Revli Orelius Mandagie, SE, Nakhoda Baru Pakasaan Matuari Tombulu (PMT)

by -306 views
Pengurus PMT 2017-2022

Siap Menjalin Kemiitraan Dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara Dalam Program Pemberdayaan Potensi Sumber Daya Alam

Pengukuhan Ketua Umum PMT

Jakarta, transparansiindonesia.com – Tombulu, adalah salah satu sub-etnis leluhur Minahasa, disamping ke delapan etnis lainnya: Tonsea, Toulour, Tountemboan, Tonsawang, Pasan, Panosakan, Bantik dan Babontehu. Kerinduan untuk melestarikan, mengangkat dan mempertahankan Bahasa, Seni dan Budaya asal Tombulu, mulai menggema siawal tahun 2013, oleh beberapa warga Kawanua asal Tombulu di Jakarta, antara lain: James H. Anes, Alan Tumiwa, Grace Rorong dan Gibson Kapele.

Kerinduan ini dilanjutkan pertemuan dengan beberapa Pini Sepuh Tombulu, antara lain: J. B. Mamuaya, Hans Mantiri, Tonaas Tua Wangko Papendangan Benny Tengker dan Tonaas Wangko Benny Mamoto, sehingga 14 September 2013, terbentuklah PAKASAAN MATUARI TOMBULU dengan Ketua Umum Edwin O. J. Poluan, dan karena satu dan lain hal, dilanjutkan oleh James H. Anes, selaku Pelaksana Tugas (PLT), sampai tahun 2017. Estafet kepengurusan terus bergulir, dan melalui Musyawarah Anggota pada tanggal 8 April 2017 di Kampus IBM-ASMI, Pulomas, Jakarta, terpilih Revli Orelius Mandagie, SE selaku Ketua Umum, dan ditempat yang sama pada tanggal 18 Juni 2017, dilaksanakan pengukuhan kepengurusan periode 2017-2022.

Pengurus PMT 2017-2022

Pemberdayaan & Potensi Sulawesi Utara

Ketua Umum PMT terpilih, Revli Orelius Mandagie, SE., yang juga Ketua Bidang Lingkungan Hidup & Kemaritiman Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), yang dilantik bersama pengurus lainnya, dengan Angelica Tengker selau Ketua Umum KKK, pada tanggal 8 April 2017 di Plaza BAPINDO, Jakarta, langsung melakukan gebrakan yaitu pada tanggal 11 s/d 14 Mei 2017, bersama Team Kecil, untuk melakukan survei secara langsung ke beberapa tempat obyek destinasi wisata di Sulawesi Utara yaitu: Manado Tua, Bunaken, Tangkoko, Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa’Dior Tompaso,  Rurukan, Bukit Tatempangan Koha; untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyusunan program kerja PMT dalam kemitraan dengan KKK, sesuai dengan arahan Ketua Umum, Angelica Tengker.

Baca juga:  Usai Pertemuan di Slipi Golkar Demokrat Sepakat Bangun Koalisi Besar untuk Pilkada 9 Desember di 33 Daerah

Kesimpulan Hasil Survei

  1. Pulau-pulau yang ada di wilayah pantai Manado, bagian Barat, antara lain: Manado Tua, Bunaken, Siladen, Gangga, dll., perlu perhatian Pemerintah Daerah, baik Pemprov. Sulawesi Utara dan Pemkot. Manado.
  2. Dalam rangka investasi, diantara pulau-pulau ini memiliki potensi untuk dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus, sehingga perlu pengkajian mendalam, agar mampu mengundang investor dalam dan luar negeri agar tertarik melakukan relokasi industri ke wilayah Provinsi Sulawesi Utara, karena poosisi letak geografis yang sangat strategis.
  3. Bunaken yang kesehor sebagai Taman Laut, masih perlu pembenahan secara menyeluruh, terutama terumbuh karang yang semakin pudar sehingga harus dilestarikan. Sarana dan prasarana serta infrastruktur masih sangat minim, sehingga perlu terobosan untuk perbaikan ataupun melengkapi sehingga menarik minat pengunjung baik dalam dan luar negeri sehingga tidak kalah bersaing dengan daerah lain semisal: Bali, Lombok, Raja Ampat, dll.
  4. Tangkoko, sebagao obyek wisata alam dan cagar alam, perlu pembenahan, terutama memberantas pungutan liar dalm bentuk apapun yang sangat merugikan nama baik Pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara.
  5. Papan penunjuk arah diberbagai tempat, persimpangan, dan obyek wisata, harus jelas terbaca.
  6. Pantai pasir putih yang membentangi bibir pantai disekitar Batu Putih, memiliki potensi untuk pengembangan sebagai destinasi wisata, kolaborasi dengan sumber daya kemaritiman, semisal penangkapan ikan laut, dll.
  7. Kerja sama dengan Yayasan Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa’Dior di Tompaso, sangat penting sehingga potensi Kebudayaan yang sudah tersedia, perlu untuk dijagan dan dipelihara.
  8. Perlu pengkajian lebih lanjut prospek kerajinan minuman beralkohol Cap Tikus.
  9. Perlu jalin kerja sama dengan Bukit Paralayang, Koha, Minahasa, untuk agenda yang berhubungan dengan olah raga Paralayang, mengikitsertakan pagelaran Seni & Budaya.Lokal.

Saran-saran

  1. Dalam rangka menghadapi persaingan globalisasi, upaya untuk menarik investor dari dalam dan luar negeri untuk relokasi usaha di Sulawesi Utara, maka kegiatan-kegiatan Konferensi bertaraf Internasional dan atau nasional perlu diadakan secara rutin, setidaknya memindahkan event sejenis yang selama ini dilaksanakan di Bali.
  2. Sejalan dengan itu, maka kesiapan sarana, prasarana dan infrastruktur disegala bidang harus menjadi skala prioritas, setidaknya untuk memberikan kenyamanan.
  3. Meningkatkan sumber daya manusia yang profesional, terutama untuk anstisipasi kepuasan para masyarakat, daya tarik para pelaku bisnis sehingga perlu tindakan nyata dari Pemerintah Daerah melalui Kantor Dinas terkait untuk melakukan sosialisasi secara rutin dan berkesinambungan tentang layanan “hospotality” .
  4. Pemberantasan berbagai bentuk pungutan liar (pungli) dalam bentuk apapun.
  5. Meningkatkan kegiatan penanaman pohon secara massal, sebagai upaya untuk mengatasi penggundulan hutan untuk menahan dan mencegah bahaya banjir bandang seperti yang pernah terjadi beberapa tahun ini.
  6. Melaksanakan berbagai kegiatan dengan melibatkan masyarakat, yaitu kegiatan penanaman pohon sepanjang jalan Ring Road Manado, dan pembersihan pantai sekitar Teluk Manado dan pesisir pantai Bunaken.
Baca juga:  Kapolda Banten Irjen pol Dr Rudy Heriyanto Adi Nugroho S.H.,M.H.,M.B.A : Bahwa Sertijab Kali Ini Berbeda Dari Biasanya Dikarenakan Masih Berada Dimasa Pandemi Covid-19

Legenda Tombulu

Keturunan Toar dan Lumimuut di beri bekal dan petunjuk untuk mendatangi beberapa wilayah di seluruh tanah Malesung. Lambat-laun semakin menyebar hingga membentuk komunitas yang di sebut Pakasaan atau sub-etnik, hingga menjadi  banyak keturunan hingga tanak-teranak, menyebar dan membentuk wanua-wanua,  setelah itu membentuk walak-walak. Pakasaan Tombulu di sebut sebagai wilayah Tu’ur in Tanah, karena letak geografisnya dan asal-muasal pertama datang leluhur Tou Minahasa  serta di perkuat dengan adanya gunung Tuhan yang mereka sebut gunung Empung, tempat mendapatkan Ilham atau petunjuk dari Tuhan Sang Pencipta. Malesung berganti nama Minaesa, Maesa, Mahasa hingga sekarang menjadi Minahasa.

Pakasaan Tombulu, melalui beberapa Pemimpin (Tonaas), membentuk walak-walak dan wanua-wanua, sbb.:

  1. Tonaas Tumbelwoto, Tumani walak Sarongsong.
  2. Tonaas Mokoagow, Tumani Mu’ung dan Kamasi hingga membentuk Tomohon
  3. Tonaas Lokon Mangundap, Tumani Wanua Woloan.
  4. Tonaas Ka’awoan, Tumani Tombariri
  5. Tonaas Dotu Lolong lasut dan
  6. Tonaas Ruru Tumani Wenang dan Ares membentuk walak Ares atau kota Manado.
  7. Tonaas Alow, TumaniKali & Kalawat, sekarang menjadi Kalawat Maumbi.
  8. Tonaas Kondoy dan
  9. Tonaas Wangko Saumanan, Tumani Kalawat Kaleosan dan menjadi Wanua Ure, sekarang Komo Luar.
  10. Tonaas Kalengkongan, Tumani Likupang

Jakarta, 18 Juni 2017

PAKASAAN MA’TUARI TOMBULU, JABODETABEK

DECKY S. TIWOW/SEKRETARIS JENDERAL

 

(red)