Begini Tanggapan Kementerian BUMN Terkait Beredarnya Rekaman Percakapan Antara Rini Sumarno dan Dirut PLN

by -211 views

Jakarta, transparansiindonesia.com — Beredarnya rekaman percakapan antara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dengan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir rupanya membuat gerah pemerintah.

Kementrian BUMN menyebut rekaman itu sengaja diedit sedemikian rupa dengan tujuan memberikan informasi yang salah dan menyesatkan. Karena itulah, mereka menegaskan bahwa percakapan tersebut bukan membahas tentang ‘bagi-bagi fee’  sebagaimana yang  digambarkan dalam penggalan rekaman suara tersebut.

Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto Putro membenarkan bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir melakukan diskusi itu. Diskusi tersebut mengenai rencana investasi proyek penyediaan energi yang melibatkan PLN dan Pertamina. Dalam diskusi tersebut, baik Rini maupun Sofyan memiliki tujuan yang sama yaitu memastikan bahwa investasi tersebut memberikan manfaat maksimal bagi PLN dan negara, bukan sebaliknya untuk membebani PLN.

Percakapan utuh yang sebenarnya terjadi ialah membahas upaya Dirut PLN Sofyan Basir dalam memastikan bahwa sebagai syarat untuk PLN ikut serta dalam proyek tersebut adalah PLN harus mendapatkan porsi saham yang signifikan. Sehingga PLN memiliki kontrol dalam menilai kelayakannya, baik kelayakan terhadap PLN sebagai calon pengguna utama, maupun sebagai pemilik proyek itu sendiri.

Dalam perbincangan yang dilakukan pada tahun lalu itu pun Menteri Rini secara tegas mengungkapkan bahwa hal yang utama ialah BUMN dapat berperan maksimal dalam setiap proyek yang dikerjakan. Sehingga BUMN dapat mandiri dalam mengerjakan proyek dengan penguasaan teknologi dan keahlian yang mumpuni.

Baca juga:  Kunker ke Bali, KSAD Disambut Tarian Amerta Sri Buana

Proyek penyediaan energi ini pada akhirnya tidak terealisasi karena memang belum diyakini dapat memberikan keuntungan optimal, baik untuk Pertamina maupun PLN.

“Kami tegaskan kembali bahwa pembicaraan utuh tersebut isinya sejalan dengan tugas Menteri BUMN untuk memastikan bahwa seluruh BUMN dijalankan dengan dasar Good Corporate Governance (GCG),” kata Imam di Solo, Sabtu (29/04/2018).

Sementara itu, terkait dengan penyebaran dan pengeditan rekaman pembicaraan yang jelas dilakukan dengan tujuan untuk menyebarkan informasi yang salah dan menyesatkan kepada masyarakat, Kementerian BUMN akan mengambil upaya hukum untuk mengungkap pembuat serta penyebar informasi menyesatkan tersebut.

Menteri BUMN Rini Soemarno
Dirut PLN Sofyan Basir

Sebelumnya, percakapan tersebut diunggah di akun instagram @jokerpolitik dalam bentuk vidio yang kemudian diisi suara rekaman tersebut.

“Admin abis sholat Jumat mau pergi jauh, jangan tanya kemana, pokoknya admin bawa baju tiga setel sama Sempak dua lembar,” demikian caption akun tersebut.

Usut punya usut, akun instagram @om_gadun adalah yang pertama kali mengunggahnya dengan caption ‘Dashyaaatttt…!!!! Mau kelanjutanhya? Om butuh 1000 likes #MafiaMigas #RIwayatpertaminakiNI’.

Dalam pembicaraan via udara itu, keduanya menyebut nama ‘Pak Ari’ yang entah merujuk kepada siapa.

Baca juga:  Jaksa Agung Lantik Sekretaris Jampidum dan Sejumlah Pejabat Esellon II di Lingkungan Kejagung-RI

Dalam rekaman tersebut, disinggung pula soal Pertamina dan PLN.

Berikut sebagian rekaman telepon diduga Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir:

Sofyan: Saya juga kaget kan Bu, saya mau cerita ke Ibu, beliau (Pak Ari) kan panggil saya, pagi kemarin kan saya baru pulang

Rini: Yang penting ginilah, sudahlah, kan yang harus ambil kan dua, Pertamina sama PLN

Sofyan: Betul

Rini: Ya, dua-duanya punya saham lah Pak, begitu

Sofyan: Waktu itu saya ketemu Pak Ari juga, Bu. Saya bilang ‘Pak Ari mohon maaf, masalah share ini kita duduk lagi lah, Pak Ari

Rini: Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama-sama Pak Sofyan

Sofyan: Saya kemarin bertahan, Bu, kan beliau ngotot. ‘Kamu gimana sih, Sof?’ Lho kan, Pak, kalo enggak ada PLN kan Bapak enggak ada juga tuh buat bisnis

Sofyan: Kan saya ketemu Pak Ari juga, Bu

Rini: Menurut saya banyak yang nerusin, cuma saya bilang sama kakak saya yang satunya, biasanya kalau dia sudah enggak mau ngomong, saya ngomong sama yang satunya supaya nyambung ke sana gitu kan. (red/TI)*