Demokrat vs Gerindra, Dalam Episode Baru Pilpres 2019

by -228 views

Jakarta ,transparansiindonesia.com – Detik-detik akhir menjelang penentuan calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto semakin memanas. Prabowo dikabarkan tidak memilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai pendamping dalam Pilpres 2019.

Inilah yang membuat perseteruan dua jenderal yang menjadi ketua umum partai untuk memperebutkan jatah pada pilpres mendatang. Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum Demokrat versus Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Partai Gerindra ribut besar.

Keduanya saling menuduh dan mengeluarkan pernyataan yang dinilai memicu perseteruan. Partai Demokrat melalui wakil sekretaris jenderal Andi Arief dalam cuitan akun twitternya menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus. Sementara Gerindra lewat Sekretaris Jenderalnya Arif Poyuono balik menyerang Demokrat dengan menyebut SBY jenderal baper (bawa perasaan).

Andi Arief melalui akun twitter menuliskan Prabowo jenderal kardus. “Prabowo ternyata kardus, malam ini kami menolak kedatangannya ke kuningan. Bahkan keinginan dia menjelaskan lewat surat sudah tak perlu lagi. Prabowo lebih menghargai uang ketimbang perjuangan. Jendral kardus,” tulis Andi Arief dalam akun twitter @AndiArief.

Bahkan Andi Arief menyebut Prabowo jenderal kardus punya kualitas buruk. “Jenderal Kardus punya kualitas buruk, kemarin sore bertemu Ketum Demokrat dengan janji manis perjuangan. Belum dua puluh empat jam mentalnya jatuh ditubruk uang sandi uno untuk mengentertain PAN dan PKS,” kata Arief.

Baca juga:  Turangan; "Cari Pemimpin Yang Tajam ke Atas Namun Peduli ke Bawah"

Karena itu, Arief menganggap malam ini malam berharga buat Demokrat dan Gerindra. “Partai Demokrat tidak alami kecocokan karena Prabowo dalam menentukan cawapresnya dengan menunjuk orang yang mampu membayar PKS dan PAN. Ini bukan DNA

Namun pernyataan Andi Arief dibantah oleh Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Arif Poyuono bahwa cuitan Andi Arief dalam akun twitternya itu ditulis dalam kondisi sedang hilang kesadaran. Bahkan Poyuono balik menyebut SBY sebagai jenderal baper.

“Kalau Prabowo jenderal kardus, SBY itu jenderal ‘baper’ (bawa perasaan), tukang ngeluh,” kata Arief seperti dikutip media di Jakarta.

Poyuono mengatakan Andi Arief tak mengerti tentang dinamika pilpres. Istilah ‘jenderal kardus’, kata Poyuono, justru lebih tepat disematkan kepada SBY. “Kardus-kardus koruptor itu justru di Demokrat, lihat siapa yang korupsi paling banyak, Demokrat,” kata Arief.

Bahkan tuduhan Andi Arief juga dibantah Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN. Zulkifli dalam penyataannya kepada wartawan mengatakan pernyataan Andi Arief terkait uang sogokan Rp 500 Miliar ke PAN adalah sampah dan fitnah.

Baca juga:  Ini Target 1000 Relawan Nurdin Abdullah di Palopo

Ketua Progres 98, Faizal Assegaf dalam akun twitternya menyebut ini perseteruan dua jenderal. Jenderal (purn) SBY dan Letjen (Purn) Prabowo Subianto. Dua jenderal ini kala masih aktif di TNI juga sempat konflik. Jenderal SBY-lah yang memecat Jenderal Prabowo Subianto.

“Malam ini Prabowo & SBY ribut besar, semoga kedua mantan jenderal tsb tdk saling baku tembak & lempar granat. Ngeri!” tulisnya di akun @faizalassegaf, Rabu, 8 Agustus 2018.

Faizal juga menyebut berpalingnya Prabowo dari AHY disebabkan bisikan Amien Rais. “Bisikn maut pk Amien Rais ke Prabowo bikin SBY gigit jari, gagal jadikn AHY sbg bocah ajaib. Jangankan alam nyata, alam gaib pun tak nerimo AHY jd Cawapres,” tulisnya.

Faizal juga mendukung Polri atau KPK untuk mengusut dugaan suap Sandiaga Uno kepada PAN dan PKS sebesar Rp 500 Miliar. “Sebaiknya KPK atau Polri sgr meminta keterangan resmi dari Wagub DKI @sandiuno terkait dugaan mahar politik 500 M buat PKS & PAN. Sbb pd Pilgub DKI, terungkap Sandiaga Uno kucurkan dana kampanye seratus miliar lebih. Kini modus serupa dimainkan lagi, perlu transparan,” tulisnya

(red/TI)*