintah sendiri terus mendorong keterlibatan sektor swasta dalam mendukung rehabilitasi lingkungan dan pengurangan dampak perubahan iklim. Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi tantangan serius terkait abrasi pantai, kenaikan permukaan air laut, serta kerusakan ekosistem pesisir yang berpotensi memengaruhi jutaan masyarakat yang tinggal di wilayah pantai.

Dalam berbagai kajian lingkungan, rehabilitasi mangrove disebut sebagai salah satu langkah strategis yang memiliki manfaat multidimensi. Selain melindungi garis pantai, mangrove juga membantu meningkatkan kualitas perairan, menjaga keanekaragaman hayati, dan mendukung produktivitas sektor perikanan masyarakat.

Karena itu, program penanaman mangrove yang dilakukan ACC di Sungai Kupah dipandang sebagai kontribusi nyata yang memiliki nilai ekologis tinggi. Keberhasilan program tersebut nantinya sangat bergantung pada keberlanjutan pemeliharaan dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga bibit mangrove agar tumbuh dengan baik.

Dalam kegiatan tersebut, semangat kolaborasi terlihat kuat melalui keterlibatan pemerintah, perusahaan, dan masyarakat lokal. Kolaborasi lintas sektor seperti ini menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks dan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

 

Tidak sedikit pihak berharap kegiatan serupa dapat terus diperluas ke berbagai wilayah lain di Indonesia, khususnya kawasan pesisir yang mengalami kerusakan lingkungan cukup serius. Dengan semakin banyak perusahaan yang terlibat aktif dalam rehabilitasi lingkungan, maka upaya pemulihan ekosistem dapat berjalan lebih cepat dan memberikan dampak luas bagi masyarakat.

 

Bagi masyarakat Desa Sungai Kupah, kegiatan tersebut bukan hanya menghadirkan tambahan ribuan pohon mangrove, tetapi juga membawa harapan baru terhadap masa depan kawasan pesisir yang lebih lestari, produktif, dan mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Program CSR yang dijalankan ACC melalui penanaman mangrove dan pemberdayaan UMKM akhirnya menjadi gambaran bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya konsep global yang dibicarakan dalam forum internasional, melainkan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan lingkungan di tingkat lokal.

Melalui langkah tersebut, ACC tidak hanya memperlihatkan kepedulian terhadap isu lingkungan, tetapi juga mempertegas posisi dunia usaha sebagai mitra strategis dalam menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 

(kontributor sulut, Wahyudi barik/ Rilis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *