Peringatan Hari Lahir Pancasila, CEP; Momentum Memperkuat Persatuan Dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika

Sulut, transparansiindonesia.co.id – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila.

Dan sesuai dengan keputusan presiden nomor 24 tahun 2016 dan SKB 3 Menteri, maka tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Ditahun 2026 ini, peringatan Hari Lahir Pancasila mengangkat tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”

Peringatan Hari Lahir Pancasila, diperingati dengan ditandai melalui pelaksanaan upacara bendera diberbagai instansi pemerintah, swasta, satuan pendidikan hingga perusahaan.

Anggota Komisi VI DPR-RI dari fraksi partai Golkar, DR (HC). Christiany Eugenia Paruntu SE., S.Th., MA mengatakan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 haruslah benar-benar dimaknai oleh setiap insan Indonesia.

Lahirnya Pancasila merupakan tonggak sejarah, karena Pancasila menjadi dasar negara kesatuan republik indonesia.

Sesuai dengan tema yang diangkat, Christiany Eugenia Paruntu berharap semangat persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika haruslah dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, CEP mengajak warga negara Indonesia di momentum peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 untuk dapat memperkuat semangat persatuan, menjaga keberagaman dan kerukunan, serta dapat mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat Pancasila sebagai pemersatu bangsa saat ini diuji bukan hanya oleh perbedaan politik atau identitas, tetapi juga oleh cara masyarakat berinteraksi di ruang digital.

Baca juga:  CEP Dan Hashim Djojohadikusumo Dukung Penuh Perayaan Paskah Nasional 2026 Di Manado

Maka dari itu, CEP mengingatkan agar ditengah arus informasi dan digital yang semakin pesat, masyarakat dituntut harus lebih jeli dalam menerima setiap informasi agar tidak mudah terprovokasi yang berpotensi merusak semangat persatuan bangsa.

“Kalau ruang digital dipenuhi narasi kebencian, fitnah, dan saling serang, yang rusak bukan cuma citra pemerintah, tapi juga rasa percaya antar warga,” jelas CEP.

Menurut legislator senayan dari Dapil Sulut tersebut bahwa tema Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan bangsa tidak cukup hanya lewat slogan, melainkan harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial.

Lanjutnya, masyarakat kini hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat, tetapi tidak semuanya benar.

Maka dalam situasi tersebut, Pancasila menjadi sangat penting sebagai fondasi etika bersama agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh provokasi dan disinformasi.

Indonesia saat ini memiliki sekitar 229 juta pengguna internet. Menurutnya, masyarakat menghadapi fenomena post-truth, ketika emosi dan opini sering kali lebih dipercaya dibanding fakta.

Karena sering terjadi dilapangan dan menjadi fakta adalah terkadang yang menjadi viral lebih dipercaya daripada yang benar.

Dan yang menjadi tantangan terbesar saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan menjaga akal sehat dan persatuan di tengah kebisingan ruang digital.

Baca juga:  CEP Pimpin Jajaran Partai Golkar Sulut Ibadah Natal Bersama Anak-anak Panti Asuhan Wale Ne Oki

Lanjut CEP mengatakan, semangat ‘Pancasila Pemersatu Bangsa’ menjadi relevan ketika masyarakat semakin mudah terbelah hanya karena potongan video, judul provokatif, atau informasi yang belum terverifikasi.

Dan ‘Fondasi Perdamaian Dunia’ juga berkaitan dengan citra Indonesia dimata dunia, untuk aktif dalam menjaga perdamaian dunia sesuai dengan isi pembukaan UUD 1945.

CEP menambahkan saat ini Indonesia memiliki modal besar sebagai negara demokrasi yang plural dan relatif damai, namun, reputasi itu harus dijaga melalui komunikasi publik yang sehat dan sikap masyarakat yang mampu menghargai perbedaan.

“Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni, agar tidak sekedar seremoni tahunan, akan tetapi menjadi momentum untuk kita dapat menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila, dalam semangat persatuan, semangat gotong royong, toleransi, dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” kata Christiany Eugenia Paruntu.

“Menjaga Pancasila, bisa kita dimulai dari tindakan sederhana yakni tidak mudah percaya hoaks, tidak menyebarkan ujaran kebencian, dan tetap menghormati perbedaan pendapat. Karena di tengah derasnya arus informasi, persatuan bangsa kini juga ditentukan oleh apa yang dibagikan, dipercaya, dan dipertahankan masyarakat di ruang digital,” tutup CEP. (Hen)*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *