Wartawan Nasrani Banten Gelar Diskusi dengan Tema ‘Merebut Massa Mengambang’

by -377 views

Jakarta, transpaparansiindonesia.co.id -/Kelompok Milenial banyak diterjemahkan sebagai ceruk massa mengambang pada Pileg 2019 yang akan datang jumlah mereka cukup banyak diperkirakan mencapai 14 Juta pemilih. Tidak heran hampir semua partai politik akan menyasar dan menjadikan terget untuk mendulang perolehan suara partai mereka. Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Propinsi Banten menggelar diskusi untuk menggali berbagai informasi dan strategi merebut perolehan suara dari kelompok milenial dengan topik “Merebut Massa Mengambang” bertempat di Pasta Kangen Café, Gading Serpong, Tangerang Selatan, Propinsi Banten (Jumat, 9 November 2018). Para narasumber yang dihadirkan : Hendrik Setiawan (CALEG PSI DPRD Prov Banten, Dapil , Hasudungan Manurung SH,MH (CALEG PSI Dapil Tangerang Selatan) Anthony Maruli Purba SH (Ketua DPW MUKI Banten), Dony Susanto S.Th (Ketua DPA GBI Banten) dengan moderator Luke Luther Kembaren.

Hendrik Setiawan (CALEG PSI DPRD Tingkat I, Propinsi Banten, Dapil 3), memaparkan bahwa dari 13 Kecamatan di Dapil 3, ada 900rb pemegang hak pilih. Hendrik berlatarbelakang sebagai seorang profesional di bidang bisnis. Fokus utama Hendrik adalah membenahi pembuatan perizinan bisnis di Propinsi Banten yang terksesan masih menganut system “Wani Piro?”. Pembenahan ini diperlukan agar semakin memperluas ruang usaha di Banten, sehingga peluang penyerapan tenaga kerja juga akan semakin besar.

“Saya termotivasi dengan pak Ahok. ‘Kalau kita mau membuat perubahan hanya ada dua pilihan, yaitu kita terjun ke dalam system atau mendukung orang lain yang akan membenahi system.’. Visinya membuat Banten untuk menjadi lebih baik. Misinya di Banten adalah memangkas alur serapan aspirasi dari masyarakat untu dibawa langsung ke tingkat DPR maupun pemerintahan, sehingga solusi yang tepat dapat segera diberikan untuk masyarakat Banten. Misi berikutnya adalah melakukan pengawasan penerapan kebijakan di Banten. Kemudian melakukan pembenahan inftrastruktur di daerah dengan menggunakan dana reses, seperti yang diatur di dalam Undang-Undang.

Hendrik mengakui bahwa pendekatan ke massa mengambang pastilah tidak mudah. Namun Hendrik percaya jika pendekatan dilakukan menggunakan hati, maka akan selalu ada jalan. Yang harus didukung juga adalah bagaimana membangunkan spirit wirausaha dari generasi muda.

Baca juga:  Gubernur Olly Dondokambey Tinjau Langsung Vaksinasi di Pulau Talise

Hasudungan Manurung SH,MH (CALEG PSI Dapil Tangerang Selatan). Perhatian Hasudungan mengarah kepada generasi millennial, di mana mereka adalah bagian dari massa mengambang. Menurut Hasudungan, di saat masa bonus demografi seperti saat ini umat Kristen harus
ikut menjawab tantangan yang sedang dihadapi oleh generasi millenial. Di mana
permasalahan utama yang dihadapi mereka terkait lapangan pekerjaan, biaya nikah, hingga kualitas pengetahuan yang memiliki hubungan erat dengan daya saring dan serap mereka terhadap kemajuan teknologi informasi.

Hasudungan melanjutkan “Setiap warga negara berhak mendapatkan perlakuan yang setara, adil, dan tidak diskriminatif. Termasuk hak dalam memperoleh pekerjaan, pendidikan, hingga hak untuk membela negaranya. Hal ini dijamin oleh Undang-Undang Nah nilai-nilai inilahyang juga harus ikut menjadi perhatian dari warga gereja”. Gereja juga tidak boleh merasa tabu mendorong kader-kader muda mereka untuk terjun ke dunia politik dan membawa perubahan di sana. Terkait perjuangan melawan intoleransi dan diskriminasi, kader-kader Kristen harus berani untuk masuk ke dalam system dan menciptakan perubahan dari dalam. Hasudungan tak menampik bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah bagaimana cara agar namanya dikenal. Namun dia meyakini kalau pemegang hak suara akan memilih berdasarkan karya-karya apa saja yang telah dibuat para CALEG. Terlepas apa pun pilihan politiknya, Hasudungan menegaskan bahwa suara Kristen harus tetap bulat untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan umat.

Anthony Maruli Purba SH (Ketua DPW MUKI Banten) memaparkan butuh sebuah keberanian luar biasa untuk maju sebagai CALEG. Ini harus kita apresiasi. Anggota MUKI Banten rata-rata berlatarbelakang gembala sidang gereja. Masukan Anthony: Saat ini tantangannya adalah bagaimana cara agar anak-anak muda ini mendapatkan akses informasi terkait Pemilu itu sendiri maupun program kerja dari para calon wakil rakyat. “Sikap MUKI saat ini adalah netral. Yang harus dikejar saat ini adalah suara yang pasti. Untuk apa kita memperebutkan suara yang masih mengambang?” Menyuarakan dukungan untuk mendukung CALEG memang dilarang jika dilakukan dari
mimbar. Namun bukan berarti dukungan dari warga gereja tidak bisa didapatkan. Maka tinggal kembali kepada model pendekatan yang akan dilakukan oleh para CALEG Kristen di Propinsi Banten. “Apa pun yang akan kita perbuat, perbuatlah seperti untuk memuliakan nama Tuhan.” ungkapnya.

Baca juga:  Moment HUT KKK ke-47, Angelica Tengker; Terus Pelihara Persaudaraan Dimanapun Berada"

Dony Susanto S.Th (Ketua Departemen Pemuda dan Anak GBI wilayah Banten) memaparkan bahwa  potensi anak-anak muda GBI di Banten: “Kalau dari 260 GBI di Banten ada 10 saja anakmuda yang memiliki hak suara, maka ada 2600 suara pemilih dari GBI di Banten.” Sementara, di GBI wilayah Banten sendiri jumlah pemuda yang ibadah bisa mencapai 100an orang setiap minggunya. “Bapak ibu bisa bayangkan ada berapa pemegang hak suara dari pemuda GBI di Banten? Ini baru dari GBI, apalagi kalau digabungkan potensi dari gereja-gereja lainny (Reform,Pentekosta, dan lainnya).”

Dony melanjutkan “2030 adalah masa ledakan populasi di Indonesia. Usia pemilih pemula di bawah usia 40 tahun ada sekitar 80 sampai 100 juta jiwa. “Ini adalah potensi yang sangat besar untuk dilirik. Artinya suara dari pemuda ini tidak bisa dianggap remeh. Bicara anak muda, maka bicara tentang kreativitas. Gaya-gaya kampanye konvensional sudah tidak laku untuk diterapkan lagi. Generasi millennial sudah tidak tertarik dengan pengerahan massa di lapangan. Tetapi lebih ke arah komunitas, kafe-kafe dan media sosial. Generasi muda itu kritis namun logis. Maka bisa dibilang generasi pemilih sekarang sangatlah cerdas dan tidak mudah termakan janji kampanye.

Generasi muda juga tidak ragu dalam melontarkan kritik terhadap program-program yang berjalan lamban dan tidak tepat sasaran. Yang harus disadari oleh para CALEG adalah, apakah mereka sudah memaksimalkan penggunaan media sosial? Yang harus menjadi perhatian dari para CALEG terhadap keberadaan kaum muda di Banten adalah akses mendapatkan pekerjaan bagi mereka. Sehingga margin pengangguran bisa ditekan. Perhatian berikutnya harus diarahkan adalah peningkatan kualitas anak-anak muda Banten melalui dunia pendidikan. “Sekali lagi, anak-anak muda ini sangat berpikir logis. Kalau menghedaki mereka tidak apatis, maka harus ada bukti nyata yang diberikan untuk mereka.”

(red)*