Mengangkat Tema ‘Kejarlah Damai Sejahtera dan Hidup Saling Membangun’, Pewarna dan Ormas Kristen Lainnya Gelar Natal Nusantara

by -1,135 views

Jakarta, transparansiindonesia.co.id –  Sukacita Natal terus berkumandang walau sudah memasuki Tahun Baru 2019. Semangat sukacita itu adalah momentum atau waktu yang terbaik yang dikendakiNya(Kairos). Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) menggunakan momentum itu mengajak Aras dan Ormas yang berkenan  bersama merayakan sukacita itu untuk memulai sesuatu yang baru memulai tahun baru 2019. Organisasi yang antusias berjalan bersama anatara lain : Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Forum Musyawarah Antar Gereja (FORMAG), Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BAMAGNAS), Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Garda Mencegah Dan Mengobati (GMDM) dan lembaga aras seperti PGI, PGLII, dan PGPI menyelenggarakan perayaan natal bernuansa nusantara. “Kejarlah Damai Sejahtera dan Hidup Saling Membangun” diangkat sebagai tema perayaan yang diadakan di Function Hall Graha Rehobot Ministry, Mall Artha Gading, Jakarta Utara, pada Rabu petang (09/01/2019).

Perayaan natal nusantara diawali dengan ibadah dan pujian yang dipimpin oleh muda-mudi lintas
gereja. Persembahan pujian silih berganti dibawakan oleh STT Sunsugos dan STT Pokok Anggur. Mantan penyanyi cilik Indonesia era 2000-an, Tina Toon, ikut menyumbang suara emasnya di ibadah. Sebelum melayani, Tina sempat berkesaksia dan menuturkan harapannya di hadapan 400-an hadirin yang datang dengan mengenakan pakaian adat, bahwa tahun yang baru mesti diisi dengan sebuah kesungguhan dalam melayani Tuhan. “Mudah-mudahan di tahun ini kita bisa setia melayani lebih lagi untuk Tuhan dan sesama,” ujar Tina sesaat sebelum membawakan pujian berjudul “Hidup Ini Adalah Kesempatan”.

Tina juga berkisah bahwa pertolongan Tuhan begitu dirasakan sepanjang hidupnya. Untuk itulah ia
mengajak hadirin untuk senantiasa berserah kepada penyertaan Tuhan di tahun yang baru ini.
“Baru memasuki tahun 2019 kita tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saya percaya kalau kita telah ditolong oleh Tuhan pada tahun-tahun sebelumnya, maka Tuhan yang sama akan menolong kita di tahun yang baru ini,” ucapnya kembali sebelum melantunkan pujian “Bersama-Mu”, yang diamini oleh para hadirin. Di sela-sela ibadah, sejumlah pimpinan aras, ormas Kristen, perwakilan Kementerian Agama Republik Indonesia maupun gereja turut serta dalam prosesi terang lilin dengan iringan lagu “Malam Kudus” yang dibawakan oleh Clara Panggabean. Di antaranya adalah perwakilan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Haposan Sianturi dan Pdt. Dantje Wulur yang mewakili Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI). Untuk PGLII diwakilkan oleh Pdt. R.B. Rory. Sedangkan dari MUKI, diwakili langsung oleh Ketua Umum Djasarmen Purba. Ikut dalam prosesi itu pula Pdt. Brigjen (Purn) Harsanto Adi yang mewakili API serta Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono. Sementara itu untuk gereja, diwakili oleh Ketua Sinode Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Pdt. Erastus Sabdono. Dari GMDM, diwakili oleh Pdt. Jeffry Tambayong.

Baca juga:  Jokowi Diperbolehkan Gunakan Pesawat Kepresidenan Saat Kampanye Pilpres 2019

Kotbah atau refleksi natal kemudian dibawakan oleh Pendeta Erastus Sabdono. Pdt. Erastus memberi
penekanan kepada tema yang diangkat oleh PEWARNA Indonesia dengan ormas Kristen dalam perayaan natal bersama kali ini, yang membahas seputar hidup dalam damai sejahtera dan membangun di dalam Tuhan. “Saya kira tema-tema seperti ini merupakan tema yang tidak asing. Jujur memang mudah kita menyusun redaksional kalimat tema dan subtema. Seringkali tema datang tidak menambah dan pulang tidak mengurangi. Tidak ada pertanggung jawaban terhadap tema-tema yang diusung, yang disusun seindah-indahnya. Terdengarlah serohani-rohaninya. Apakah kita sungguh-sungguh berkomitmen untuk mengejar damai sejahtera dan hidup untuk membangun?” tanyanya. Secara mendalam Pdt. Erastus juga mengurai tentang hidup yang berkenan di dalam Tuhan. Dengan tegas ia menggaris bawahi, bahwa mustahil untuk mencapai sebuah kedamaian tanpa melalui cara-cara yang dikehendaki Tuhan, yakni sebuah kerinduan untuk hidup dengan berkaca pada karakter-Nya. “Tidak mungkin kita memiliki damai Tuhan kalau kita tidak memiliki karakter-Nya,” tegasnya.

Pendeta Erastus kemudian ikut mengingatkan agar pewarta Kristen, khususnya PEWARNA Indonesia
menyadari salah satu tugas perannya dalam membangun umat melalui pewartaan. Meski pun,
lanjutnya, pewarta sendiri kerap diperhadapkan dengan kondisi yang penuh keterbatasan. Dalam
konteks natal, Pdt. Erastus berkata, bahwa tempatnya selalu terbuka untuk digunakan oleh umat yang
memiliki kerinduan memuji nama Tuhan. “PEWARNA harus memiliki peran, sebab tulisanmu bisa lebih tajam dari khotbah pendeta di mimbar. PEWARNA harus cerdas dan berhikmat. Saya mengerti kondisi mereka, sebab beberapa kali saya bersama mereka dalam beberapa kesempatan. Saya mengatakan, gunakanlah tempat ini sebab tempat ini merupakan rumah Tuhan,” ujarnya menyemangati awak PEWARNA Indonesia.

Baca juga:  H.Abdul Halim Mencari Keadilan, Rontokkan Mafia Tanah Cakung

Menjelang penghujung ibadah natal nusantara, putri dari Pdt. Erastus Sabdono yakni Stephanie Erastus melengkapi rangkaian puji-pujian malam itu dengan membawakan lantunan “Hanya Satu Kerinduanku”, dan dilanjutkan dengan ajakan untuk memerangi peredaran gelap narkoba melalui lagu yang dibawakan oleh GMDM, dengan dipimpin Pastor Jeffry Tambayong. Rangkaian ibadah natal nusantara yang diselenggarakan PEWARNA Indonesia bekerja sama dengan lembaga aras dan ormas Kristen kemudian diakhiri dengan doa bagi persatuan bangsa.

Puncak Perayaan Natal diakhiri dengan manortor bersama ormas MUKI dengan menyanyikan lagu Arbab.

(red)*