Sulut, transparansiindonesia.co.id — Hingga Triwulan 2019 Direktur Utama (Dirut) Bank SulutGo (BSG) Jeffry Dendeng mencatat total kredit macet mencapai hampir 90 miliar rupiah.
Jumlah kerugian ini disebabkan adanya pinjaman yang terlambat dibayarkan dan pemindahan RKUD di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).
“Seharusnya laba kita tahun ini sudah mendekati 100 miliar rupiah tapi karena ada cadangan yang disebabkan kredit macet itu kurang lebih ada 89 miliar hampir 90 miliar rupiah,” kata dia ketika dihubungi kawanuainside.com Sabtu (3/5).
Angka rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BSG sendiri saat ini tercatat sebesar 4,45 persen, meningkat dari 1,38 persen dibandingkan Maret 2018.
Kondisi NPL ini juga turut mempengaruhi beberapa rasio lainnya seperti return on asset (RoA) dan return on equity (RoE) yang harus tergelincir.
Dia menambahkan bank pelat merah itu tidak bisa mencapai target yang sudah ditetapkan.
Selain itu, untuk meminimalisir kerugian BSK akibat kredit macet, Dendeng menyebut BSG sudah bekerjasama dengan kejaksaan untuk “mengejar” dana tersebut.
“Kami sudah bekerjasama dengan kejaksaan dan sudah ada beberapa yang mengembalikan” kata Jefry.
Dia berharap dalam waktu 7-8 bulan ke depan, total kerugian akibat kredit macet bisa dikembalikan nasabah ke ‘Torang pe Bank’ ini.
Sementara untuk laba BSG per Maret 2019 hanya di angka sekisar 8 miliar rupiah.
“Per Maret 2019, laba BSG Rp 8 miliar. Ada penurunan laba. Salah satunya karena adanya penarikan RKUD dari Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow (Pemlab Bolmong), yang merupakan pemegang saham. Akibat penarikan RKUD ini, memunculkan kredit macet dari ASN Pemkab Bolmong,” ujar Jeffry.
Lanjut Jeffry, penurunan ini lebih disebabkan karena pembengkakan cadangan kerugian penurunan nilai keuangan (CKPN) akibat meningkatnya kredit bermasalah.
“Angka ini turun jauh dibandingkan torehan laba pada periode yang sama tahun 2018 lalu, di angka 98,85 miliar rupiah,” tuturnya.
(red)*
