“Ketua umum LSM AMTI, Tommy Turangan sebut: Sekolah Jangan Hanya Mengejar Prestasi Akademik, Pembentukan Moral dan Pengawasan Siswa Harus Menjadi Prioritas”.

TRANSPARANSIINDONESIA.CO.ID, PENDIDIKAN, MANADO,- Maraknya peristiwa tawuran antarpelajar, termasuk kasus keributan melibatkan siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Manado, menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan.
Fenomena tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai persoalan kenakalan remaja, melainkan perlu ditempatkan sebagai persoalan pembinaan karakter, pengawasan, lingkungan pergaulan, hingga tanggung jawab bersama dalam melindungi masa depan generasi muda.
Sekolah seharusnya menjadi tempat bagi para pelajar untuk menimba ilmu, mengembangkan keterampilan, membangun kedisiplinan, sekaligus menanamkan nilai moral.
Namun, ketika pelajar justru terlibat dalam aksi saling serang, muncul pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pembinaan karakter, pola pengawasan, serta kemampuan lingkungan pendidikan dalam mencegah konflik sebelum berkembang menjadi kekerasan.
Situasi tersebut menjadi cambuk bagi para kepala sekolah, tenaga pendidik, orang tua, maupun pemangku kepentingan pendidikan di Kota Manado. Persoalan tawuran tidak cukup ditangani setelah kejadian berlangsung. Diperlukan langkah pencegahan secara terencana, berkelanjutan, serta melibatkan berbagai pihak.
Ketua Umum LSM Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia (AMTI), Tommy Turangan, SH, menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan siswa. Menurutnya, pendidikan tidak boleh berhenti pada penyampaian materi pelajaran, pencapaian nilai akademik, maupun penyelesaian administrasi sekolah.
Pembentukan kepribadian, penguatan moral, penanaman tanggung jawab, serta perhatian terhadap kondisi psikososial siswa harus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Tawuran Pelajar Menjadi Peringatan Serius bagi Kepala Sekolah
Keterlibatan pelajar dalam tawuran merupakan persoalan serius karena dampaknya dapat meluas, mulai dari ancaman keselamatan, gangguan kegiatan belajar mengajar, kerusakan hubungan antarsekolah, hingga kemungkinan berhadapan dengan proses hukum apabila ditemukan unsur pelanggaran.
Bagi siswa, satu tindakan kekerasan dapat membawa konsekuensi panjang. Masa depan pendidikan, hubungan keluarga, kesempatan mengembangkan keterampilan, hingga kepercayaan masyarakat dapat ikut terdampak.
Karena itu, setiap peristiwa tawuran harus menjadi bahan evaluasi bagi institusi pendidikan. Kepala sekolah perlu memastikan bahwa kebijakan pembinaan tidak sekadar tertulis dalam tata tertib, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Peringatan keras bagi dunia pendidikan bukan berarti seluruh tanggung jawab atas tindakan siswa harus dibebankan kepada sekolah. Namun, institusi pendidikan memiliki peran penting dalam membangun lingkungan belajar aman, mengenali potensi konflik, menanamkan kedisiplinan, serta menyediakan mekanisme penanganan masalah secara tepat.
Kepala sekolah juga perlu memastikan bahwa setiap laporan mengenai ancaman, intimidasi, perselisihan, maupun rencana tawuran ditindaklanjuti secara serius.
Jangan sampai persoalan kecil antarpelajar dibiarkan berkembang, kemudian baru mendapat perhatian setelah terjadi bentrokan yang membahayakan keselamatan.
Tommy Turangan: Sekolah Jangan Hanya Terpaku pada Pembelajaran Formal
Tommy Turangan menegaskan bahwa kepala sekolah perlu memperluas perhatian dari sekadar pencapaian akademik menuju pemahaman terhadap kehidupan pribadi siswa.
Menurutnya, setiap pelajar memiliki latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan, pengalaman hidup, serta persoalan pribadi berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut perlu dipahami secara bijaksana agar pembinaan dapat dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
“Seorang kepala sekolah jangan hanya terpaku pada konsep formal pembelajaran. Kepala sekolah harus menggali lebih dalam kondisi mental dan kehidupan pribadi siswa. Cari tahu apa latar belakang kehidupannya, bagaimana kondisi di rumah, siapa saja yang tinggal bersama siswa tersebut, serta bagaimana hubungan antara orang tua dengan anak,” ujar Turangan, kepada awak media.
Ia menilai pendekatan pendidikan tidak cukup dilakukan melalui teguran, hukuman, maupun pemanggilan siswa setelah terjadi pelanggaran.
Sekolah perlu membangun komunikasi dengan peserta didik agar mereka merasa memiliki ruang aman untuk menyampaikan persoalan, tekanan pergaulan, maupun konflik yang sedang dihadapi.
Menurut Turangan, pemahaman terhadap latar belakang siswa bukan dimaksudkan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Sebaliknya, langkah tersebut diperlukan agar akar persoalan dapat dikenali dan ditangani secara tepat.
Siswa yang terlibat tawuran harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Namun, proses pembinaan juga perlu mencari tahu faktor pemicu, pola pergaulan, serta kemungkinan adanya intimidasi atau konflik sebelumnya.
“Jangan sampai sekolah hanya mengetahui siswa ketika mereka hadir di ruang kelas, kemudian memberikan sanksi setelah terjadi masalah. Pendidikan harus menyentuh kehidupan mereka, membangun kedekatan, serta menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi,” tegasnya.
Turangan mengingatkan bahwa kepala sekolah memegang peran strategis dalam menciptakan budaya pendidikan yang disiplin, manusiawi, serta berorientasi pada pembentukan karakter.
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti Perlu Diperkuat
Dalam pandangan AMTI, pendidikan karakter harus menjadi perhatian utama dalam upaya mencegah kekerasan antarpelajar.
Pembelajaran ilmu pengetahuan dan keterampilan memang penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi masa depan. Namun, kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan pembentukan sikap, pengendalian diri, rasa hormat, tanggung jawab, serta kemampuan menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan.
Turangan menekankan pentingnya penguatan pendidikan agama dan budi pekerti sebagai bagian dari pembinaan moral siswa.
Nilai-nilai keagamaan, menurutnya, perlu diterapkan dalam perilaku nyata, bukan hanya dipelajari untuk memenuhi tuntutan kurikulum atau memperoleh nilai rapor.
Sikap menghormati sesama, menjaga ucapan, menghindari penghinaan, tidak melakukan perundungan, serta mampu menahan diri ketika menghadapi provokasi merupakan bagian dari karakter yang harus dibangun secara konsisten.
“Pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai akademik seorang siswa. Anak-anak juga harus dibekali moral, akhlak, kedisiplinan, serta kemampuan mengendalikan diri. Ilmu pengetahuan harus berjalan bersama pembentukan budi pekerti,” menjadi penekanan dalam pandangan Turangan mengenai pentingnya pendidikan karakter.
Ia mendorong pihak sekolah mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran agama dan budi pekerti, termasuk bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam keseharian siswa.
Pembinaan moral tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, nasihat sesaat, atau penyampaian teori di dalam kelas. Nilai-nilai tersebut perlu diperkuat melalui keteladanan guru, budaya sekolah, kegiatan pembiasaan positif, serta penerapan aturan secara adil.
Di sisi lain, pendidikan karakter harus menghormati keberagaman keyakinan peserta didik. Penguatan moral dapat dilakukan melalui nilai universal, seperti kejujuran, kepedulian, penghormatan terhadap sesama, tanggung jawab, dan penolakan terhadap kekerasan.
Pengawasan Siswa Tidak Boleh Berhenti di Gerbang Sekolah
Salah satu aspek penting dalam pencegahan tawuran adalah pengawasan terhadap aktivitas serta pergaulan siswa.
Turangan mengingatkan bahwa perhatian sekolah terhadap keselamatan peserta didik tidak semestinya hanya berlangsung selama jam pelajaran.
Meski demikian, pengawasan di luar lingkungan sekolah perlu dilakukan melalui koordinasi bersama orang tua, wali murid, serta pihak terkait, dengan tetap memperhatikan batas kewenangan sekolah dan hak privasi anak.
Pihak sekolah dapat membangun sistem komunikasi dengan keluarga, memetakan potensi konflik antarkelompok pelajar, serta menyusun prosedur pelaporan apabila ditemukan indikasi rencana tawuran.
Pengawasan juga perlu diarahkan pada titik-titik rawan di sekitar sekolah, jalur kepulangan siswa, maupun lokasi berkumpulnya pelajar apabila terdapat informasi konkret mengenai potensi gangguan keamanan.
“Jangan hanya aktif mengawasi ketika siswa berada di dalam sekolah. Setelah kegiatan belajar selesai, komunikasi dengan orang tua dan perhatian terhadap keselamatan anak tetap diperlukan. Sekolah harus membangun koordinasi agar potensi konflik dapat diketahui lebih awal,” demikian penekanan Turangan mengenai pentingnya pengawasan berkelanjutan.
Namun, upaya tersebut tidak berarti sekolah harus mengawasi setiap aktivitas pribadi siswa sepanjang waktu. Tanggung jawab perlindungan anak perlu dijalankan secara proporsional, melalui kerja sama yang jelas antara sekolah, keluarga, masyarakat, serta aparat berwenang.
Pengawasan yang baik bukan sekadar memperketat larangan, melainkan menciptakan sistem komunikasi yang memungkinkan siswa melaporkan ancaman atau konflik tanpa takut dipermalukan maupun mendapat perlakuan tidak adil.
Orang Tua Tidak Boleh Melepaskan Tanggung Jawab Pendidikan
Persoalan tawuran juga menuntut keterlibatan aktif keluarga. Pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di sekolah, sebab rumah merupakan lingkungan utama bagi anak untuk mengenal nilai, kedisiplinan, empati, serta cara menghadapi perbedaan.
Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak, mengetahui lingkungan pergaulannya, serta memperhatikan perubahan perilaku yang berpotensi menunjukkan adanya persoalan.
Perubahan seperti sering terlibat konflik, membawa benda berbahaya, menerima ancaman, atau menunjukkan ketakutan terhadap kelompok tertentu perlu ditanggapi secara bijaksana.
Akan tetapi, perubahan perilaku tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seorang siswa akan melakukan kekerasan. Diperlukan komunikasi, pemeriksaan fakta, serta pendekatan yang tidak menghakimi.
Turangan mendorong sekolah menjadikan orang tua sebagai mitra pembinaan, bukan sekadar pihak yang dipanggil ketika anak melakukan pelanggaran.
Pertemuan orang tua dan guru perlu diarahkan pada pembahasan perkembangan karakter, keselamatan siswa, kedisiplinan, serta penyelesaian persoalan yang mungkin muncul dalam pergaulan.
Sinergi sekolah dan keluarga menjadi penting agar pesan pendidikan yang diterima siswa tidak saling bertentangan.
Jangan Biarkan Konflik Kecil Berkembang Menjadi Tawuran
Tawuran antarpelajar kerap melibatkan rangkaian persoalan yang perlu ditelusuri secara cermat. Perselisihan pribadi, provokasi di media sosial, ejekan, perundungan, maupun konflik antarkelompok dapat menjadi faktor pemicu dalam kasus tertentu.
Namun, penyebab setiap peristiwa tidak dapat disamaratakan. Penelusuran harus didasarkan pada keterangan saksi, bukti, serta hasil pemeriksaan pihak berwenang.
Sekolah perlu memiliki mekanisme penyelesaian konflik yang cepat, adil, dan tidak mempermalukan siswa.
Ketika muncul perselisihan, guru bimbingan dan konseling dapat melakukan pendekatan kepada pihak-pihak terkait, memfasilitasi dialog apabila aman, serta melibatkan orang tua sesuai kebutuhan.
Jika terdapat ancaman kekerasan atau risiko keselamatan, langkah perlindungan harus didahulukan. Mediasi tidak boleh dipaksakan kepada korban intimidasi atau digunakan untuk menutupi pelanggaran serius.
AMTI menilai pencegahan harus dilakukan sebelum konflik berkembang menjadi aksi kekerasan. Karena itu, kepala sekolah perlu memastikan laporan siswa ditanggapi, informasi ancaman ditindaklanjuti, serta koordinasi dengan pihak berwenang dilakukan ketika situasi membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Evaluasi Pembinaan Jangan Berhenti pada Pemberian Sanksi
Setiap kasus tawuran membutuhkan penanganan yang tegas, tetapi sanksi semata tidak cukup untuk mencegah peristiwa serupa terulang.
Sekolah perlu melakukan evaluasi terhadap efektivitas tata tertib, sistem pengawasan, layanan bimbingan konseling, serta pola komunikasi dengan orang tua.
Sanksi terhadap siswa harus mempertimbangkan tingkat keterlibatan, fakta kejadian, aturan yang berlaku, serta hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan.
Pihak sekolah perlu membedakan siswa yang menjadi korban, pihak yang terlibat langsung dalam kekerasan, mereka yang melakukan provokasi, maupun siswa yang berada di lokasi tanpa melakukan tindakan kekerasan.
Pembedaan tersebut penting agar penanganan tidak dilakukan secara serampangan dan tidak menjatuhkan hukuman kolektif kepada seluruh siswa dari satu sekolah.
Bagi siswa yang terbukti melakukan pelanggaran, proses disiplin harus disertai pembinaan, pendampingan, serta langkah pencegahan agar perilaku serupa tidak berulang.
Sementara itu, korban perlu memperoleh perlindungan dan dukungan agar dapat kembali mengikuti kegiatan belajar dengan aman.
Kepala Sekolah Perlu Membuka Ruang Evaluasi
Sorotan terhadap tawuran pelajar hendaknya menjadi momentum bagi seluruh kepala sekolah di Kota Manado untuk melakukan evaluasi secara terbuka dan bertanggung jawab.
Evaluasi tersebut dapat mencakup beberapa hal mendasar, mulai dari efektivitas pengawasan, penerapan tata tertib, penanganan laporan perundungan, pembinaan karakter, hingga kerja sama dengan orang tua dan lingkungan sekitar.
Sekolah juga perlu memiliki prosedur yang jelas ketika menghadapi ancaman tawuran, termasuk siapa yang bertanggung jawab menghubungi orang tua, bagaimana melindungi siswa, serta kapan aparat berwenang perlu dilibatkan.
Keterbukaan terhadap evaluasi bukan berarti mengakui kegagalan tanpa pemeriksaan. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab institusi pendidikan untuk memastikan keselamatan dan kualitas pembelajaran.
Apabila ditemukan kelemahan dalam sistem pembinaan, perbaikan harus dilakukan secara konkret, terukur, serta dapat dievaluasi kembali.
AMTI Dorong Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Aparat
Dalam menyikapi persoalan tawuran pelajar, AMTI mendorong pendekatan bersama yang melibatkan kepala sekolah, guru, orang tua, dinas pendidikan, masyarakat, serta aparat keamanan.
Dinas pendidikan perlu memastikan sekolah memiliki dukungan dan pedoman pencegahan kekerasan yang memadai. Pihak sekolah bertanggung jawab menjalankan pembinaan serta perlindungan siswa sesuai kewenangannya.
Keluarga berperan membangun komunikasi dan pengawasan di rumah, sedangkan masyarakat dapat membantu menciptakan lingkungan pergaulan yang aman.
Aparat keamanan perlu dilibatkan apabila ditemukan ancaman serius, tindak kekerasan, atau dugaan tindak pidana yang membutuhkan penanganan sesuai ketentuan hukum.
Penanganan harus mengutamakan keselamatan anak, menghindari tindakan main hakim sendiri, serta menjaga agar identitas siswa tidak disebarluaskan secara tidak bertanggung jawab.
Bagi AMTI, keberhasilan pencegahan tawuran tidak cukup diukur dari seberapa cepat sekolah menjatuhkan sanksi setelah kejadian. Ukuran penting lainnya adalah kemampuan institusi pendidikan mendeteksi konflik, melindungi siswa, memperbaiki perilaku, serta mencegah kekerasan berulang.
Masa Depan Pelajar Tidak Boleh Dikorbankan
Tawuran pelajar merupakan persoalan serius karena menyangkut keselamatan, proses pendidikan, serta masa depan generasi muda.
Sekolah harus tetap menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar, berkembang, membangun persahabatan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan.
Peringatan keras terhadap dunia pendidikan perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata. Kepala sekolah dituntut memastikan pembinaan karakter berjalan beriringan dengan pembelajaran akademik, sementara orang tua perlu mengambil bagian aktif dalam mendampingi perkembangan anak.
Tommy Turangan menekankan bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya menghasilkan siswa berpengetahuan, tetapi juga pribadi berkarakter, mampu mengendalikan diri, menghargai sesama, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Menurutnya, peristiwa tawuran semestinya menjadi momentum untuk membenahi pola pembinaan, memperkuat komunikasi, dan membangun kembali kesadaran bahwa kekerasan tidak dapat dijadikan jalan keluar dalam menyelesaikan persoalan.
Kini, perhatian seluruh pihak diperlukan agar persoalan tawuran tidak sekadar menjadi pemberitaan sesaat, kemudian kembali terlupakan setelah situasi mereda.
Dunia pendidikan di Kota Manado perlu menjadikan keselamatan, pembentukan karakter, dan perlindungan masa depan siswa sebagai tanggung jawab bersama.
(kontributor sulut, Wahyudi barik)
